"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Gadis yang tak lain adalah Livia tampak sedang berlari-lari di koridor raksasa itu. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Ketika aku membuka mata, waktu seperti telah terputar ulang. Dan si Elena itu! Meninggalkanku begitu saja!" Protes gadis itu tanpa memperlambat kecepatan larinya sedikitpun.
Hingga langkah kedua kakinya berhasil membawanya ke peron stasiun Sentral. Dilihatnya beberapa bagian peron yang porak poranda, terlihat jelas bahwa ada pertempuran yang telah terjadi.
"Aku bisa merasakan sisa kekuatan yang tertinggal. Ini adalah milik Elena dan Lucas."
Livia masih memperhatikan sekitarnya, berusaha mendapatkan petunjuk apapun yang membantunya. Dan ketika ia masih sibuk dengan analisanya, ia merasakan sesuatu yang aneh.
"Kekuatan ini, pasti berasal dari Lucas, dan itu berasal dari...," Gumam Livia sambil menoleh ke asal kekuatan tersebut yang tak jauh darisana, lebih tepatnya di awan.
"Tidak mungkin kan?"
Namun, disaat Livia masih terlihat ragu, seorang gadis kecil terlihat menghampirinya. Seorang gadis kecil dengan surai hitam dan manik merah terlihat berjalan menghampiri Livia yang masih kebingungan.
"Kakak sedang apa?" Tanya gadis itu.
Merasa terpanggil, Livia menoleh ke arah gadis itu yang tidak ia sadari kehadirannya. "Siapa kau?"
Livia tidak mengenal gadis kecil di hadapannya, namun di waktu bersamaan, ia merasa kenal dengannya. Ia merasa seperti telah bertemu dengan teman lama, walau tidak mengenalnya.
"Apa yang dilakukan gadis kecil sepertimu? Kau ... Bukan petugas kan?"
Namun, gadis itu hanya tersenyum, tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari Livia. Dengan tiba-tiba, gadis itu lalu berlari meninggalkan Livia.
"Hei! Tunggu!"
Tanpa sadar, Livia ikut melangkahkan kakiknya berusaha mengerjar gadis kecil itu. Dan tanpa sadar mereka memasuki salah satu rangkaian kereta yang ada disana.
Livia tahu ia tidak memiliki waktu untuk hal ini, teman-temannya membutuhkan bantuannya dengan segera, tapi ia tidak bisa menyingkirkan rasa penasarannya terhadap gadis kecil di hadapannya.
Gadis kecil tampak berhenti sejenak di dalam salah satu gerbong, seakan dengan sengaja beniat agar Livia mengikutinya.
"Hei, kubilang tunggu!" Seru Livia mulai mendekat.
Menyadari Livia yang mendekat, gadis kecil itu kembali melanjutkan langkah kakinya. Gerbong demi gerbong mereka lewati, hingga akhirnya mereka sampai kabin kereta dan akhrinya gadis itu behenti.
"Akhirnya kau berhenti!" Seri livia tampak terengah-engah dan berhenti di belakang gadis kecil itu.
Namun, setelah itu ia tampak terpukau dengan apa yang ada di hadapannya. "Kabin? Tapi terlihat sangat aneh>"
Banyak sekali tombol dan tuas aneh di hadapannya. Kaca kabin yang terlihat miring juga aneh menurut dirinya.
Mengingat Livia yang selalu berada di dalam tanah karena tugasnya sebagai sipir penjara, ia tidak pernah sekalipun menaiki kereta di Sky Train.
Rangkaian kereta terakhir yang ia naiki memiliki lokomotif uap dengan kabin yang jauh lebih kuno dari yang saat ini ia lihat.
"Terlihat lebih modern kan? Kau masih saja berdiam di bawah tanah, jadi tidak mengetahui kedatangan kereta ini," Ucap gadis itu seraya membalikkan tubuh dan menatap manik gadis di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky Train [END]
FantasyPernah kah kau melihat kereta yang melaju di udara? Rumor mengatakan kalau berhasil menaikinya, kau akan mendapatkan kebahagian! Sedangkan yang lainnya mengatakan justru kau akan mendapatkan kesialan! Tidak ada yang pernah melihat wujudnya sehingga...
![Sky Train [END]](https://img.wattpad.com/cover/370955699-64-k565626.jpg)