HAPPY READING 🤍 🤍
....
"Lo denger sendiri kan?! Dia mabuk. Jadi, mending lo pergi aja dari sini." Ujar Tama yang semakin membuat Dika terpancing oleh emosinya.
Dika yang sudah tidak sanggup menahan emosinya itu, pada akhirnya memukul Tama dengan beringas hingga membuat cowok itu hampir kehilangan kesabarannya.
"DIKA!" Seru Clara yang langsung menarik tubuh Dika lalu menampar cowok itu.
Dika terkejut dan mundur beberapa langkah setelah ditampar oleh Clara. Ia memandang Clara dengan mata yang penuh amarah. "Lo... lo berani nampar gue?" Ucap Dika dengan suara yang keras.
Clara menatap Dika dengan mata yang penuh ketegasan. "Ya, gue berani! Karena gue nggak pengen Tama terluka!" kata Clara dengan nada yang tegas.
Dika tersenyum mendengar ucapan Clara. Cowok itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran seraya menatap Tama yang terbujur diatas tanah. "Lo tau akibatnya bangunin singa yang lagi tidur? Lo bakal nyesel, Ra. Gue, Revaldo Dika akan buat lo lebih menderita dari apa yang gue dan Inti rasain saat ini!" Ucapnya dengan tegas sebelum pergi meninggalkan Clara dan Tama.
Tama yang masih terbaring di tanah, perlahan-lahan bangun dan memandang perginya Dika dengan mata yang penuh kemarahan. "Lo bakal tanggung akibatnya, Dik." Gumam Tama.
...
Beberapa bulan berlalu. Ruangan rumah sakit yang tenang dan steril, dengan dinding berwarna putih abu-abu yang memberikan kesan netral dan profesional. Aroma khas rumah sakit yang tidak asing lagi bagi mereka yang sering berkunjung ke tempat ini. Di dalam ruangan ini, beberapa anggota inti keluarga dan teman-teman Juna sedang menjaga Juna yang masih belum sadar.
Mereka duduk di sekitar tempat tidur Juna, dengan wajah-wajah yang penuh kekhawatiran dan harapan. Beberapa di antaranya memainkan ponsel atau membaca buku, sementara yang lain berbicara pelan-pelan untuk mengisi kekosongan ruangan.
Di tengah-tengah keheningan, terdengar suara napas Juna yang teratur, memberikan tanda bahwa ia masih berjuang untuk pulih. Anggota inti keluarga dan teman-teman Juna terus menjaga dan merawatnya, berharap bahwa suatu hari nanti Juna akan sadar dan kembali ke kehidupan normalnya.
Tak luput sosok gadis yang selalu setia menjaganya siang dan malam. Sosok gadis yang selalu berharap Juna segera membuka kedua matanya. Sepanjang hari waktunya hanya ia habiskan untuk menjaganya saja. "Claudia, lebih baik lo istirahat dulu. Satu bulan lo bolak-balik dari rumah kerumah sakit tanpa ada istirahatnya. Kasian tubuh lo," Ujar Satrio yang menatap Claudia kekhawatiran.
Gadis itu hanya tersenyum tipis seraya menatap Juna. "Gapapa, gue baik-baik aja." Ucapnya.
"Mau sebaik apapun kondisi lo, lo harus jaga kesehatan. Juna masih punya Inti, jadi biarin kita yang jaga Juna. Lo pulang dan istirahat." Sambung Jefry.
"Tapi gue mau jagain Juna sampai sembuh." Jawab Claudia yang sedikit keras kepala.
"Nggak usah keras kepala. Juna nggak sendirian, sekarang kita ada disini buat jagain Juna." Ujar Satrio.
"Tap--"
"Satrio bener, lo harus pulang"
Suara itu berhasil membuat Inti dan Claudia langsung terkejut dan menatap Juna dengan mata yang penuh harapan. "Juna...?" Lirih Claudia.
Juna perlahan-lahan membuka matanya, membuat Inti dan Claudia langsung tersenyum bahagia. "Juna, lo udah sadar!" Seru Claudia dengan suara yang gembira.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 KEHIDUPAN [END]
Teen Fiction⚠️ BIASAKAN VOTE AND KOMEN⚠️ Menceritakan tentang 7 pemuda yang memiliki ikatan lebih dari sekedar persahabatan. Kisah ini mengajarkan kita untuk saling percaya dan saling memaafkan satu sama lain.
![7 KEHIDUPAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/369526581-64-k388479.jpg)