BAB 22

3.3K 115 6
                                        

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Farel Elang Giandra

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
.
.
.
.
.

Sesampainya mereka di ruang kesehatan mereka tidak menemukan keberadaan Farel,

"Dimana putraku"suara dingin Williem dan tatapan yg masih datarnya tapi,jika di perhatikan lagi di tatapan datar itu ada pancar kekhawatiran.

"Tadi tuan kecil ma~"ucap bodyguard tersebut dengan suara pecahan yg cukup keras

Prang

(Gitu ga sih suara pecahan)

Semua pada diem saat mendengar suara pecahan di pintu kayu berwarna biru yg tertulis 'baby El' tersebut

Prang

Suara perahan kembali terdengar di telinga mereka dengan cepat mereka berlari ke pintu biru tersebut dan ya,saat pintu terbuka bisa mereka liat,kamar yg bersih dan kinclong itu terganti dengan kamar seperti kapal pecah.

Ya kamar yg berantakan kaca pecah di mana',fas bunga yg sudah tidak berbentuk,kasur yg sudah berantakan,bantal di mana',bahkan semua koleksi boneka Doraemon itu sudah berada di lantai semua,dan hal mengejutkan yg membuat mereka marah plus emosi itu adalah




































Farel memegang Cater



Kiara yg panik ingin berjalan ke arah putranya namun di tahan oleh tangan keker anak sulungnya,

"Mom...tidak baik berjalan di semua kaca seperti ini, lebih baik Gibran aja yg ambil baby."ucap Gibran dan berjalan ke arah Farel yg sedang bengong

Gibran berjalan ke arah Farel,setelah nyampai di depan Farel bisa ia liat tatapan kosong Farel yg menetap dirinya,

Buru' Gibran menyingkirkan cater tersebut dari lengan Farel dan melemparnya ke arah lain,

"Hey...bisa denger Abang sayang..."ucap Gibran menggoyangkan tubuh kecil adiknya ini, namun tidak ada jawaban dari adik nya

"Hay...denger abang ya,apa ada yg ganggu adek abang ini hm..."ucap Gibran yg masih berusaha menyadarkan adeknya

"Hiks...abang"suara lirih yg keluar dari mulut kecil tersebut membuat orang yg melihatnya ikut merasakan kesedihan tersebut

"Iya abang di sini....adek jangan takut ya."tutur lirih Gibran di telinga Farel ia juga mengucapkan kata' penenang agar adiknya tidak ketakutan

Setelah beberapa menit Farel telang Gibran membawa Farel keluar kamar dengan hati' takut adek nya kenapa'

Setelah sampai depan kamar Farel Gibran memberikan Farel ke Williem, untuk di bawa ke mana saja lah agar Farel tidak terlalu stress

Williem membawa Farel ke kamar miliknya dan juga kiara karena tidak mungkin Farel tidur di kamar yang seperti kapal pecah itu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Cklek

Williem menaruh Farel keranjang milik ia dan istrinya, iya menidurkan Farel di situ

Viktor berjalan ke arah adik bungsunya dan mulai mengobati luka di kaki dan lengan Farel.

"Tak hanya baby."lembut Viktor lembut menatap adiknya dengan tatapan khawatir

Tidak ada jawaban dari Farel,dan akhirnya Victor mulai mengobati luka Farel dengan secara perlahan.

FARELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang