03. Inti yang sebenarnya

530 81 8
                                        

Jangan lupa
follow akun
@Sjnaa_je











°Happy reading°~°




"Rasanya gue pengen bunuh Tama. Lama kelamaan gue muak sama anak satu itu." Decak sebal Hesyam yang mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Biarin bang," Ujar Raka pelan, yang mulai membuka kedua matanya. "Raka!" Seru semua anggota Inti Tujuh.

Kedua mata Raka mengerjab-erjap pelan untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan. Setelah dirasa sempurna, ia pun mengedarkan pandangannya untuk menatap wajah-wajah Inti Tujuh. Senyum menenangkan terukir di wajah cowok itu. "Lo bikin kita semua jadi khawatir.." kata Hesyam. Nada bicara yang terdengar sedih.

Raka menepuk-nepuk dadanya. "Gue nih iromen! Kalian gak perlu khawatir" ucap nya disertai kekehan ringannya. Seluruh anggota Inti tertawa bersamaan. "Tai, ka.. lo aja masih suka minum susu" cibir Dika disertai tatapan sinis nya

Juna yang melihat tingkah Dika menggeleng-gelengkan kepalanya. Humor yang sedikit aneh. Tapi, itulah ciri khas Revaldo Dika.

"Kalau butuh apa-apa bilang aja ke kita-kita." Ujar Juna

Raka mengangguk pelan. Cowok itu menatap kosong ke arah langit-langit rumah sakit. "Bang..lo gak jadi ketemu orang itu?"

Raka menatap Juna sejenak. Kini pandangan nya teralih ke sudut ruangan. "Dia gak penting. Yang penting, sekarang lo harus cepat-cepat sembuh." Jawab Juna.

Raka menatap wajah Juna sekali lagi. "Dia penting juga bang.." balas Raka dengan nada terdengar sedih. Juna menghela nafas berat. Senyum yang manis mulai dia keluarkan "lo tenang aja, fokus sama diri lo. Cepet pulih, supaya lo bisa balas dendam sama Tama dan kawan-kawan nya."

Raka tersenyum tipis. "Siap bos!" Seru nya memberi hormat. Juna menepuk pundak Raka. "Gue mau beli sesuatu sebentar." Ujar nya yang mulai meninggalkan ruangan. "Lo masih butuh dia, benar kan..?" Gumamnya.

Raka memejamkan matanya sebentar.




******




Juna menyusul seorang gadis yang tengah duduk di bangku taman dekat dengan rumahnya. Pukul 15.35.
"Ngapain lo disini? Gue udah pernah bilang, jangan pernah muncul disekitar sini." Ujar Juna dengan wajah kesal. Gadis itu menyoroti mata Juna. "Jun, hari cuaca cerah yaa?" Gadis itu tersenyum manis pada Juna. "Sebenernya emang cerah, tapi karena kedatangan lo cuaca jadi gelap." Kata Juna yang begitu menusuk hati.

Gadis itu terkekeh pelan lalu berdiri dihadapan Juna. "Jun, jangan lupa dateng!" Serunya

"Gue kesini mau bilang itu aja. Selebihnya lo mau dateng atau enggak itu keputusan lo sendiri. Tapi...gue harap lo hadir, walau sekali aja." Lanjutnya.

Juna tersenyum miring seperti tidak peduli. Gadis itu juga ikut tersenyum. Namun dengan senyuman yang berbeda. "Gue pulang dulu, gue harap tahun ini lo dateng" gadis itu membelakangi badan Juna lalu berjalan maju. "jangan terlalu berharap sama gue." Ucap Juna. Gadis itu berhenti melangkah. "Gapapa, gue masih punya banyak harapan ke lo,"



******




Jeda waktu antara pelajaran ke-lima dan waktu istirahat. Waktu yang terjeda beberapa puluh menit itu dimanfaatkan beberapa anggota Inti Tujuh yang sedang kosong pembelajaran. "Rasanya sepi kalau Raka gak ada," celetuk San dengan wajah sedih. "Gapapa, beberapa hari lagi Raka pasti masuk sekolah." Balas Hesyam dengan kedewasaannya.

7 KEHIDUPAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang