HAI HAIII, LEJAAA UPDATE🥰
seperti biasa janlup vote and coment 🥰 babayyy 🥰🥰
HAPPY READING
Saat itu bulan purnama muncul di saat kekacauan yang tengah terjadi. Satu remaja berusia 21an itu tengah terkepung oleh beberapa berandal jalanan. Dia hanya bisa berdiri dengan mata yang tajam, seolah siap mengajar siapa saja yang bergerak duluan. Kepulan asap putih itu terus mengepulnya. Tawa bahagia juga terdengar dari sana.
"KENAPA DIK? TAKUT? HAHAHA!" Seruan itu membuat Dika mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"UTUTUTU, DIKA KECIL KETAKUTAN YA!!??! HAHAHA!"
"ADEK, MAU PERMENNYA DEK!!?! HAHAHA!"
Ejekan demi ejekan itu terus dilontarkan kepada Dika. Cowok yang sudah sedikit babak belur itu hanya bisa menahan emosinya karena kalah jumlah. Jika dia tidak lari di saat yang tepat, mungkin saja besok dia bisa ada di dalam rumah sakit dalam keadaan kritis. "Sialan. Si Tama kenapa bisa tau gue disini?" Umpatnya seraya mencari celah untuk kabur.
"AYO DIK! LARI! GUE TAU APA YANG ADA DIPIKIRAN LO ITU!! LARI AJA!!" Ejek Tama disertai susulan tawa teman-temannya.
"BANGSAT LO SEMUA!! KALAU BERANI MAJU SATU-SATU!!" Seru Dika yang tak tahan dengan emosinya.
Tama dan anggota geng nya itu hanya tertawa melihat Dika yang seperti tikus tidak berdaya. Sementara itu disisi lain, sosok misterius tengah mengamati mereka dan hanya tersenyum tipis menikmati pertunjukan kecil itu.
***
"Sejak saat itu, Inti hancur. Gue bener-bener gagal sebagai ketua. Rasa penyesalan gue semakin hari semakin besar..." Juna menangis tersedu-sedu ketika menceritakan semua hal yang terjadi saat Satrio pergi.
Cowok itu hanya bisa diam, dan paham apa yang Juna rasakan saat ini. Bebannya menjadi seorang ketua sungguh berat. Bahkan jika dia mengantikan peran Juna sebagai ketua, mungkin dia tidak kan sekuat dia. "Gapapa Jun, gue paham. Gue nggak akan salahin lo, gue tau, lo pasti punya alasan yang nggak bisa lo ceritain ke kita semua." Ucapnya seraya menepuk-nepuk pundak Juna.
Rasanya Juna ingin sekali berteriak lega mendengarkan ucapan Satrio. Selama ini dia cukup menderita tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri. Bahkan, saat ia ingin sekali bercerita ia selalu bertanya. Siapa pendengar itu? Siapa orang yang bersedia mendengarkan kisah nya? Jika dia bercerita, apakah dia percaya?
Hancur. Hatinya benar-benar hancur. Dadanya sesak setiap kali mengingat sakit itu. Dimana sebagian orang tidak percaya dengan dirinya. Dimana orang-orang menganggap nya gagal sebagai ketua. Rasanya seperti tercekik tali mati. Seolah ingin mati, tapi nyawa itu tidak mau pergi dari tubuhnya.
"Jun...tumpuk kesalahan orang lain di hati lo itu. Semua itu bukan seluruhnya salah lo." Ucap Satrio yang langsung memeluk Juna.
Tangis Juna pun semakin pecah. "G-gue...gue s-salah..." Ucapnya sesegukan
"Enggak, Jun. Lo nggak salah, ini bukan salah lo. Kalau gue yang ada di posisi lo pun, gue bakal ngelakuin hal yang sama. Jadi, ini bukan salah lo. Keputusan lo itu udah tepat."
"G-gue takut, Sat...gue takut. Dada gue, sakit..."
"Iya, Jun, iya. Gue paham"
"Kalau mereka tau kebenarannya, apa mereka tetap benci gue?"
"Enggak. Mereka nggak akan benci lo, gue yakin ikatan kekeluargaan kita nggak akan ada yang bisa rusak. Termasuk kesalahpahaman ini, gue percaya mereka akan percaya dan ngerti perasaan lo itu. Lo harus yakin, dan percaya, mereka pasti paham yang lo rasain."
Tangis Juna sedikit mereda mendengar perkataan Satrio. Hatinya yang terasa sangat sakit kini mulai berkurang. Perlahan semua rasa bersalahnya mulai berkurang. "Gue percaya mereka, Jun. Gue yakin, mereka pasti paham." Ucap Satrio menatap mata Juna dalam.
***
Saat itu matahari tepat berada di atas kepala. Lalu lalang kendaraan melintas. Aspal panas itu terpijak-pijak oleh ribuan kaki manusia. Netra hitam nya, menatap sebuah bangunan lama. Sebuah kenangan memori lama kini mulai terlintas dibenaknya. Dimana bangunan itu menyimpan banyak kenangan nya dengan yang lain. Seutas senyuman itu muncul di sudut bibirnya, menikmati memori indah di dalam ingatannya.
"Gue rindu..." Sendu nya
"Rindu siapa?" Sosok suara yang sedikit tidak asing itu berhasil membuat Juna sedikit kaget. Ia langsung berbalik mencari sumber suara itu. Alangkah terkejutnya ia, melihat sosok gadis yang sudah lama tidak pernah dia temui sejak lulus SMA. Gadis berambut cokelat panjang itu tersenyum manis menyapa Juna.
"Apa kabar, Juna?"
"C-claudia?"
Claudia Ayu Stephanie-gadis itu berhasil membuat Juna terkejut melihat kedatangannya. "Gimana kabar lo? udah lama kita nggak ketemu." Ujar Claudia seraya tersenyum
"G-gue baik. Lo sendiri gimana kabarnya?" Tanya Juna yang masih sedikit tidak percaya. Claudia tersenyum lalu mengangguk menandakan ia baik-baik saja.
"Lo masih sama ya, Jun. Dari dulu sampai sekarang, lo masih ganteng. Nggak ada yang berubah sama sekali" Ucapnya yang membuat Juna sedikit tersipu
"Makasih. By the way, kapan lo balik ke Indonesia?"
"Baru beberapa hari yang lalu."
"Baru beberapa hari yang lalu?" Juna mengulangi, penasaran. "Apa yang membuat lo balik ke Indonesia?"
Claudia tersenyum, mata cokelatnya berkilau. "Gue balik untuk liburan, sekaligus reuni sama teman-teman lama. Gue dengar ada acara reuni SMA kita, jadi gue sebagai alumni harus datang dong?."
Juna mengangguk, memahami. "Oh, gue juga dengar tentang acara reuni itu, tapi, keknya gue nggak bisa hadir."
"Kenapa?"
"Gapapa"
"Kenapa, Jun? Masa lo nggak kangen sama temen-temen SMA lo? kalau lo nggak datang, gimana anggota Inti lo itu?"
Perkataan itu berhasil membuat Juna terdiam. Mendengar nama Inti saja sudah membuat nya sakit mengingat kenangan lama, apalagi melihat anggota Inti. "Jun? Lo gapapa? Gue salah ngomong ya?" Ujar Claudia khawatir.
Tentu, tidak ada yang tahu jika Inti saat ini tidak sedang baik. Hanya anggota dan ketuanya saja yang tau keadaan inti saat ini. "Juna?" Panggilan Claudia itu berhasil membuat Juna tersadar dari lamunannya. Juna tersenyum canggung menatap Claudia yang penuh wajah khawatir.
"Lo gapapa kan? gue nggak salah ngomong kan?" Tanya nya memastikan.
Juna mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Gue gapapa. Mungkin karena akhir-akhir ini gue lagi stress aja, jadi banyak ngelamun." Ucapnya menyakinkan.
"Syukur dehh. Tapi, lo yakin nggak mau datang? Lo datang yaa. Seenggaknya datang buat temenin gue, lo tau kan gue dulu nggak banyak temen, paling yang deket cuman lo aja. Itu pun gue juga jarang berinteraksi sama lo. Temenin gue yaa?"
Setelah mendengarkan ucapan panjang lebar Claudia dan serta paksaannya, Juna akhirnya setuju untuk ikut bersama gadis itu. Walau mungkin ia akan tahu, jika dia ikut kemungkinan besar dia akan bertemu dengan anggota Inti.
sorry for typo_
KAMU SEDANG MEMBACA
7 KEHIDUPAN [END]
Teen Fiction⚠️ BIASAKAN VOTE AND KOMEN⚠️ Menceritakan tentang 7 pemuda yang memiliki ikatan lebih dari sekedar persahabatan. Kisah ini mengajarkan kita untuk saling percaya dan saling memaafkan satu sama lain.
![7 KEHIDUPAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/369526581-64-k388479.jpg)