21. Putusnya hubungan

174 32 17
                                        

Helowww lejaa backkk
Minggu depan lejaa mungkin agak telat up😔 Tugas lejaa numpuk bangetttt😭 pliss masih ada p5 juga, capek anying 😭😔 Tapi lejaa tetep usahain up lebih cepat(kalau bisa🗿)

Semoga sukaaaa🥰🥰


HAPPY READING



....

"Hai Jun. Apa kabar?" Suara yang sedikit tidak asing ditelinga Juna berhasil membuatnya sedikit terkejut. Ia menoleh ke sumber suara, benar saja. Suara itu milik gadis licik itu.

"Ada apa Juna sayang?" Tanya Clara yang mulai berjalan menghampiri Juna.

"Jangan panggil gue sayang. Jijik."

Clara tersenyum, tidak terpengaruh oleh jawaban Juna yang kasar. "Kenapa Jun? sekarang bahagia ya? Karena lo bisa kembali sama Inti? Sayang banget, padahal dulu hal yang paling bahagia buat gue. Karena apa? Karena melihat kehancuran Inti." Ucapnya tertawa puas.

Juna hanya tersenyum kecil. "Ada apa Juna? Kenapa senyum? hmm" Clara meraih tangan Juna. Gadis itu membelai wajah Juna dengan penuh gairah.

"Semakin dekat, lo itu semakin ganteng. Hasrat gue pengen miliki lo itu semakin gede." Ucapnya tersenyum miring.

"Oh ya?" Ujar Juna yang ikut tersenyum miring.

"Clara!" Bentak seseorang yang membuat gadis itu sedikit kaget. Gadis itu membulatkan matanya dengan sempurna kala melihat sosok yang ia sedikit takuti.

"Liat, akhir hidup lo tamat." Bisik Juna tepat ditelinga gadis itu.

"D-dika sa-yang?" Kikuk Clara sedikit panik.

"Jadi ini kelakuan lo selama ini?! Cewek murahan lo!!" bentaknya dengan nada yang keras.

Clara terlihat panik dan ketakutan, ia mencoba untuk mendekati Dika, tetapi Dika langsung mundur dan menolaknya.

"Sa-yang, a-aku bisa j-jelasin."

"Jangan panggil gue sayang! Lo nggak pantas panggil gue dengan sebutan itu!" Dika membentak dengan nada yang lebih keras.

Juna hanya tersenyum kecil melihat Clara yang ketakutan, "Lihat, tikus masuk dalam jebakan kucing. Lo nggak pantas miliki Dika, Ra. Lo hanya akan merusak hidupnya," kata Juna dengan nada yang dingin.

Clara terlihat semakin panik dan marah, "Lo! Lo yang selalu halangi gue! Lo yang selalu buat gue nggak bisa miliki Dika!" ia berteriak dengan nada yang keras.

"Cukup! Clara, lo harus tahu batasan. Gue nggak pengen lihat lo lagi. Gue mau sekarang kita nggak ada hubungan apapun!" Sarkas Dika dengan nada tegas dan tatapan tajamnya.

"D-dika bukan itu, Juna ngejebak gue..."

"Cukup! Ra. Gue nggak mau dengerin semua omong kosong lo itu. Mulai saat ini, gue nggak mau punya hubungan apapun sama lo. Lupain semuanya!" Final Dika yang langsung pergi meninggalkannya.

Clara yang sedikit marah dan kesal, itu tidak bisa berbuat apa-apa karena Dika sudah membuat keputusan untuk meninggalkannya. Ia hanya bisa menatap Dika dengan mata yang penuh amarah dan kekesalan.

"Gimana? Seru kan? akhirnya lo bisa ngerasain apa yang selama ini gue rasain." Ujar Juna tersenyum puas melihat Clara.

Gadis itu berdecak sebal lalu pergi meninggalkan Juna dengan raut wajah marah. "Ingat, Jun. Gue nggak akan lupain kejadian ini." Ucap Clara sebelum benar-benar pergi meninggalkan Juna.

Flashback

"Dik, gue mau ngomong sesuatu sama lo." Juna menatap Dika dalam-dalam.

"Ngomong aja, Jun." Ujar Dika yang sedikit penasaran.

"Ini semua tentang Clara. Gue mau lo tau sifat aslinya."

Ucapan Juna itu berhasil membuat Dika sedikit terkejut dan kesal. "Maksud lo?" Tanya nya dengan nada sedikit naik.

"Dik, Clara bukan cewek yang baik. Gue bisa buktiin semua itu ke lo. Gue, cuman pengen lo sadar. Masih banyak cewek di luaran sana yang lebih baik dari Clara."

"Kenapa perkataan lo itu seolah menganggap Clara nggak pantas buat gue Jun?"

"Clara memang nggak pantas buat lo, Dik. Clara nggak sebaik di depan lo. Dia rubah. Lo harus percaya sama gue. Gue akan buktiin itu semuanya."

Dika semakin bingung dengan ucapan Juna. Ia berpikir keras tentang apa yang Juna maksudkan itu. "Lo mungkin salah menilai nya, Jun. Dia nggak gitu, dia memang baik." Ujar Dika disertai tawa kecil.

"Dik, percaya ke gue sekali aja. Kasih gue satu kesempatan buat buktiin kalau Clara nggak sebaik yang lo lihat selama ini. Gue nggak mau lo hidup dengan penyesalan suatu saat nanti. Lebih baik lo tau dari sekarang daripada lo tau nanti."

Dika terdiam sejenak memikirkan perkataan Juna. Ia menatap Juna dengan keseriusan. "Oke, gue akan kasih lo kesempatan." Final Dika yang membuat Juna tersenyum lega. Lalu memeluk Dika erat.

"Makasih lo mau percaya sama gue."

...

Juna berlari kesana-kemari mencari keberadaan Dika. Juna terus berlari dengan napas yang terengah-engah, ia sangat khawatir dengan Dika. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Dika mengetahui kebenaran tentang Clara. Ia hanya ingin melindungi Dika dari orang yang tidak baik.

Setelah beberapa saat berlari, Juna akhirnya menemukan Dika yang sedang duduk di sebuah bangku taman. Dika terlihat sedih dan tertekan, Juna langsung menghampirinya.

"Dik, lo gapapa" tanya Juna dengan nada yang khawatir.

Dika menoleh ke arah Juna dengan mata berkaca-kaca, "Jun, gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin. Gue...kecewa," kata Dika dengan suara yang bergetar.

Juna langsung memeluk Dika untuk meredakan kesedihannya, "Dik, masih banyak cewek yang lebih baik dari Clara. Lo pasti bisa lupain Clara, gue percaya." kata Juna dengan nada yang lembut.

Dika tersenyum kecil, "Makasih, Jun. Kalau bukan karena lo, mungkin gue nggak akan tahu gimana sikap Clara yang sebenarnya." Ucapnya melepas pelukan Juna. Dika mengusap beberapa cairan bening yang telah membasahi pipinya dengan kasar.

Mungkin hari ini adalah hari yang paling terberat bagi Dika. Dimana sosok yang ia cintai dengan tulus ternyata tidak mencintai. Dimana gadis yang selalu ia perjuangkan hanya memainkannya seperti boneka.

Dik menghela nafas berat, ia memejamkan matanya berusaha melupakan setiap kenangan yang pernah ia bangun bersama Clara. Juna yang paham dengan perasaan Dika itu menepuk pundak Dika pelan.

...




SORRY FOR TYPO_

7 KEHIDUPAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang