Haloo guysss, lejaa backk!!
maaf ya, kalau lejaa nggak up beberapa minggu ini;) Buat kalian yang udah tunggu lejaa, thankyou guyss🥰
oh ya, sebelum baca jangan lupa vote and coment🥰✨❤️🔥
satu lagi, kemungkinan cerita 7 KEHIDUPAN akan ada revisi dari lejaa. Mungkin akan ada alur cerita yang berubah atau ada sedikit tambahan dari lejaa🥰
selmat berbuka puasa🥰
HAPPY READING
"Ra, sejak kapan lo disini?" Tanya Dika yang datang bersama anggota lainnya.
Clara yang sedikit terkejut dengan kedatangan mereka hanya tersenyum simpul. Sementara Juna hanya melirik sekilas anggota Inti lalu bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. "Kenapa nggak ngabarin gue?" Lanjut Dika yang mengambil duduk disamping Clara.
"Tadi aku udah telpon, tapi nggak kamu angkat. Jadi, aku kesini sendiri" Jawab Clara tersenyum tipis.
"Oh, tadi yang telpon lo? maaf ya, tadi gue di jalan jadi nggak sempet angkat telpon."
"gapapa" balasnya seraya menggelengkan kepalanya pelan. Dika tersenyum manis seraya mengusap puncak kepala Clara lembut lalu, sebuah kecupan manis itu mendarat sempurna di dahi Clara. Sikap Dika yang secara spontan mencium Clara itu, membuat anggota Inti bersorak ria. "Anjay!" Seru Raka yang spontan.
"Lama-lama gue gulung juga lo berdua." Gerutu Jefry yang tidak tahan dengan keromantisan Dika.
"iri bilang aja, Cep!" Seru Sam yang mengundang tawa anggota Inti.
"Bisa nggak stop panggil Cep. Udah nama gue sangar, malah lo panggil Cep."
"Maaf, maaf! Gue nggak bisa nahan," kata Sam sambil tertawa.
Anggota Inti lainnya juga tertawa dan bersorak, menikmati suasana yang santai dan romantis. Dika dan Clara tersenyum dan saling menatap, tampaknya mereka tidak terganggu oleh keributan yang terjadi.
"Udah, udah! Jangan ganggu mereka," kata Raka sambil tertawa.
Anggota Inti lainnya mengangguk dan berhenti bersorak, membiarkan Dika dan Clara menikmati suasana yang romantis. Sementara itu, disisi lain Juna menatap tajam ke arah Clara. Matanya menyoroti Clara seolah penuh kebencian, lalu ikut pergi bersama yang lainnya.
"Bang Jun kenapa?" Gumam Raka yang bingung melihat sikap Juna.
.
.
"Juna sayang,"
Mata Juna terbuka lebar saat Clara yang tiba-tiba datang menyentuh nya dari arah belakang dengan sedikit vulgar.
"L-loh?! ngapain lo disini?! kenapa lo masuk rumah gue tanpa izin?!" Bentak Juna sedikit menjauh dari Clara.
"kenapa sayang, hm? kamu nggak suka aku main kesini?" Sekali lagi, Clara mendekatkan dirinya.
"Gila lo!! Pergi nggak!!" Juna yang merasa terganggu dengan sikap Clara itu mulai berdiri menjauh dari gadis itu.
Clara tersenyum miring, lalu duduk di sofa dengan kaki menyilang. Gadis itu menatap Juna seraya memainkan kuku-kuku panjangnya. "Kenapa Jun, lo takut?" ujarnya dengan nada sedikit mengejek
"Juna, Juna, lo tau nggak akibatnya tolak gue? gue bisa aja bikin persahabatan lo sama inti rusak dalam sekejap. Lo yakin masih mau berpegang teguh sama ucapan lo itu?"
"Maksud lo apa?! Lo pikir gue takut sama ancaman lo itu?! Nggak."
Clara tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan seolah melihat pertunjukan yang lucu. "Juna, Juna, ll bener-bener type gue banget. Karena lo type gue, gue akan kasih lo satu kesempatan lagi, tapi, kalau lo nggak mau, oke fine. Dengan satu kartu AS, boom! persahabatan inti hancur."
Juna terdiam sejenak ia merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan. Ia tidak ingin kehilangan persahabatannya dengan Inti, tapi ia juga tidak ingin terpengaruh oleh Clara.
"Gue nggak takut sama ancaman lo itu." kata Juna dengan nada yang teguh. "Gue nggak akan biarin persahabatan Inti."
Clara tertawa lagi, dan kali ini terdengar lebih mengejek. "Oh, Juna, lo bener-bener lucu. Lo pikir lo bisa lawan gue? Gue punya sesuatu tentang masa lalu lo itu. Lo mau gue bongkar semuanya sekarang?"
Juna merasa darahnya mendidih. Ia tidak suka dibully oleh Clara, tapi ia juga tidak ingin kehilangan kendali.
"Gue nggak takut. Gue lebih percaya persahabatan Inti daripada omong kosong lo itu. Silakan lo ancam gue," kata Juna dengan nada yang teguh. "Inti, nggak akan hancur karena satu wanita bangsat kek lo."
Clara tersenyum lagi, dan kali ini terdengar lebih misterius. "Kita lihat aja, Juna. Kita lihat aja apa yang akan terjadi."
"Karena permain baru akan dimulai."
.
.
Sinar matahari memasuki ruangan gelap dari sela-sela tirai yang terbuka. Sinar matahari itu tepat mengenai wajah Juna yang tengah tertidur, Juna bangun dengan perasaan yang tidak enak. Ia masih teringat dengan percakapan yang terjadi dengan Clara kemarin. Ia merasa bahwa Clara memiliki rencana yang tidak baik untuk persahabatannya dengan Inti.
Bayang-bayang ucapan Clara selalu bermunculan di benaknya. Dia takut, jika persahabatannya dengan Inti akan benar-benar rusak hanya karena satu kesalahan yang pernah dia buat dulu.
Matanya menatap kearah cermin di depannya. Dia menatap bayangan dirinya sendiri dengan kenangan pahit yang bermunculan di benaknya. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningnya. Dadanya mulai terasa sesak karena ingatan dulu. Juna menatap sekeliling kamarnya mencari udara segar. Pikirannya kini tidak bisa dia kendalikan, banyak kenangan lama yang terus saja muncul di pikirannya. Matanya menatap sayu sebuah foto yang terbalik di meja. "Maaf..." Ucapnya dengan nada sedikit berat.
"Harusnya gue nggak sembuyiin ini dari Inti. Gue... bener-bener gagal jadi ketua." Lanjut nya yang membalikan foto.
"Ra...maafin gue karena sembuyiin kematian lo dari yang lain..." Suara nya mulai terdengar bergetar. Matanya tak kuat memandang foto seorang gadis yang jelas Inti kenal sejak lama.
"Andai, dulu gue nggak telat selamatin lo...pasti, lo masih hidup sekarang. M-maafin...gue Amira," Juna mengusap kasar air matanya. Rasa bersalah atas kegagalannya menyelamatkan sosok yang berharga bagi Inti, membuatnya sangat sengsara.
Kesalahpahaman yang pernah terjadi antara dia dan Amira, hanyalah angin. Kenyataannya, gadis itu hanya mencintai satu orang. Bukan dia, tapi, Satrio. Gadis 19 tahun, yang hanya ingin hidup bahagia tanpa penderitaan. Gadis 19 tahun yang hanya ingin mendapatkan sebuah cinta dari keluarga. Gadis 19 tahun yang penuh penderitaan dan kisah suram.
Juna menangis tersedu-sedu mengingat semua memori-memori tentang gadis itu. Kerinduannya tentang dia, tidak bisa di pungkiri. "Maafin...gue, Ra...t-tolong maafin gue..."
KAMU SEDANG MEMBACA
7 KEHIDUPAN [END]
Teen Fiction⚠️ BIASAKAN VOTE AND KOMEN⚠️ Menceritakan tentang 7 pemuda yang memiliki ikatan lebih dari sekedar persahabatan. Kisah ini mengajarkan kita untuk saling percaya dan saling memaafkan satu sama lain.
![7 KEHIDUPAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/369526581-64-k388479.jpg)