14. Ego

253 26 7
                                        

Haiiii lejaa is backkk!!
Jangan lupa vote and komen yaaa, satu vote kalian bisa buat lejaa semangat up nyaaa!! selamat membaca 🤍🤍🤍

SORRY FOR TYPO




HAPPY READING

"Lo gila?!" Nada Juna meninggi seketika. Matanya menatap marah Clara. Dia tidak habis pikir dengan isi otak gadis itu. Sebenarnya apa yang dia inginkan darinya.

"Ternyata pandangan gue terhadap lo itu benar. Lo bukan cewek sembarangan." Lanjutnya dengan nada serius.

Sementara itu, Clara hanya terkekeh pelan seolah itu hal yang lucu baginya. "Lo yakin nggak mau nerima gue? Apa lo nggak akan takut akibatnya nolak gue?" Mata Clara dan Juna saling bertemu. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Tatapan yang mengartikan banyak hal dan banyak pertanyaan itu membuat Juna terdiam sejenak.

"Ayolah, Juna, lo yakin nolak gue? Gue bisa aja rusak hubungan kalian hanya dengan satu jentikan." Ucapnya menekan disetiap perkataan.

"Gila lo, Ra. Bener-bener cewek gila, sebenarnya otak lo itu dari apa sih? Pikiran lo bener-bener kekanakan-kanakan. Gue nggak tau dimana Dika ketemu cewek modelan lo ini. Bener-bener sampah."

"Juna, Juna, ternyata lo nggak sebodoh yang gue bayangin. Pinter juga otak lo, haha."

Clara tertawa dengan nada yang sedikit mengejek, membuat Juna merasa tidak nyaman. "Lo pikir lo bisa menyinggung gue dengan kata-kata seperti itu? Lo salah besar, Juna. Gue nggak akan terluka oleh kata-kata lo."

Juna menggelengkan kepala, masih terlihat kesal. "Gue nggak peduli apa yang lo pikir, Ra. Yang gue tahu adalah lo cewek paling gila. Bahkan gue nggak sudi nyebut lo sebagai cewek. bener-bener murahan."

Clara masih tertawa, tapi kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius. "Lo akan menyesal, Juna. Lo akan menyesal karena nolak penawaran gue ini."

Juna mengangkat alis, merasa tidak percaya dengan apa yang Clara katakan. "Penawaran? Lo pikir gue butuh penawaran dari lo? Gue tidak butuh apa-apa dari lo, Ra."

Clara masih tertawa, tapi kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Lo nggak tahu apa yang lo tolak, Juna. Lo nggak tahu apa yang akan terjadi jika lo menolak penawaran gue ini. Tapi, gue nggak akan memaksa lo. Gue hanya akan menunggu waktu yang tepat untuk membuat lo menyesal."

Juna terdiam sejenak. Cowok menggelengkan kepalanya pelan seraya menatap mata Clara dengan serius.

"Gue nggak akan pernah menyesal, Ra." Ucapnya yang pergi meninggalkan Clara sendirian.

"Lihat, Jun. Tunggu pembalasan gue, lo akan menyesali perbuatan lo itu." Gumam Clara menatap punggung Juna.

.
.

"ngapain lo disini?" Tanya Juna melihat kedatangan Clara yang tiba-tiba datang ke markas inti.

"cari pacar gue lah, ngapain lagi" Jawab Clara yang mengambil duduk di depan Juna.

"maafin gue tentang yang kemarin, gue udah kelewat batas." ucap Clara membuka pembicaraan diantara keduanya.

"emang kemarin kita bahas apa?" Tanya Juna yang seakan lupa oleh kejadian kemarin malam.

"gue, udah kelewat batas. harusnya gue juga pikirin perasaan Dika, kalau dia tau gue suka sama lo."

"gue sadar, gue salah. harusnya gue nggak terlalu larut dalam perasaan suka. harusnya gue bersyukur punya Dika."

Juna mengambil nafas dalam-dalam. "gue nggak butuh ocehan lo itu." Balas Juna sedikit menatap tajam ke arah Clara.

Clara tersenyum tipis. Membelai anakan poni yang menutupi matanya. "Jun, lo bener-bener type gue banget. Kenapa gue nggak ketemu lo aja sih? kenapa harus Dika?"

"Kenapa takdir selalu mempertemukan cinta di saat yang tidak tepat? kenapa harus disaat memiliki? nyesel gue."

Juna terkekeh pelan mendengar ucapan yang Clara lontarkan. Cowok itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Harusnya yang nyesel itu Dika, bukan lo."

"Kenapa Jun? kenapa harus Dika yang nyesel?! Jun, sebenarnya gue masih punya kesempatan buat lo. Karena gue cinta, lo."

"Cinta apa yang lo maksud, Ra? Cinta gila lo itu? obsesi lo itu? atau ego lo itu? cukup, Ra. Mau sampai lo berlutut sampai sujud pun gue nggak akan mau nikung sahabat gue sendiri. Dika, udah gue anggep abang kandung gue sendiri. Harusnya lo bersyukur, Ra. Dika sesayang itu sama lo,"

"Dari sekian banyaknya cewek yang pernah menjalin hubungan sama dia, cuma lo satu-satunya cewek yang buat dia effort. Buka mata lo itu, Ra."

Clara terdiam oleh kata-kata Juna, wajahnya memerah dan matanya berkilat dengan air mata. "Lo harus tau Jun, gue cuman cinta lo." katanya dengan suara yang terputus-putus. "Lo nggak akan tahu apa yang gue rasakan. Gue cinta Dika, tapi gue juga cinta lo, Jun."

Juna menggelengkan kepala, tidak ingin mendengar alasan-alasan Clara lagi. "Gue nggak peduli, Ra. Gue nggak peduli dengan perasaan lo. Yang gue peduli adalah persahabatan gue dengan Dika. Lebih baik lo kecelin ego lo itu."

Clara terlihat sangat kesal, wajahnya memerah dan dia mengambil napas dalam-dalam. "Kenapa lo tolak gue lagi?! kenapa?! Gue kurang apa Jun?! kurang apa!! Gue cantik, pinter, bisa masak, gue juga anak orang kaya. Apa yang kurang dari gue?! apa?!!" ucapnya menaikan nadanya

"Lo nggak kurang apapun, Ra. Lo cuman kurang waras. Otak lo itu bener-bener nggak waras." ucap Juna yang benar-benar heran dengan sikap Clara itu.

"Ra, buka mata lo lebar-lebar. Dika cinta sama lo, dia rela lakuin apapun demi kebahagiaan lo." Tegasnya pada Clara.

Clara menundukkan kepalanya seraya tersenyum miring dibalik rambut yang menutupi wajahnya. "Jun, lo bener-bener akan nyesel." Gumamnya samar didengar Juna.

7 KEHIDUPAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang