18. Reuni

163 33 8
                                        

Hai lejaa update lebih cepatt🥳
seperti biasa, jangan lupa votmen🥰
yang sekolah semangat yaaa🥰🥳

HAPPY READING

.......

Malam itu awan sedikit mendung, namun jalanan sangat padat oleh kendaraan yang tengah melintas. Para pekerja kantoran menyandang tas mereka setelah seharian berkerja keras mencari nafkah. Saat itu, Juna tengah duduk di atas motor nya seraya menunggu seseorang di luar gerbang sebuah apartemen mewah.

Matanya selalu menghadap jalan raya yang ramai itu. Seperti merasakan sesuatu yang sangat familiar di ingatannya namun terasa samar. Juna terus memikirkan apa yang pernah terjadi? Rasanya aneh. Seolah ia pernah merasakan kejadian itu. Mungkin ini yang dinamakan dejavu?

"Jun!" Panggil Claudia yang berhasil membuat Juna tersentak kaget.

Gadis dengan rambut tersanggul itu nampak anggun dengan dress putih pendek dan sepatu heels putih kaca. Pesonanya itu mampu membuat Juna tidak bisa mengedipkan bahkan mengalihkan pandangan nya dari gadis itu. Bak dewi bulan yang turun dari langit, wajah Claudia begitu bersinar terang membuat siapa saja akan terpesona oleh kecantikan dan keanggunannya.

"Gimana, cantik nggak?" Tanya Claudia seraya berputar-putar kecil.

"C-cantik.." Jawab Juna yang masih terpaku cantiknya penampilan Claudia.

"Pasti. Dari cara lo lihat gue aja, udah mengartikan kalau gue ini cantik." Ucap Claudia yang percaya diri.

Juna terkekeh pelan mendengar perkataan gadis itu. Tapi memang benar, malam ini dia sangat cantik layaknya bulan purnama.

"Eh, tapi gue bawa motor. Lo gapapa kan?" Tanya Juna yang takut mengecewakan Claudia. Gadis itu tersenyum manis menggelengkan kepalanya. "Gapapa, lo mau bawa odong-odong pun gue mau." Ucapnya yang membuat Juna tertawa kecil.

Keduanya pun segera pergi menuju sebuah hotel mewah, dimana acara reuni itu di gelar. Sesampainya di sana, banyak sekali tamu yang sudah tidak asing bagi mereka. Juna mengambil duduk di ujung pintu agar tidak terlalu dikenali. Ia juga menatap sekelilingnya, mencari-cari anggota Inti yang datang. Namun ia hanya dapat melihat Jefry, Raka dan San.

Juna yang masih paham tentang keadaan Inti hanya bisa mengamati tiga anggota nya itu dari kejauhan. Dengan melihat senyum dan tawa mereka, membuat Juna bahagia. Rasanya masih sama seperti dulu, namun keadaannya berbeda. Ia hanya bisa tersenyum tipis dan mengingat sedikit masa lalu.

"Jun, gue ke depan sana ya. Lo jangan kemana-mana, awas aja kalau lo pulang duluan." Ujar Claudia sambil berbisik-bisik. Juna hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu meminum segelas anggur merah di depannya.

"Dika!" Panggil seseorang yang membuat Juna sedikit kaget lalu menoleh kebelakang.

Dua sosok pasangan dengan pakaian yang sedikit glamor itu memasuki pesta dengan di sambut meriah oleh teman yang lain. Benar, siapa lagi kalau bukan Dika dan Clara. Kedua sangat terkenal karena kisah cinta mereka yang bertahan sangat lama. Karena kecantikan Clara juga banyak para jomblo mengejar untuk mendapatkan cintanya. Gadis itu memang terkenal di kalangan para pemuda jomblo karena parasnya.

"Anjay, makin nempel aja nih!" Seru Aldo-teman sekelas Clara.

Clara hanya tersenyum malu seraya menatap Dika. "Sayang, aku mau duduk paling depan ya." Ucap Clara sedikit manja.

Dika mengangguk pelan lalu berjalan menuju meja paling depan. Disana Dika bertemu dengan Jerfy, Raka dan San. Namun mereka hanya saling menatap seperti tidak mengenal satu sama lain.

Sementara itu, Juna yang memperhatikan mereka sedikit kebingungan. Karena tidak ada interaksi di antara mereka. "Mereka kenapa? Padahal dulu mereka yang paling deket satu sama lain." Gumamnya sedikit bingung.

"Jun." Juna tersentak kaget kala namanya di panggil seseorang.

"Kenapa lo duduk disini? Nggak kedepan?" Tanya Satrio yang mengambil duduk di sebelah Juna. Cowok itu hanya menatap dan memberi isyarat melalui kontak mata. Satrio yang paham dengan apa yang dimaksud Juna hanya mengangguk pelan.

"Lo gapapa dateng kesini?" Tanya Satrio yang sedikit khawatir.

"Gapapa" Jawab Juna yang terdengar sedikit lesu.

"Jun. Kalau lo emang nggak bisa dateng, harusnya lo nggak usah dateng. Lo tau kan, ini reuni sekolah. Pasti anggota Inti pada dateng, lo emang gapap ketemu mereka?" Tanya Satrio lagi

Juna terdiam sejenak memikirkan sesuatu. "Alasan gue kesini, karena gue rindu inti. Makanya waktu Claudia ajak gue, gue setuju." Ucapnya dengan mata sedikit berbinar.

"Lihat, disana." Juna menunjuk kearah Jefry dan yang lain.

"Mereka bertiga bahagia tanpa Inti(?) Lihat senyum mereka, lihat seberapa bahagianya mereka, Sat. Berapa tahun gue nggak lihat senyum mereka? Disana." Juna mulai menunjuk kearah Dika yang tengah duduk bersama Clara.

"Walau gue nggak suka Clara, tapi...lihat cara Dika pandang cewek itu. Begitu dalam, ini salah rekor yang Dika pecahin. Pertahanin satu orang, walau dulu tuh anak suka banget ganti pasangan. Mungkin..." Juna menjeda ucapannya

"Mungkin...kalau Inti nggak ada, mereka bisa sebahagia ini(?) Sat... bilang jujur ke gue, lo ngerasa mereka bahagia kan?" Juna menatap Satrio dengan mata berkaca-kaca.

Satrio hanya terdiam. "Benar. Dari cara lo nggak bales perkataan gue, emang gue benar. Kenapa dulu kita buat Inti? Kalau ujung-ujungnya Inti rusak. Sat... seandainya Inti nggak ada, mungkin mereka nggak akan menderita dulu. Gue, sebagai ketua gagal, Sat...gagal..." Lalu, tangisnya pun pecah. Juna tidak bisa menahan air mata itu lagi. Setiap kali membicarakan tentang Inti atau mengingat kenangan itu, air matanya akan jatuh.

"Jun, gue bingung mau ngomong apa. Tapi...lo nggak gagal jadi ketua. Lo berhasil. Lalu, mereka juga bahagia dengan adanya Inti. Jun...lihat," Juna menunjuk ke arah San.

"Lihat senyuman San. Berbeda dengan yang dulu, San yang selalu dikenal ceria, lihat senyumannya itu. Sedikit tertutup, Jun. Dia sedih, rindu, dengan Inti. Lalu lihat Raka. Anak nakal itu, dari cara dia bicara mulai beda Jun. Lo tau kan, Raka punya mulut toa, lihat tuh anak, jarang ngomong. Dia cuman senyum. Lalu, Jefry. Caranya menatap pun beda. Tatapan yang dulu tajam namun hangat, kini berubah. Mereka bertiga rindu Inti Jun. Rindu. Termasuk gue, Hesyam bahkan Dika. Mereka semua itu rindu."

"Mungkin bagi lo gagal, bagi gue dan inti enggak. Lo berhasil, Jun. Lo ketua yang keren." Ucapnya seraya menepuk-nepuk pundak Juna.

Cowok itu hanya bisa terdiam oleh semua kata-kata yang Satrio ucapkan. Ia menatap para anggotanya, "Benar, sat. Mereka rindu Inti..." Ucapnya dengan nada terdengar serak

"Akhirnya, Jun. Lo bisa paham, gue yakin kalau lo kasih tau kebenarannya, mereka bisa bersatu kembali. Hesyam wakil ketua yang selalu ingin Inti bersama. Dika walaupun sedikit egois dan kekanak-kanakan, gue tau pasti dia juga ingin Inti bersama. Jefry, tuan muda itu pasti rindu dengan kenakalan Inti yang selalu minta di jajanin. Gue, walau gue sedikit pendiam dulu tapi gue juga rindu kehangatan, kekeluargaan, persahabatan itu. San, orang yang paling ceria itu pun pasti rindu tertawa bersama Inti. Raka, si bungsu pun pasti rindu bersama kakak-kakaknya. Dan lo Juna, ketua Inti yang selalu dihormati dan dihargai anggota Inti Tujuh, kami rindu Inti."


sorry for typo_

7 KEHIDUPAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang