"Cepat pergi dan cari tempat sembunyi jika kau tidak ingin mati," Ucap Elena seraya terus menatap ke arah gadis yang ada di hadapannya.
Walau Elena tidak menoleh ke arahnya, tapi Adrian tahu kalau gadis itu sedang berbicara dengannya. Lelaki itu tampak ragu untuk sesaat, sebelum akhirnya mundur ke belakang dan bersembunyi di salah satu bebatuan yang ada disana.
"Jangan mati ya, Elena!" Seru Adrian seraya berlari menjauh dari gadis itu.
"Aku tidak akan kalah dari juniorku sendiri!" Jawab Elena dengan lantang.
Setelah Adrian pergi bersembunyi, kini hanya menyisakan dua gadis tersebut disana. Suasana sangat hening sebelum akhirnya gadis bernama Livia itu memulai pembicaraan.
"Senior Elena, kau benar-benar akan melakukan rencana konyol itu?" Tanya Livia ke gadis yang ada di hadapannya itu.
"Aku tidak ingat kalau aku pernah memberi tahu apa yang kulakukan adalah konyol."
"Kalau begitu, aku yang akan menghentikanmu."
Tiba-tiba, dari ketiadaan di sampingnya, sebuah pedang panjang muncul disana. Segera saja Livia ambil pedang itu dan menghunuskannya ke arah Elena.
Ketika Elena masih fokus memperhatikan musuh di hadapannya, disaat itu juga ia sadar kalau ia sudah masuk ke dalam ilusi buatan Livia ketika tubuh di hadapannya menghilang dengan instant.
Elena panik memperhatikan sekitar dan dengan mengandalkan instingnya, ia berhasil menepis serangan yang berasal dari kanan dan mengincar kepalanya.
*Trang!
Dentuman keras terdengar ketika dua logam beradu dengan kencang yang bahkan sempat mengeluarkan percikan api.
"Lumayan juga, senior. Selama ini tidak ada yang bisa menangkis seranganku, selain kau dan senior Irina."
"Kau benar. Kapan terakhir kita melakukan sparring ya?" Tanya Elena sambil memberikan senyum canggungnya.
Tahu kalau serangannya berhasil di tangkis, Livia lalu melompat ke belakang dan membuat jarak. Memperhatikan gerak-gerik Elena untuk melakukan serangan berikutnya.
Walaupun berusaha untuk tetap cool, Elena sendiri sebenarnya kesulitan untuk menepis serangan dari juniornya itu.
Ketika akan melancarkan serangan berikutnya, Elena yang tidak bisa menahan rasa penasarannya itu melontarkan pertanyaan.
"Hei, Livia. Kenapa kau menyebut rencanaku konyol? Bukankah di awal kau yang paling mendukung rencanaku itu?"
Belum menjawab pertanyaan dari Elena, tubuh Livia kembali hilang dari pandangan dan kembali membuat ia waspada. Ditambah dengan pencahayaan gua yang remang-remang, akan bertambah sulit baginya untuk melawan Livia yang sudah terbiasa dengan hal itu.
"Kau benar, senior. Aku dulu memang mendukung rencanamu itu."
Kali ini hanya terdengar suara Livia yang menggema, namun Elena masih belum bisa menemukan dimana keberadaan gadis itu.
"Tapi sekarang aku sadar, kalau membelot melawan Sky Train adalah sesuatu yang mustahil!"
Tiba-tiba dari ketiadaan, datang serangan dari Livia yang berikutnya berhasil ditangkis oleh Elena. Namun, berbeda dari pola serangan sebelumnya, kali ini banyak pedang lain yang ikut muncul di udara.
Menyadari hal itu, Elena segera melompat ke atas berusaha menghindar tepat sebelum pedang-pedang itu meluncur dengan cepat ke arahnya.
"Hei, senior Elena. Apa yang membuatmu yakin kita bisa membelot melawan Sky Train jika kita mengikuti rencanamu?" Tanya balik Livia seraya menatap tajam Elena di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky Train [END]
FantasíaPernah kah kau melihat kereta yang melaju di udara? Rumor mengatakan kalau berhasil menaikinya, kau akan mendapatkan kebahagian! Sedangkan yang lainnya mengatakan justru kau akan mendapatkan kesialan! Tidak ada yang pernah melihat wujudnya sehingga...
![Sky Train [END]](https://img.wattpad.com/cover/370955699-64-k565626.jpg)