Jangan lupa tap bintang dan tinggalkan pesan dikolom komentar🤍🤍
HAPPY READING
"Satrio?"
Juna membalikkan badannya kala melihat pantulan wajah Satrio yang tengah berdiri dibelakang nya. Cowok berjaket hitam dengan kaos atasan putih itu tersenyum kearah Juna.
Juna yang terkejut melihat kepulangan Satrio tanpa kabar itu tersenyum. Cowok itu segera berjalan menghampiri Satrio, lalu memeluknya erat. Rindu 3 tahun itu akhirnya terobati. Sahabat yang pergi meninggalkan tanah airnya itu kembali.
"Sejak kapan lo balik ke indo?" Tanya Juna memudarkan pelukannya.
Satrio tersenyum tipis, "dua hari lalu."
"Kenapa lo nggak bilang-bilang? Tau gitu gue sama anak lainnya nyusul jemput lo di bandara."
"Jun, gue denger hubungan..." Satrio menjada ucapannya.
"inti rusak? kenapa lo nggak ngomong ke gue, Jun? Gue juga bagian Inti." Lanjutnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Juna yang mendengar ucapan Satrio itu hanya terdiam. Senyumannya memudar mendengarnya. Juna menunduk, tidak bisa menatap mata Satrio. "itu...gue nggak tahu harus ngomong apa, Sat. Sebagai ketua, gue, gue merasa gagal."
Satrio mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak terlalu emosional. "Jun, ada masalah apa?"
Juna masih terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Satrio. Satrio memahami bahwa Juna masih belum siap untuk membicarakan hal itu.
Satrio meletakkan tangan di bahu Juna. "Kalau lo belum siap, jangan cerita dulu. Gue bisa ngerti perasaan lo gimana." Satrio tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk bahu Juna.
Walau rasa ingin tahunya begitu mendalam, Satrio juga harus paham dengan keadaan yang Juna alami.
Juna menatap Satrio, mata mereka bertemu dalam kesadaran yang mendalam. Satrio melihat kesedihan dan keraguan di mata Juna, dan dia tahu bahwa dia harus menjadi pendengar yang baik.
"Kalau lo udah siap cerita semuanya, kasih tahu gue. Apa yang buat inti bisa hancur." kata Satrio
Juna menghela napas dalam-dalam. "Kalau gue kasih tau kebenarannya, apa lo bakal salahin gue? apa lo akan jauhin gue seperti anak yang lain? Di mata mereka, gue yang salah, sat."
Satrio terdiam sejenak. Matanya memandang Juna penuh pertanyaan. Apa yang dia maksud dari ucapannya tadi.
"Maksud lo apa, Jun? Gue nggak ngerti sama sekali. Apa kesalahan yang lo buat sampai Inti jadi benci dengan ketuanya sendiri?" Ucap Satrio menatap wajah Juna.
"Lebih baik, lo nggak usah tau, Sat. Gue juga yakin, Lo akan sama bencinya dengan yang lain. Buktinya, sekarang gue sendirian di sini."
"Siapa yang bilang lo sendiri?!" Satrio meninggikan suaranya.
"Gue di sini. Lo nggak sendirian, Jun. Masih ada gue, dan yang lain. Kenapa lo bisa punya pikiran itu? Yang lain masih peduli dengan ketuanya."
Juna tersenyum tipis. "Sat, lo kesini cuman mau tau hancurnya Inti kan?" Tanya Juna dengan tatapan aneh.
"Sini gue kasih tau, apa yang buat Inti hancur seperti ini." Juna mendekatkan wajahnya ke telinga Satrio. "Karena gue." Bisiknya yang membuat Satrio membulatkan matanya dengan sempurna.
"Benar, itu semua karena gue. Karena gue NGGAK BECUS JADI KETUA!!" Bentak Juna mulai emosional.
"IYA SAT. GUE NGGAK BECUS JADI KETUA! Semuanya salah gue, harusnya gue nggak ada dalam bagian Inti. Harusnya gue nggak di sini."
..
"Jun, tolong jagain Clara sebentar. Gue mau ke toilet bentar," Ucap Dika disertai seringai.
"Emang gue tempat penitipan orang? seenaknya aja lo" Balas Juna disertai tatapan sinis.
Dika tertawa. "Haha, Jun, lo masih sensitif ya? Gue cuma bercanda, tolol!" Dia menepuk bahu Juna sebelum berjalan menuju toilet.
Juna menggelengkan kepala, tersenyum tipis. "Dasar tobrut, bikin orang kesal aja." Dia kemudian menoleh ke arah Clara, yang sedang asyik bermain dengan ponselnya. 'Ini bocah juga dapet cewek modelan gini darimana coba?' Juna menatap Clara dari ujung atas hingga bawah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Kenapa lo nggak mau jagain gue?" Celetuk Clara yang membuat Juna sedikit kaget.
"Emang lo siapa?" Balas Juna sedikit dingin
"Gue pacarannya sahabat lo. Jadi wajar kan, kalau lo harusnya jagain gue."
Juna tersenyum kecus mendengar pernyataan yang Clara ucapkan padanya. Pandangannya terhadap gadis itu memang tidak akan salah. "Sekarang gini, lo emang bener pacar sahabat gue. Gue akuin, tapi, ada lo punya hak minta perlindungan ke gue? nggak ada kan? jadi kenapa gue harus jagain lo?"
Clara memandang Juna dengan mata yang sedikit marah. "Lo benar-benar keterlaluan banget, ya? Gue pikir lo adalah teman yang baik, tapi gue salah."
Juna mengangkat bahu. "Gue nggak bisa bantu lo hanya karena lo pacar Dika. Gue nggak punya kewajiban untuk jagain lo."
Clara membuang napas, terlihat kesal. "Lihat aja Jun, lo pasti nyesel."
"Nyesel kenapa?" Celetuk Dika yang membuat keduanya kaget.
"E-enggak, itu tadi gue cuman bercanda aja. Iyakan, Jun?" Ujar Clara dengan gerak-gerik yang sedikit aneh. Sementara itu Juna hanya tersenyum tipis mengukir sudut bibirnya seraya memainkan ponselnya. 'Menarik juga nih cewek.'
Dika yang terlihat bingung, tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa sih, kok lo berdua pada aneh?" tanyanya lagi, mencoba untuk memahami situasi.
Juna masih tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaan Dika. Dia lebih sibuk memainkan ponselnya, seolah-olah tidak peduli dengan situasi yang sedang terjadi.
Sementara itu, Clara terlihat sedikit tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dia memandang Juna dengan mata yang sedikit curiga, seolah-olah dia tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran Juna. "Sialan." umpat nya yang tidak didengar keduanya.
Hari semakin larut. Bulan purnama muncul dengan dikelilingi awan yang berwarna keabu-abuan, memberikan kesan yang sangat indah dan romantis. Cahaya bulan purnama itu menerangi jalanan yang sebelumnya gelap, membuatnya terlihat lebih cerah dan hangat. Suara jangkrik dan serangga lainnya mulai terdengar, menambahkan kesan yang sangat alami dan damai.
Angin malam yang sejuk mulai berhembus, membawa aroma bunga-bunga yang sedang mekar di sekitar. Suasana yang sangat tenang dan damai ini membuat Juna, Dika, dan Clara merasa lebih santai dan nyaman.
Mereka berjalan pelan-pelan, menikmati keindahan alam di sekitar mereka. Juna dan Dika berbicara tentang hal-hal yang tidak terlalu penting, sementara Clara berjalan di samping mereka, tersenyum kecil.
Clara berhenti berjalan dan menoleh ke arah Dika. "Dik, aku mau ngomong sebentar sama Juna. Boleh kan?" katanya dengan nada yang sedikit serius.
Dika terdiam sejenak memandang Juna yang berjalan duluan di depannya. "Apa yang mau lo omongin sama Juna?" Tanya Dika penasaran.
"Rahasia." Jawab Clara disertai seringai nya.
Dika yang heran itu hanya terdiam memikirkan rahasia apa yang Clara sembunyikan darinya. "Boleh kan?" Tanya Clara memastikan.
Dika menganggukkan kepalanya pelan membiarkan Clara dan Juna ruang untuk berbicara berdua. Walau dihatinya ada rasa penasaran yang dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 KEHIDUPAN [END]
Teen Fiction⚠️ BIASAKAN VOTE AND KOMEN⚠️ Menceritakan tentang 7 pemuda yang memiliki ikatan lebih dari sekedar persahabatan. Kisah ini mengajarkan kita untuk saling percaya dan saling memaafkan satu sama lain.
![7 KEHIDUPAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/369526581-64-k388479.jpg)