Fifth Coaches : Meeting

117 6 5
                                        


Pagi hari kembali datang seperti biasanya. Adrian sesegera mungkin mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah. Setelah semua sudah siap, sejenak ia menatap ke arah smartphone miliknya yang terletak di atas kasur sebelum akhirnya mengabilnya dan memasukkannya ke dalam tas. 

Sudah sepekan semenjak ia mengirimkan pesan yang berkaitan dengan Sky Train itu, tapi sampai saat ini pun ia masih belum mendapatkan jawaban dan hal itu membuatnya ragu. Lagipula tidak ada yang bisa menjamin kalau pemilik akun tersebut masih aktif bukan? Mengingat postingan terakhir yang ia unggah adalah dua tahun yang lalu.

***

Hari yang sama kembali ia jalani. Penjelasan monoton dari guru di depan kelasnya itu tidak ia hiraukan, ia lebih senang memperhatikan pemandangan di luar jendela walau yang bisa ia lihat hanyalah bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya. Dan hal itu terus berlanjut hingga bel pertanda bahwa kegiatan belajar mengajar telah usai berbunyi.

Walau waktu pulang sekolah telah tiba, namun Adrian tidak merasa ingin langsung pulang ke rumah. Ia lebih memilih untuk merenungkan hal-hal yang terjadi padanya sampai saat ini di ruang kelas yang kosong. Dan tentu ia menyadari sesuatu yang penting. Suara menyebalkan itu telah menghilang.

Semenjak kecelakaan yang menimpanya sebulan yang lalu, ia tidak lagi mendengar suara kereta api itu lagi dan mimpi aneh yang selama ini ia alami, lenyap tak tersisa.

"Hore! Akhirnya aku menjadi orang normal" - Ingin sekali ia meneriakkan hal itu sekencang-kencangnya jika saja perasaan aneh yang masih menghantuinya itu tidak ada.

Terlalu banyak yang terjadi hingga otaknya kesulitan untuk mencernanya. Ketika Adrian masih sibuk dengan pikirannya yang melayang entah kemana, smartphone miliknya yang berada di atas meja menyala mengeluarkan notifikasi bahwa ia telah menerima pesan.

Dengan malas, ia meraihnya dan membaca notifikasi pesan yang terpampang disana. Raut wajah miliknya pun berubah drastis ketika membaca nama pengirim pesan tersebut. Penantiannya selama sepekan membuahkan hasil ketika pemilik akun tersebut membalas pesan darinya.

"Ya, saya mengalami peristiwa tersebut secara langsung. Apa anda memiliki urusan dengan hal itu?"

Sungguh sopan, itulah yang pertama kali Adrian pikirkan ketika membaca pesan itu. Ia pun tidak membuang waktu untuk segera membalas pesan tersebut. 

"Sebenarnya saya juga mengalami hal yang sama. Apa saya bisa menanyakan beberapa hal kepada Anda?" 

Sembari membereskan seluruh barangnya, Adrian bersiap-siap untuk segera pulang ke rumah. Baru saja kedua kakinya membawa dirinya ke depan gerbang sekolah, smartphone yang ia simpan di saku celananya itu pun kembali berdering menandakan bahwa ada pesan yang masuk. Dan benar saja, pesan itu berasal dari orang yang sama.

"Saya tidak akan terjebak dengan trik murahan itu lagi. Katakan apa yang Anda inginkan."

Adrian sempat terheran-heran ketika ia membaca pesan tersebut. "Trik murahan?"

Ia sadar kalau menceritakan hal gila seperti Sky Train hanya akan membuatmu seperti orang gila di hadapan umum, dan mungkin sesuatu terjadi pada pemilik akun ini hingga ia tak lagi mempercayai orang lain?

Ketika memikirkan hal itu seraya berjalan, Adrian mengingat kalau ia masih memiliki tiket Sky Train yang ia dapatkan dari gadis pirang itu. 

"Apa ini cukup untuk menjadi bukti?" Ucapnya ragu-ragu. 

Adrian lalu memotret tiket itu dengan pesan yang sama dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya. 

"Hei, dimana kau mendapatkan kertas itu?"

Sky Train [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang