Mini Train #1 : What a Big Boy!

70 4 1
                                        

Apa itu #Mini Train?

Singkatnya, ini adalah seri chapter bonus yang tidak memiliki hubungan apapun dengan cerita utama pada novel. Akan ada beberapa chapter bonus yang tersebar sepanjang cerita ini.

Mini Train = Mirain? Mitrain? Miren? Yg bagus apa ya kira-kira? Kalo nyebut Mini Train kepanjangan ga si?

‼️Peringatan‼️ : Segala sesuatu yang terjadi pada chapter ini tidak memiliki hubungan apapun pada cerita utama. Break time! Jangan terlalu serius, yuk baca chapter bonus ini dulu (⁠*⁠'⁠ω⁠`⁠*⁠).

Adegan ini mengambil bagian akhir dari chapter 6, tepatnya saat Adrian hampir jatuh dari Sky Train yang di naikinya.

***

Ketika Adrian masih berlari, tiba-tiba kereta berjalan miring membuat ia kehilangan keseimbangan dan meluncur ke arah salah satu pintu. Tak sampai disana, pintu itu pun juga terbuka seakan-akan kereta itu sendiri berusaha mengusir Adrian. Sebelum terjun bebas dari kereta, tangan kanan miliknya berhasil memegang ujung lantai kereta. Baru ingin bernafas lega, tiba-tiba Irina datang dan menatap Adrian dari atas kerata.

"Tunggu! Ada yang ingin aku tanyakan," Ucap Adrian buru-buru ketika melihat gadis itu mulai mengangkat sabit miliknya tinggi-tinggi di atas kepalanya.

"Kenapa kau ingin bekerja sebagai pemandu di Sky Train?"

Mendengar pertanyaan itu, gerakan Irina terhenti di udara dan ia sempat terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya "... Karena menyenangkan?"

Adrian hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari Irina. Disatu sisi, ia bahagia bisa mengalihkan perhatian Irina dengan pertanyaan mendadak miliknya. Namun di sisi lain, ia juga terkejut dengan jawaban gadis itu karena jawaban itu bukanlah jawaban yang ia bayangkan.

"Irina..." Panggil Adrian dengan ekspresi yang serius.

Keadaan menjadi sangat sunyi dan hanya menyisakan suara gujes-gujes kereta api. Angin bertiup dengan kencang mengibaskan surai kedua insan yang sedang saling tatap itu, kedua iris mata mereka tampak saling terikat satu sama lain.

Situasi tersebut sama seperti situasi yang terjadi pada film-film aksi yang biasa ditayangkan di bioskop. Biasanya di dalam scene ini, tokoh utama akan mengucapkan sesuatu yang sangat penting pada lawan bicaranya--

"Kau menjadi petugas Sky Train, karena kau suka mencincang orang?"

--setidaknya itu yang harusnya terjadi jika saja Adrian tidak menghancurkannya dengan pertanyaan anehnya.

"Haah?! Aku tidak pernah memiliki hobi seperti itu!"

'Tapi sabitmu selalu siap' - batin Adrian seraya menatap sabit besar di tangan Irina yang tampak mengintimidasi. 

Lelaki itu lalu kembali menatap Irina dengan tatapan tidak percaya yang sama. "Habisnya, kau mengejarku karena ingin mencincangku kan? Aku tidak tahu kau memiliki festish seperti itu."

"Fe--?! Dengar, aku hanya melakukannya padamu!"

Mendegar jawaban dari Irina tersebut, semburat merah muncul di wajah Adrian. Lalu lelaki itu memalingkan sedikit wajahnya ke samping dengan malu-malu. Ketika melihat ekspresi lelaki tersebut, Irina mengerti kalau lelaki itu menyalah artikan ucapannya sehingga wajah Irina juga ikut memerah menjadi semerah apel.

"Ja-jangan nge-blush! Itu karena kau sangat menyebalkan!"

Karena asyik sendiri dengan obrolan absurdnya, mereka benar-benar melupakan fakta bahwa saat ini mereka berada di posisi yang tidak biasa.

Sky Train [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang