Ninth Coaches : Companion

55 4 1
                                        

Secara perlahan, lelaki itu mulai membuka kedua matanya, kesadarannya masih samar setelah kejadian terakhir yang ia ingat: cahaya menyilaukan dan suara jeritan senjata. Namun, apa yang tampak dalam penglihatannya saat ini bukanlah seperti yang ia bayangkan. Ruangan megah yang dipenuhi dengan buku, kini berubah menjadi sebuah ruangan sempit yang gelap.

Ia lalu berusaha bangkit dari posisi tidurannya dengan punggung yang nyeri. Tidak heran, karena di dalam ruangan ini tidak ada kasur, Adrian harus merasakan keras dan dinginnya lantai di tempat itu. Penerangan dalam ruangan ini hanya mengandalkan beberapa obor yang tertancap di dinding lorong.

Setelah melihat jeruji besi yang mengurungnya dalam ruangan ini, kurang lebih Adrian bisa menebak sedang berada dimana ia sekarang. Lelaki itu berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya hingga tiba-tiba sebuah suara terdengar yang tentu saja membuat dirinya sedikit terkejut.

"Kau sudah bangun?"

Adrian segera menoleh ke sumber suara yang ternyata berasal dari seorang gadis dibalik jeruji besi lain di seberang. Walau dengan penerangan yang minim, tapi Adrian tahu kalau gadis itu adalah orang yang sama dengan yang menyerangnya di dalam perpustakaan hanya dengan mendengar suaranya. Gadis itu tampak tengah bersender di dalam selnya dengan kaki yang terlentang.

"Dimana kita sekarang?" Tanya Adrian.

"Penjara bawah tanah."

Setelah gadis itu menjawab pertanyaan Adrian, tidak ada lagi dari mereka yang membuka pembicaraan sehingga keadaan kembali menjadi hening untuk beberapa saat.

"Jadi, kau benar-benar bukan bagian dari mereka?" Tanya gadis itu lagi membuka pembicaraan.

"Bukankah sudah kubilang bukan? Lagipula siapa mereka dan kenapa mereka mengejarmu?"

"Lalu siapa kau? Dan kenapa kau bisa berada disana?" Tanya gadis itu tanpa menjawab pertanyaan Adrian sebelumnya.

"Aku bukan berasal dari dunia ini, aku datang kesini untuk menyelamatkan temanku."

Ada jeda sebentar sebelum ia membalas ucapan Adrian. Dengan terkekeh kecil dan wajah terkejut, ia pun berkata, "Kau adalah penumpang? Serius? Baru pertama kalinya aku melihat ada penumpang yang masih memiliki kesadaran dan menyusup sampai sedalam ini."

Adrian hanya terdiam menanggapi perkataan gadis itu. Ia lalu gantian menanyakan pertanyaan yang ada di dalam benaknya. "Bukankah sudah waktunya kau memperkenalkan diri?"

"Wajahmu sangat mirip dengan gadis bernama Irina yang kutemui, tapi kau bukan dia kan? Karaktermu terlalu berbeda dengannya."

Gadis itu lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jeruji besi yang mengurungnya. Kini Adrian dapat melihat dengan jelas penampilan gadis yang sedari tadi mengobrol dengannya  ketika cahaya obor menerangi sebagian wajahnya. Ia memiliki surai pirang yang sama dengan Irina, tapi bedanya miliknya tidak digerai melainkan di kuncir kuda.

Selain itu, iris berwarna hijau miliknya tampak kontras dengan iris biru milik Irina. Mereka berdua memang sangatlah mirip, layaknya anak kembar, namun jika kau teliti, kau bisa menemukan detail kecil yang membedakannya.

"Wajah kami memang mirip karena kami saudara. Aku adalah Elena, adik dari gadis bernama Irina yang kau temui."

Yap, sesuai dugaan dirinya, mereka berdua adalah saudara. Jadi, bukan salah Adrian jika ia salah membedakan mereka berdua saat di perpustakaan tadi. Selain penampilan, Adrian sadar kalau ada hal lain yang membedakan dua gadis tersebut. Dan itu adalah kepribadian mereka.

"Hei, aku punya ide. Bagaimana kalau kita bekerja sama? Kau ingin menyelamatkan temanmu, sedangkan aku ingin menyelidiki Sky Train lebih dalam. Tujuan kita tumpang tindih, yaitu pergi ke aula."

Sky Train [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang