First Coaches : Rumour

266 11 11
                                        

Anak lelaki itu mulai membuka kedua matanya secara perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Namun, yang ada di hadapannya saat ini adalah ruangan asing yang sama sekali tidak ia kenal. Pemandangan itu tak kunjung berganti walau ia mengusap-usap kedua matanya tak percaya. Saat ini, ia sedang berada di tengah sebuah ruangan raksasa dengan cat putih yang menyelimuti hampir semua sudutnya.

Walaupun terlihat luas, namun ruangan itu hanya diisi oleh sebuah gerbang raksasa di salah satu sisinya- gerbang yang sangat ia kenali karena sudah berkali-kali ia melihatnya. Anak lelaki itu lalu menghembuskan nafas lelah seakan sudah bosan dengan apa yang dilihatnya saat ini.

'Ah, mimpi ini lagi' - pikir lelaki itu.

Ya, Ini adalah mimpi. Lelaki itu menyadarinya ketika pandangannya tertuju pada gerbang aneh di hadapannya. Gerbang berwarna coklat tua yang dihiasi banyak ukiran misterius yang menambah kesan megah namun mengerikan yang dimilikinya itu selalu muncul di dalam mimpinya. Walaupun tempatnya berbeda, namun gerbang mengerikan itu tidak pernah absen di dalam mimpinya.

Kini gerbang itu tepat berada di hadapannya dan hanya menyisakan jarak beberapa meter. Jika mimpi yang dialaminya saat ini sama dengan yang ia alami sebelumnya, maka yang terjadi setelah ini adalah-

*Tap, tap, tap

Tanpa ia sadari, tubuh miliknya mulai berjalan mendekati gerbang itu. Riak air kian terbentuk di setiap langkah yang diciptakannya membuat kesan bahwa ia benar-benar sedang berjalan di atas air.

Hal ini seperti yang terjadi pada lucid dream, dimana si pemimpi secara bebas bisa mengeksplor mimpi miliknya. Tapi berbeda dengan dirinya, karena yang masih bisa ia kendalikan hanyalah kesadaran dan eskpresinya, ia sama sekali tidak bisa mengendalikan gerak anggota tubuhnya yang lain.

Bersamaan dengan itu, suara derit gerbang yang mulai terbuka di hadapannya ikut terdengar, menampakkan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Wajah-wajah manusia yang mengerikan muncul dari dalam kegelapan, mulut mereka terus bergerak seakan mengatakan sesuatu dengan cairan merah yang mengalir dari kedua mata mereka yang bolong- adegan yang harusnya hanya bisa kau saksikan di film-film horror di televisi.

Ia tahu kalau ia masuk ke dalam sana, tidak akan ada jalan untuk kembali. Namun, walaupun ia sepenuhnya sadar dalam mimpi ini, ia sama sekali tidak memiliki kendali atas tubuhnya. Tangan-tangan hitam mulai keluar dari kegelapan, berusaha menggapai dirinya yang berjalan semakin dekat dengan mereka. Ingin rasanya ia berteriak, namun tidak ada suara yang keluar walau ia membuka mulut. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah dengan apa yang akan terjadi.

"Apa kau yakin ini yang terbaik untukmu?"

Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dalam indra pendengarannya, membuat lelaki itu berhenti melangkah dan menoleh ke arah asal datangnya suara tersebut. Seorang anak perempuan dengan surai coklat sedang berdiri tepat dibelakangnya. Dilihat dari penampilannya, mungkin anak itu berumur sembilan tahunan dengan tinggi hanya sepinggang dari dirinya.

Baru saja ia berpikir kalau ia berhasil merebut kendali atas tubuhnya sendiri, tiba-tiba kedua kakinya kembali melangkah mendekati gerbang di hadapannya.

"Aku masih berpikir kalau waktumu bukan sekarang."

Gadis itu tiba-tiba menarik tangan kanan sang lelaki, membuat dirinya terjungkal ke belakang. Karena ini adalah mimpi, semua bisa terjadi di dalam sini, itulah yang ia pikirkan ketika tubuhnya melayang di udara alih-alih jatuh merasakan kerasnya permukaan tanah.

Tatapannya tertuju kepada iris ruby gadis di hadapannya. Sebuah senyuman mulai mengembang di wajahnya lalu gadis itu kembali membuka mulutnya untuk kembali mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti.

Sky Train [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang