DIA ANDINA

134 52 27
                                        

Mentari pagi sudah mulai muncul dari ufuk timur, saatnya Andina memulai aktivitasnya, sarapan menjadi rutinitasnya setiap pagi, lalu dia berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Usman sopir pribadinya.

Saat berjalan memasuki gerbang sekolah semua orang terpesona melihat paras Andina dengan rambut terurai dan poni di dahi yang menjadi ciri khas gadis cantik itu. Sepoian angin membuat helaian rambutnya menjadi tak beraturan, yang membuat semua orang yang melihatnya menjadi terpesona.

''Waaaahhhhh''

''Pagi Andina''

''Itu bidadari ya'' gumam beberapa siswa yang dilewati olehnya.

Banyak juga yang menyapanya seperti

''Pagi Andina cantik''

''Assalamualaikum calon istri''

Seperti itulah ocehan anak-anak yang menggoda Andina. Tetapi Andina sama sekali tidak meresponnya. Tak lama kemudian Hanrita datang menghampiri Andina.

''Andinaaaaaaaaa'' teriak Hanrita sambil berlari menghampirinya.

''Berisik Ta''

''Lo kayak baru kenal gue aja''

''Kebiasaan'' balas Andina sambil menyenggol siku sahabatnya itu.

Lalu mereka menuju ke kelas bersama. Sesampainya di kelas, pickme geng sudah berkumpul di tempat duduk Andina dan Hanrita.

Mereka berdua berjalan menuju tempat duduk yang seharusnya menjadi milik mereka itu.

''Kalian mau pindah duduk di sini?'' tanya Andina pada pickme geng.

''Pindah yuk girls yang punya tempat duduk udah datang bareng selirnya nih'' jawab Cintya dengan sinisnya sembari beranjak dari tempat duduk itu.

Beby, Lili, dan Oca pun mengikuti Cintya dengan lirikan mata yang ditujukan untuk Andina dan Hanrita.

''Bentar-bentar, selir yang kalian maksud itu gue haaaaaa'' ucap Hanrita dengan nada yang sangat kesal.

''Biarin aja Ta'' sahut Andina menenangkan.

''Awas aja kalian!'' ucap Hanrita yang masih dengan amarahnya.

''Baru nyadar dia mirip selir, padahal dia selalu ngikutin Andina'' gumam Cintya sambil membicarakan Dua Pilar SMA PRAMBODYA tersebut.

Beberapa saat kemudian datanglah seorang Guru dengan membawa banyak lembaran kertas putih di tangannya, dia berjalan memasuki pintu kelas dan berkata '' Selamat pagi anak-anak'' sapanya kepada anak- anak sambil tersenyum, dia adalah Pak Selamet Guru Matematika.

''Selamat pagi juga Pak'' jawab anak-anak di kelas itu.

''Ada yang bisa menebak kertas putih yang Bapak pegang sekarang?'' tanya Pak Selamet dengan mengangkat kertas putih yang ada di tangannya.

''Tidak tahu Pak, tidak mau menebaknya juga'' sahut Rian Zidan Ariyo siswa di kelas itu.

Mendengar jawaban Rian membuat teman-temannya tertawa bersama di kelas itu.

''Tidak masalah jika tidak ingin menebak sekarang, Bapak yakin pasti kalian akan berteriak setelah mengetahui isinya''

''Apa itu hasil ujian matematika kita kemarin Pak'' sahut Audrey Teresha.

''Iya, betul sekali kamu'' jawab Pak Selamet sambil tertawa kecil.

''Nggak usah dibagi deh Pak'' ucap Hanrita sambil merengek memohon kepada Pak Selamet agar tidak membagikan hasil ulangan mereka.

HELIANTHUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang