Roy menghidupkan ponselnya, mencoba menghubungi istrinya. Padahal ia sudah tahu itu mustahil, tapi ia tetap mengirimkan spam pesan rindunya.
Setelah pingsan dari pekarangan waktu itu, Roy malah terlempar ke dunia lain lagi. Tempat asing yang berisi orang aneh.
Tak disangka ia bertemu dengan Yun. Ratu yang menjadi istrinya di jaman kerajaan waktu itu. Tapi penampilannya sangat berbeda. Warna lensa mata kanannya biru, dan mata satunya ditutup.
"Yun?" Panggil Roy pelan.
"Kamu siapa?" Tanya gadis itu.
"Aku Roy. Aku tersesat di sini." Jawabnya.
"Ah, orang asing lagi. Ayo ikut aku." Yun menyeret Roy ke suatu tempat. Ia menunjuk rumah pohon dengan pemandangan sungai jernih di sekelilingnya. Mengenalkan dunianya.
Terdapat beberapa tanda bertuliskan angka di dekat pohon. Tak hanya itu, ukiran batu di pinggir sungai pun mencuri atensinya.
"Nanti kamu tidur di sini, sama aku dan lainnya." Kata Yun dengan senyuman.
Ia kembali berjalan dan menjelaskan aktivitasnya di sini. Ia menunjuk seseorang yang sedang berburu ikan di sungai. Seseorang yang pernah ia temui juga di dimensi lain. Gadis yang ditunjuk ialah Ken, teman sekelasnya di kelas imajinasi.
"Apa maksud tulisan itu?" Tanya Roy penasaran. Yun mengajaknya duduk di rumput liar.
"Batu itu dibawa oleh orang yang tersesat di sini. Saat dia kembali, batu itu ditinggalkan. Benda itu sama sekali tidak berubah tempat. Akhirnya aku buat tulisan sebagai penanda, karena tulisan itu tidak akan hilang meskipun aku memutar waktu lagi."
Roy merogoh sakunya, ada kitab dan tasbih.
"Aku cuma punya ini." Roy menyerahkannya begitu saja. Yun menerima pemberian Roy.
"Tulisan di batu itu merupakan waktu. Aku memiliki arloji di tanganku. Saat waktu itu tiba, kami menangkap ikan paling besar sedang lewat untuk dikonsumsi."
Roy masih mencerna ucapan Yun.
"Kenapa? Kamu peramal ikan?" Tanya Roy bergurau. Yun sedikit tertawa.
"Enggak, bukan begitu. Tempat ini adalah kurungan waktu. Tidak ada hari esok dan hari kemarin."
Ah yang benar saja, kepala Roy terasa menguap. Namun sesaat ia teringat perkataan di kelas imajinasinya.
Yun melanjutkan ucapannya, "Aku yang menghentikan waktu."
Roy menyimak sembari melihat Ken menangkap ikan.
Sebelum waktu dapat diberhentikan, Yun sempat kehilangan orang di sekelilingnya. Tempatnya hancur karena serangan bom dan senjata api lainnya. Hanya ia seorang yang selamat.
Tanpa diduga, keajaiban datang. Ia mendapat sebuah arloji yang dapat memutar waktu. Orang terdekatnya pun bisa kembali. Tapi, serangan itu pun kembali lagi dan merenggut nyawa mereka.
Akhirnya Yun memutuskan untuk memberhentikan waktu.
"Gimana caranya?" Roy semakin penasaran.
Jam menunjukkan pukul 9.14 pagi.
"Kamu lihat ukiran di batu itu? Ayo kita mendekat." Setelah itu Yun meneriaki Ken dan penghuni lainnya.
9.16, tulisan di batu itu.
Benar saja, saat jam 9.16 ada ikan besar lewat. Mereka pun menangkap ikan besar itu dengan jaring yang dibawa Ken.
Yun pun melangkah menuju pohon mangga, ia memetik sebanyak mungkin sampai keranjang penuh. Lalu ia mengajak Roy ke tempat lain, ada seekor kucing terjepit di selokan. Yen memungut kucing itu dan mengobatinya.
"Apa maksudnya?" Roy masih belum paham.
Yun mengupas mangganya dan memberikan potongan buah pada Roy, "Makan dulu."
"Habiskan, pohon mangga itu tidak akan pernah kehabisan buah."
Ada orang lain selain Ken, yaitu anak laki-laki kesayangannya. John. Sedangkan Ken adalah kakaknya.
Anak itu sedang berlarian mengejar kelinci, bermain dengan binatang lain adalah hobinya.
Kemudian Yun menjelaskan bahwa arlojinya dipasang alarm saat tengah malam. Kalau tidak, ia bisa kebablasan menjalani hari yang terus berjalan. Karena malapetaka itu datang beberapa hari setelah itu.
"Kenapa kamu mundurin waktu nggak yang lama aja? Biar jauh dari tragedi itu." Ucap Roy spontan.
"Buah mangga itu kesukaan kami, dia berbuah sebanyak itu dan matang di hari ini. Ikan besar yang tersesat itu juga di hari ini. Kucing dan kelinci yang menemani anakku juga datang di hari ini. Dan juga ...
... aku menghindari tragedi lainnya di hari sebelum ini."
Berarti Yun sudah memilih hari yang tepat untuk kehidupannya yang kini menjadi indah. Namun perjuangan untuk mempertahankan itu semua, ia harus rela bangun tengah malam untuk memutar arlojinya dan memasangkan alarm lagi.
"Untuk hari ini, jalani aja dulu. Besok kamu akan paham."
Roy menjalani hari ini dengan biasa saja. Hingga keesokan harinya, ia melihat buah mangga berbuah lebat lagi. Aktivitas yang dikerjakan kemarin terulang kembali.
Menangkap ikan, menolong kucing, memetik mangga, mengambil baju yang tersangkut karena terbawa angin.
"Semalam aku ingin nunjukin ke kamu saat muterin waktu, tapi kamu tidurnya nyenyak banget." Ucap Yun.
"Nanti malam ajak aku."
Barang yang dibawa dari luar tempat ini memang tidak ikut terbawa oleh waktu. Roy menyaksikan sendiri ia menggeser batu itu kemarin dan posisinya tetap. Berbeda dengan benda lain yang sudah berpindah tempat, kembali ke asalnya semula.
Tengah malam, Roy turut menyaksikan Yun memutar waktu. Tepat pukul 23.59 gadis itu memutar arlojinya berlawanan jarum jam menjadi pukul 00.01.
Saat itu langit yang disaksikan Roy gelap. Bintang, awan, dan benda langit lainnya bergerak mundur sampai warna senja muncul. Kemudian matahari berpindah dari barat naik ke arah timur, benda di sekitarnya bergerak kembali ke tempat semula. Air sungai bergerak naik ke atas, ikan berenang mundur. Sampai akhirnya langit jadi gelap, waktu menunjukkan 12.01.
Menakjubkan.
"Sana, kembali tidur." Perintah Yun yang juga mengantuk.
Namun, jika dipikir-pikir, kehidupan berulang seperti ini bukankah menyenangkan? Mengingat ketika ia ingin menghabiskan waktu bersama Sel, mereka tak ingin hari esok tiba dengan cepat.
Roy menarik selimutnya, memerhatikan langit dari jendela. Dunia ini penuh dengan misteri, memperlihatkan keajaiban dari Tuhan.
"Orang yang tersesat katamu itu, gimana cara dia kembali?" Tanya Roy penasaran.
"Entah. Dia terlempar begitu saja, pergi tanpa berpamitan. Ninggalin batu aja."
"Siapa emang?"
"Namanya Yin, cewek."
KAMU SEDANG MEMBACA
Photo Box
De TodoRoy dan Sel adalah pasutri yang baru saja menikah, mereka sedang menikmati libur cuti untuk bulan madu di Bali selama seminggu. Banyak tempat yang telah mereka kunjungi di sana. Ketika mereka ingin mengabadikan momen di photo box, mereka harus mengi...
