"Jangan pernah tinggalin aku ya..?" Tangan lembut itu menyapa kedua pipi Amira dengan halus.
"Kalau takdir masih bisa mempersatukan kita, maka aku akan berjalan mengikuti arah takdir yang ditentukan. Namun, jika takdir kita berbeda...aku harus melepasnya..." Ucapan itu berhasil membuat Satrio terdiam menatap wajah Amira dengan mata yang berbinar.
"Kamu ng-gak akan pergi kan?"
"Maaf Sat...aku harus pergi mengikuti takdir yang telah di tentukan."
Satrio menatap Amira dengan mata berkaca-kaca. "Maksud kamu apa Ra..? kamu mau ninggalin aku...?" Tanyanya dengan nada sendu
"Aku nggak akan ninggalin kamu... dihati ku cuman ada kamu. Tapi..."
"Tapi kenapa, Ra..."
"Takdir yang membuatku harus pergi ninggalin kamu."
Air mata Satrio lolos seketika. Hatinya serasa hancur seperti kaca yang pecah. Seperti ada ribuan paku yang menancap di hati nya saat ini.
"Menangislah selagi bisa, setelah ini kamu adalah sosok yang kuat. Di kehidupan ku yang selanjutnya, aku akan meminta tuhan untuk mempersatukan kita tanpa ada halangan di jalan cinta kita, oke?." Ucap Amira dengan nada lembut dan tatapan yang hangat.
Satrio mengangguk pelan, "Sekarang, pangeranku harus bangun ya? Ada hadiah yang menunggu mu di sana.."
Satrio mengangguk pelan lalu memeluk erat tubuh Amira. Ia mulai menangis tersedu-sedu dalam pelukan gadis itu, rasanya ia tidak ingin bangun. Ia hanya ingin berada dalam mimpi yang indah itu bersamanya. Hatinya masih berat untuk melepaskannya, rasa rindunya terlalu dalam untuk tidak di pendam. Dadanya terasa sakit, ia hanya ingin tertawa dan bersamanya saja.
"Setiap perpisahan selalu ada kerinduan, begitu pula setiap kehidupan ada kematian. Manusia nggak ada yang tahu kapan kita pergi dari dunia, hanya tuhan yang tahu. Sekarang, tuan putri mu sudah bahagia. Jangan terlalu sedih dan merindukanku...aku mencintaimu.."
"Aku juga cinta kamu..."
Satrio terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang mengeluarkan cairan bening yang sudah membasahi pipinya. "Rasanya berat Ra...Gue belum siap lupain lo Ra..." Gumamnya yang mulai menangis terisak-isak.
Malam kini menjadi pagi, matahari mulai terbit dari sebelah timur dengan membawa kehangatan bagi isi bumi. Satrio menatap keluar jendela kamarnya seraya mengusap air matanya dengan kasar. Ia menarik nafas dalam-dalam mencoba lebih kuat dan tegar lagi. Kini, seutas senyuman yang indah itu muncul di sudut bibirnya. Betapa indahnya senyuman manis itu.
"Seperti ucapan lo, setiap perpisahan selalu ada kerinduan. Namun, setiap perpisahan juga pasti ada pertemuan. Di kehidupan selanjutnya, jadi lah kekasih akhirat ku..." Lirihnya dengan suara yang masih bergetar.
Cowok itu mulai beranjak dari tempat tidurnya. Ia mulai merapikan tempat tidur sebelum pada akhirnya melakukan aktivitas nya seperti biasa.
"Bang! Lo belum bayar token listrik ya?!" Teriak seseorang dari bawah.
Satrio tersenyum tipis mendengar suara yang tidak asing itu, ia berjalan menuju ke arah sumber suara itu. "Bang, keran air lo mati. Belum bayar tagihan ya?? Eh! Sumpah, gue nahan berak ini!!" Omel Raka seraya menahan perutnya yang sakit.
"Iya-iya, gue bayar sekarang." Jawab Satrio seraya tertawa pelan.
"Sat!! Garam lo dimana??" Teriak Juna dari arah dapur.
"Di rak paling atas!!" Seru Satrio
"Oke!!"
Kira-kira seperti ini keadaan rumah Satrio sekarang. Sudah beberapa bulan ini anggota Inti menjadi rumah Satrio sebagai markas baru mereka. Entah sampai kapan mereka akan terus menjadikan rumahnya sebagai markas, setiap hari Satrio harus menyediakan beberapa cemilan untuk mereka, bahkan membereskan kekacauan yang Inti buat di rumah nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 KEHIDUPAN [END]
Teen Fiction⚠️ BIASAKAN VOTE AND KOMEN⚠️ Menceritakan tentang 7 pemuda yang memiliki ikatan lebih dari sekedar persahabatan. Kisah ini mengajarkan kita untuk saling percaya dan saling memaafkan satu sama lain.
![7 KEHIDUPAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/369526581-64-k388479.jpg)