Second Coaches : Best Friend

200 10 9
                                        

Angin sepoi-sepoi sesekali menerpa rambut coklat milik lelaki itu. Cahaya matahari yang terhalangi oleh kumpulan awan di atas sana membuat hari ini tidak terlalu terik. Di bawah naungan atap kecil pemberhentian bus di pinggir jalan, terduduk seorang anak laki-laki yang tidak lain adalah Adrian.

Terlihat juga sebuah buket bunga kecil di tangan kanannya dan tas selempang yang melingkar di pinggangnya. Saat ini, ia sedang menunggu bus yang akan membawanya ke rumah sakit untuk menjenguk seseorang disana.

Hari ini hari Sabtu. Semenjak pertengkaran mereka berdua dua hari yang lalu, Adrian masih belum berbicara dengan ibunya. Walau sebenarnya ia tidak terlalu peduli juga karena situasi seperti ini sudah sering dia alami semenjak tiga bulan yang lalu, ia sudah terbiasa.

Ketika masih tenggelam dalam pemikirannya sendiri, Adrian dikejutkan oleh suara nyaring klakson kereta yang tiba-tiba terdengar. Kali ini bukan berasal dari kereta ghaib yang selalu menghantuinya, melainkan kereta sungguhan yang sedang singgah di stasiun yang berada di seberang jalan.

Diperhatikannya petugas yang lalu lalang di stasiun, Karena stasiun itu berukuran relatif kecil, Adrian bisa melihat aktivitas dari dalam stasiun dengan kedua matanya langsung. Disana tengah singgah satu rangkaian Kereta Rel Listrik dan satu rangkaian kereta jarak jauh yang ditarik oleh lokomotif diesel elektrik di sebelahnya.

Walaupun ia merasa aneh ketika melihat kereta jarak jauh yang singgah di stasiun kecil. Karena biasanya mereka hanya akan berhenti di stasiun besar kecuali memang ada hal genting yang harus dilakukan hingga membuat kereta harus berhenti di stasiun terdekat, walaupun itu adalah stasiun kecil sekalipun.

Dan untuk alasan yang tidak ia ketahui, masinis dari lokomotif kereta jarak jauh itu kembali membunyikan semboyan 35, sebuah klakson panjang yang bertanda kalau kereta akan segera diberangkatkan.

"Suaranya berbeda," Ucap Adrian ketika lebih memperhatikan suara klakson tersebut.

Adrian kembali teringat dengan suara kereta ghaib yang menerornya belakangan ini. Ia tidak tahu suara itu berasal dari kereta jenis apa, karena masing-masing jenis kereta memiliki suara klakson yang berbeda. Namun, bukan itu yang dimaksud olehnya.

'Suaranya terdengar kosong. Berbeda dengan kereta sialan itu,'

'Suara itu seperti memanggilku, entah kemana.'

Dengan semua yang terjadi padanya belakangan ini, Adrian mulai berpikir kalau tidak mungkin mimpi yang selalu ia dapatkan dan suara kereta ghaib itu tidak ada hubungannya. Ada sesuatu yang membuat mereka saling berkaitan dan ia ingin segera menyelesaikan masalah ini agar bisa kembali mendapatkan masa-masa tenang miliknya.

Disaat Adrian masih sibuk memperhatikan rangkaian kereta jarak jauh yang mulai meninggalkan stasiun itu, ia hampir tertinggal oleh bus yang sedari tadi ia tunggu yang sejak kapan telah berada di hadapannya. Dengan buru-buru, ia segera masuk ke dalam bus.

***

Setelah sekitar lima belas menit menaiki bus, akhirnya Adrian sampai di depan rumah sakit yang menjadi tujuan akhirnya. Langsung saja ia masuki rumah sakit yang ukurannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar itu.

Tujuannya saat ini adalah untuk pergi ke lantai tiga, ruangan 206, tempat dimana pasien yang ingin ia kunjungi berada. Namun, ketika melewati bagian ruang pendaftaran, sebuah siaran berita yang berasal dari televisi kecil di dinding itu menyita perhatiannya.

Ia hentikan langkahnya untuk memperhatikan siaran itu sejenak. Tidak ada suara yang terdengar dari televisi itu, mungkin karena takut mengganggu pengunjung rumah sakit, tapi ia bisa melihat jelas teks judul dari berita tersebut.

Sky Train [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang