Fifteenth Coaches : On the Run

31 2 0
                                        

Di samping meja dan kursi yang telah porak poranda, tengah duduk berlutut dua gadis bersaudara dengan raut wajah yang terlihat ketakutan.

Mereka melirik ke arah meja yang tadinya penuh dengan cangkir teh dan beberapa kudapan lainnya kini hancur berantakan dan bergantian ke gadis yang berdiri di hadapan mereka, yang juga tengah memasang ekspresi murka.

"Jadi? Bisa jelaskan kenapa kalian berdua ada disini?" Tanya gadis itu yang ternyata adalah Livia.

Saat ini Irina dan Elena sedang duduk berlutut di hadapan Livia yang tampak murka. Sedangkan mereka berdua hanya bisa terdiam melihat kemarahan Livia yang meluap-luap.

"Aku sedang bersantai sambil minum teh tadi."

"Dan tiba-tiba seekor beruang dan anaknya jatuh dari langit-langit menghancurkan pesta minum teh kecil-kecilan milikku!"

Irina dan Elena hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mereka tengah diomeli oleh junior mereka sendiri. Dilihat dari sudut pandang manapun, jelas kalau mereka di pihak yang bersalah.

Masih teringat jelas oleb Irina ketika tubuh mereka yang terjatuh itu nyaris menimpa Livia yang sedang dengan santainya tengah meminum teh di area miliknya.

"Haah... Aku akan memasukkan biaya kerusakan domainku ke dalam tagihan kalian nanti," Ucap Livia sambil menghembuskan nafas lelah, pasrah dengan apa yang baru saja terjadi.

"Jadi? Kalian memiliki alasannya kan? Di wilayah ini aku telah memasang penghalang yang cukup kuat dan kau menghancurkannya. Apa yang terjadi?"

Sebelum menjawabnya, kedua gadis itu sempat saling melempar tatap, sebelum akhirnya Irina memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Livia barusan.

"Sebenarnya-"

.

.

.

Livia hanya bisa memegang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa sakit itu, bingung dan heran dengan apa yang baru saja di dengarnya.

"Apa kau gila? Kalian melawannya? Lucas adalah petugas dengan kekuatan diatas rata-rata, mustahil bagi kalian untuk melawannya!"

"Dan juga, mengenai gerbang yang kau ceritakan, apa yang sebenarnya disembunyikan di dalam Sky Train?"

Mendengar penjelasan dari kedua gadis di hadapannya, Livia tidak percaya bahwa mereka benar-benar akan melawan Lucas.

Dan ia tahu, kalau mereka tetap berada disini, maka cepat atau lambat dirinya juga akan ikut terseret ke dalam permasalahan ini, namun ia tidak mengira akan secepat ini.

Disaat mereka bertiga sedang sibuk memikirkan solusi untuk masalah yang saat ini terjadi, anak lelaki yang sedari tadi bersama mereka kini mulai siuman. Dengat berat, ia mulai membawa tubuhnya untuk duduk.

"Adrian! Kau sudah sadar?" Tanya Elena seraya menghampiri lelaki itu ketika menyadari kalau ia telah sadar. "Apa kau baik-baik saja?"

"Apa aku terlihat baik di matamu?" Jawab Adrian sekaligus balik bertanya dengan tatapan monotonnya.

"Yap! Selama kepalamu masih tersambung dengan tubuhmu, kurasa kau baik-baik saja," Jawab Elena dengan santainya.

Irina dan Livia juga ikut menghampiri Adrian yang baru saja siuman.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Irina kali ini.

"Tidak buruk, tapi juga tidak baik. Aku bermimpi sesuatu yang aneh. Mimpi tentang menaiki Sky Train?"

"Secara teknis, saat ini kau sedang bermimpi karena tubuhmu masih ada di dunia nyata, jadi kau bilang habis bermimpi di dalam mimpi?"

"Hei, apa kalian mengenal gadis bermata merah dengan surai hitam? Dia juga bilang kalau dia adalah core Sky Train saat ini," Tanya Adrian tiba-tiba.

Sky Train [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang