20. Paranoid, a song for myself

227 27 1
                                        

O.de bahkan tidak dapat memproses apa yang barusan ia dengar dari Gaon.



Sebuah fakta bahwa Gaon tidak benar-benar menyukainya, tidak benar-benar mempunyai perasaan terhadapnya, fakta bahwa semuanya hanya sandiwara.



Hatinya terasa ditusuk ribuan jarum tak kasat mata, hatinya sakit, ia sudah dibohongi.



Kantong kresek berisi kue stroberi yang sempat ia beli ia remat erat, menjadikan kantong kresek itu sebagai alternatif rasa marahnya ketimbang harus marah-marah dan berteriak.



Ibunya benar, ia tidak boleh banyak berharap.



"Jadi, apa yang lo mau?"



O.de tidak bisa, bahkan kalimatnya jelas terdengar kecewa.



Ia tidak pernah berpikir bahwa Gaon mempunyai sesuatu yang ia inginkan sampai-sampai Gaon rela untuk membodohinya hanya gara-gara hadiah yang ia inginkan dari dua sahabatnya.



Ternyata ia salah, mengatakan bahwa Gaon tidak mempunyai list barang-barang yang ia inginkan, ia salah.



Ia bahkan ternyata belum mengenal Gaon sampai disana, karna jelas selama ini Gaon tidak pernah bercerita tentangnya, hanya O.de yang bercerita.



O.de tiba-tiba merasa bodoh, pasti Gaon muak mendengar ceritanya.



Setelah membuka suara, ia dapat melihat ketiga anak itu langsung menoleh padanya, dan eskpresi terkejut itu di wajah Gaon.



Gaon pasti terkejut bahwa motifnya sudah ketahuan.



Gaon langsung berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Jooyeon dan Jake.



"O— O.de? Sejak kapan lo—"



O.de bahkan tidak membiarkan Gaon menyelesaikan kalimatnya ketika ia memilih melangkah mendekat dan menaruh kantong kresek berisi kue stroberi itu ke atas meja.



Sedangkan Gaon, ia tidak tau apa yang ada di pikirannya selain ia sudah gagal.



Semuanya pasti akan berantakan.



Ia bahkan tidak melirik ke kantong kresek yang O.de berikan karna itu sudah tidak penting ketimbang bagaimana harus membuat O.de mengerti.



"Ini hadiah buat lo karna udah berhasil dengan proyek lagu lo, juga karna udah berhasil buat dapatin gue. Selamat ya."


O.de menatap kedua mata Gaon bergantian, berkata pada dirinya sendiri bahwa inilah seseorang yang telah ia sukai yang melukainya, ia kecewa.


Lalu O.de langsung berbalik untuk hendak pergi, bahkan Gaon tidak sempat mencegatnya ataupun menarik tangannya.



"O.de, bukan gitu, dengerin gue dulu."



Gaon sudah tidak peduli dengan kakinya yang berdenyut ketika ia bawa berlari untuk mengejar langkah O.de.



Namun O.de sama sekali tidak menghiraukannya.



Jooyeon dan Jake juga bingung harus berbuat apa, mereka takut serba salah. Jadi keduanya hanya dengan bingung memperhatikan Gaon yang berusaha mengejar O.de sampai keluar kantin.



"O.de! Tunggu!"



Kakinya terasa sakit, tapi sakitnya tidak lebih penting daripada sakit yang O.de rasakan.



Gaon got a Mission!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang