10. thank u

303 42 3
                                        


Happy reading 🤍 🤍










Sekitar pukul 7 pagi. Seluruh anggota inti berkumpul di markas mereka. Semuanya tampak sedih, karena hari ini anggota mereka akan pergi dalam waktu yang cukup lama. "Gue pamit. Kalian jaga diri baik-baik." Seutas senyuman manis muncul di wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya anggota Inti bisa melihat kembali senyuman manis itu.

"Hati-hati di jalan. Sampai sana kabarin kita. Sering-sering juga buat nimbrung." Timpal San. Ujung mata cowok itu kini mulai sedikit berair.

"Sat, cepetan balik. Kita semua bakal rindu lo." Imbuh Hesyam. Satrio tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Jangan lupain kita ber-enam!" Imbuh Juna seraya merapikan dasi Satrio. "Gak akan. Gue pamit, kalian jaga diri baik-baik." Satrio mulai berjalan keluar diikuti anggota lainnya.

"Bang, kalau ada sesuatu kabarin kita ya? Gue bakal rindu lo, Bang..." Ucap Raka memeluk Satrio untuk terakhir kalinya. Dalam pelukan hangat itu, Raka menangis tersedu-sedu tidak bisa melepaskan Satrio. Seluruh anggota Inti ikut menangis lalu memeluk erat saudaranya itu.

"Udah, Satrio bisa ketinggalan pesawat nanti." Ujar Juna yang mengedarkan pelukan seraya mengusap air matanya.

Perlahan satu per satu anggota Inti melepaskan pelukan hangat mereka. "Bang, nanti pulang gue titip oleh-oleh yaa. Banyak kalau bisa," Ucap Raka yang membuat terkekeh pelan.

"Tadi aja lo nangis-nangis nggak mau ngelepas Satrio pergi, ini malah minta oleh-oleh" Heran Dika

"terserah gue" Jawab Raka yang kembali membuat Inti terkekeh.

Setelah berpamitan, Satrio keluar dari markas diikuti oleh Inti. Di luar sana sudah ada taxi yang menunggu nya. "Biar gue masukin koper lo." Raka dengan sigap mengambil koper Satrio yang ia tinggalkan di luar. Cowok itu mulai memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

"Hati-hati Sat!!" Seru Jefry seraya melambaikan tangannya. "Iya!!"

"Hati-hati di jalan, Sat. Kita ber enam bakal rindu lo."

.
.

Satrio kini sampai di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Cowok itu mulai turun dari mobil seraya membawa kopernya. "Disaat seperti ini pun, gue sendiri.." Satrio tersenyum tipis. Cowok itu mulai berjalan ke depan. Hingga dia menemukan sebuah tempat duduk. Ia mulai beristirahat sejenak seraya menunggu jam penerbangannya.

Satrio mengambil paspor dari dalam saku bajunya. "Gue yakin, harapan itu pasti ada." Seutas senyuman mucul.

📢 Perhatian, kepada seluruh penumpang. Pesawat dengan tujuan Jakarta Amerika akan segera berangkat. Diharapkan kepada seluruh penumpang untuk segera menuju ke pesawat. Terimakasih..

"Gue beneran bakal pergi?"

Satrio bangun dari tempat duduknya. "Selamat tinggal." Ia mulai berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang.

****

Bugh

"Lo apain adek gue!!!"  Satu pukulan keras mendarat diwajah Tama. Cowok yang sudah tidak bisa berdiri lagi, hanya bisa mengeram kesakitan.

"JAWAB!! LO APAIN ADEK GUE!!!" Nafas Hesyam mulai memburu mencari udara segar. Matanya terus tertuju pada Tama. "JAWAB!!!" Hesyam menarik kerah baju cowok itu kuat-kuat. "Awas kalau Raka kenapa-kenapa. Lo bakal mati." Hesyam mendorong tubuh Tama yang sudah lemas ke belakang.

"Adek lo, bakal mati..!!"

"BRENGSEK!!!!!"

Bugh

Bugh

Bugh

....

Di dalam ruangan putih abu-abu. Satu orang tengah terbaring di ranjang kasur rumah sakit. Sudah 2 jam berlalu, tapi keadaan Raka masih sama.

Seluruh anggota Inti hanya bisa mendoakan Raka agar bisa cepat sadar dan pulih seperti semula. "Hesyam mana?" Celetuk Juna yang dari tadi tidak melihat Hesyam sama sekali. "Gue gak yakin feeling gue bener atau salah, tapi.. kayaknya dia lagi berantem?" Ujar Dika

"Kenapa lo pada gak becus mantau Hesyam sih?! Harusnya kalian selain mantau Raka kalian juga harus mantau Hesyam." Nada bicara Juna menjadi sedikit tinggi.

"Kenapa lo jadi salahin kita?? Salah kita dimana?? Emang salah kalau kita lebih perhatiin Raka??" Balas Dika yang ikut emosi.

"Karena itu tugas kalian! Kalian selain perhatiin Raka, kalian juga harus perhatiin Hesyam. Kalian tau sendiri gimana Bang Hesyam. Kalian harusnya perhatiin dia juga."

"Jun, kenapa lo jadi marah gini sih? Yang dikatain Dika bener loh. Lo gak boleh salahin kita. Emang gue akuin kita salah karena gak perhatiin Hesyam, tapi cara lo ini juga salah."

"Cara gue gak ada yang salah. Kalian doang yang gak becus jaga amanah."

"Maksud lo bilang gitu apa, Jun??! Kita gak becus jaga amanah? Kalau gitu, lo gak becus jadi ketua!"

"Ya! Gue emang gak becus jadi ketua!"

"Jun.."

Suasana menjadi hening sebentar. "Gue emang gak becus jadi ketua kalian. Maaf, kalau gue gak bisa jadi panutan buat kalian." Juna merendah suaranya. Cowok itu menunduk kebawah menatap lantai rumah sakit. "B-bukan gitu maksud gu--"

"Gue, butuh sendiri." Juna meninggal ruangan dengan rasa penyesalan. "Jun.." lirih San yang ingin menangis.

"Dik, lo kayaknya udah keterlaluan deh.. harusnya lo diem aja, lo tau kan Juna lagi emosional akhir-akhir ini," ujar San seraya menepuk-nepuk bahu Dika.















Bersambung...






Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini!!! Votement guysss🤍🤍🤍




Sorry for TYPO ⚠️

7 KEHIDUPAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang