09. Goodbye

443 56 2
                                        

⚠️ BIASAKAN VOTE SETELAH MEMBACA⚠️





•~•HAPPY READING•~•

Pagi cerah. Seluruh anggota Inti Tujuh masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Setelah libur beberapa hari, mereka akhirnya masuk sekolah.

Hari ini, hari masuk kembali sekolah. Namun, ada beberapa murid yang izin karena sakit. Jadi jumlah kelas mereka berkurang masing-masing.

Juna melihat sekeliling ruangan kelasnya. Ada keanehan yang terjadi. Seperti ada yang berubah. Sudah satu Minggu ini dia tidak melihat ruang kelasnya. "Kenapa, Jun?" Tanya San yang duduk dibelakangnya.

Juna menggeleng-geleng pelan. "Ada yang aneh gak sih?" Ujar Juna seraya melihat salah satu sudut ruangan. Kedua bola matanya fokus pada vas bunga yang ada di samping rak sepatu. "Aneh apanya? Perasaan gak ada yang aneh."

"Lo liat vas bunga itu.." seraya menunjuk kearah vas bunga.

San melihat belakangnya. Kebetulan vas bunga itu ada dibelakangnya tepat. "iya, kenapa?"

"Sejak kapan ada vas bunga di sana? Perasaan kemarin-kemarin gak ada." Gumamnya heran.

San tertawa kecil. Cowok itu menepuk-nepuk pundak Juna pelan. "Lo lagi halusinasi ya??! Itu kan emang udah dari lama disana!" Serunya.

Juna menggaruk belakang kepalanya yang terasa tidak gatal. "Serius?? Tapi, kayaknya kemarin-kemarin gak ada deh.. atau cuman perasaan gue doang??"

"Perasaan lo kali. Lo kan suka ngelamun di kelas, makanya lo gak liat ada vas bunga dibelakang."

Juna mengangguk pelan. Perkataan San itu ada benarnya. Memang dia sering sekali melamun di kelas, hingga tak memperhatikan hal kecil. Seperti vas bunga itu.

"Udah deh, jangan dipikirin. Mending ke kantin. Gue laper!"

"Jajanan mulu! Liat noh jam! Udah hampir masuk kelas!" Juna menonyor dahi San pelan. "Halah, sekali-kali!"

"Gak. Kalau lo mau ke kantin, jalan sendiri. Gue mau di kelas, ntar yang di hukum kan lo, bukan gue." Juna menatap sinis wajah San. Cowok itu mulai berbalik ke depan.

"Aneh banget, gue ngerasa inj ruangan kek asing."

.
.

Seluruh anggota Inti tengah berkumpul di lapangan basket. Mereka menyaksikan pertandingan yang dilakukan oleh salah satu anggota mereka. Hesyam, cowok dengan nomer punggung 27 itu terlihat sangat manly.

Keringat dingin yang membasahi dahinya, membuat nya benar-benar keren.

"AYO, SYAM!! KALAHIN TUH MUSUH!!!" seru Dika yang paling heboh diantara anggota Inti.

"Duduk cok! Lo ngalangin pandang gue!!" Jefry menarik kasar belakang baju Dika. "Ahh, ganggu lo Jef. Padahal gue lagi kasih semangat buat kapten basket kita!" Decak nya sebal.

"Boleh aja, tapi gak ngalangin pandangan gue juga!"

Dika menatap sinis Jefry. Cowok 18 tahun itu, akhirnya duduk disampingnya. "AYO SYAM!!! KALAU LO MENANG, JEFRY BAKAL KASIH SERATUS JUTA!!!!"

Jefry membulatkan matanya dengan sempurna. Cowok itu ternohok dengan ucapan Dika yang tiba-tiba. "Matamu!!! Duit dari mana anjir!!!" Jefry memukul belakang kepala Dika hingga menimbulkan bunyi yang cukup kencang.

"SAKIT COK!!!" Pekik nya.

"gapapa, AYO SYAM!!! DEMI DUIT, LO PASTI MENANG!!"

"TENANG AJA, CECEP BAKAL KASIH BLACKCARD NYA JUGA!!!"

7 KEHIDUPAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang