16. If that's the only way to say it

329 29 9
                                        

O.de terkejut ketika Gaon berusaha menjinjit untuk menggapai bibirnya.




Menumpukan tangan ke pipi O.de, Gaon tanpa pikir panjang mempertemukan bibir mereka.




Itu hanya sekilas.




Itu hanya kecupan biasa.




Gaon langsung menjauh dari O.de setelah memberinya ciuman singkat di bibirnya.




Tangannya masih di pipi O.de saat tatapannya bertemu dengan tatapan terkejut O.de.




O.de menatapnya terkejut, debaran dadanya mendadak meningkat dengan tindakan tiba-tiba dari Gaon.




Namun Gaon tanpa beban memberinya senyuman kecil, wajahnya merah, ia tampak gugup namun berusaha menutupinya dengan senyumannya.




"Lo jangan ngambek-ngambek gitu, lucu tau."




Lalu menyengir, dan melepaskan tangannya dari pipi O.de untuk memilih berbalik dan melangkah pergi dari sana tanpa rasa bersalah.




Kabur istilahnya, sudah salting duluan apalagi O.de masih belum bereaksi.




Tapi mana boleh sama O.de, bertindak tapi tidak bertanggung jawab.




Dengan cepat O.de mencegatnya.




Keluarkan tangan dari dalam saku, lalu beralih meraih menggenggam pergelangan tangan Gaon, tarik yang tua untuk berbalik menatapnya lagi.




Ia memberi tatapan menuntut pada Gaon.




"Apa maksudnya itu?"




Gaon angkat bahu, sesekali berusaha menghindari tatapan O.de, "lo tau itu." Gaon ingin berbalik lagi untuk menjauh. Sudah salting sendiri.




Tapi O.de tidak melepas cengkeramannya, dan kembali menariknya untuk menghadap padanya lagi.




"Kenapa lo cium gue?"




Gaon mengerucutkan bibirnya, "lo minta jawaban. Itu udah gue kasih."




O.de lalu terdiam.




Sebenarnya ini sudah jelas kemana perginya, sudah jelas apa maksudnya kenapa Gaon dengan tiba-tiba menciumnya, tapi tentu O.de butuh penjelasan langsung dari Gaon atas dasar apa itu.




Apa ia menyukai O.de juga?




Apa ia membalas perasaan O.de?




Namun dari Gaon yang mengatakan bahwa itu adalah jawabannya, O.de mendapat kesimpulannya.




"Lo ... Serius?"




O.de mengerjap cepat, dan setelahnya ia tidak bisa menahan senyumannya.




Ia tertawa kecil sambil menunduk.




Tidak melepas mencengkeram pergelangan tangan Gaon, masih dengan senyumannya, O.de angkat pandangan lagi.




Dan menatap Gaon sambil memiringkan kepalanya sedikit.




"Jadi, kita pacaran?"




Gaon ingin tersenyum, tapi ia berusaha menahannya sambil mengulum bibirnya.




Lalu tanpa menoleh pada O.de, jari-jari O.de yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan pelan ia lepas, dan tergantikan dengan jari-jemari yang saling mengait.




Gaon got a Mission!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang