Narendra
Aku melemparkan jasku ke sandaran sofa. Hari ini sangat berat. Aku baru saja bertemu dengan wanita yang aku cari selama ini. Aku senang dia hidup bahagia di Jogja. Aku khawatir dia terluka di tempat asing yang belum pernah dia datangi sebelumnya.
Aku melepaskan kancing atas kemejaku dan duduk bersandar di sofa. Cuaca Jogja akhir-akhir ini sangat panas dan itu membuatku kegerahan. Walaupun Jakarta juga sama panasnya dengan Jogja tapi tetap saja aku kepanasan karena harus berada di luar ruangan terlalu lama.
"Udah balik lo?"
Aku menoleh kearah sumber suara dan ternyata ada Mahes yang merupakan sahabatku sekaligus rekan kerjaku. Maheswara Soedjoyo.
"Hm," dehemku.
"Gimana tadi? Ketemu doi kan?" tanya Mahes.
"Ketemu," jawabku sekenanya.
Mahes mendekatiku dan duduk di sofa tunggal di sebelahku. Dia melihatku dengan pandangan menelisik.
"Lo yakin dia bakalan mau balik sama lo?"
Aku menatap Mahes yang terlihat serius dengan pertanyaannya. Aku sendiri tak begitu yakin dengan jawaban yang akan aku beri. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu dengan percaya diri dan mengatakannya dengan lantang jika aku yakin. Akan tetapi, keraguan masih menyelimutiku. Apalagi melihat reaksi Fara tadi membuatku semakin ragu. Wanita mana yang masih mau dengan laki-laki yang sudah membuangnya begitu saja dan membatalkan pertunangan mereka?
"Gue udah kenal lo lama, Ren. Gue juga tahu permasalahan lo sama doi. Gue bisa bantu lo dapetin dia tapi gue ga jamin kalo dia bakalan balik sama lo," jelas Mahes.
"Gue tau, Hes. Cowok macem gue ga pantes dapetin maaf dari Fara. Gue udah terlalu parah nyakitin dia."
Seketika itu aku merasa menjadi penjahat paling brengsek di dunia ini. Lelaki sepertiku tak pantas mendapatkan wanita sebaik dan semurni Fara. Fara bagiku adalah penyejuk ketika semua hal tentangku begitu panas. Menjadi pewaris tunggal konglomerat kaya di Indonesia membuatku frustrasi. Banyak pihak yang menginginkan posisi ini. Terutama keluargaku sendiri. Pamanku begitu terobsesi dengan kekayaan milik keluarga Santoso ini.
"Kalo bisa gue bilang nih, lo emang keterlaluan nyakitin dia. Ga perlu sebegitunya buat dia jauh dari lo. Tapi karena gue tau alasan lo ngelakuin itu tentu gue paham maksud sikap lo ke dia."
"Sampe sekarang gue nyesel banget ngelakuin itu ke Fara. Fara itu sebatang kara waktu gue mutusin pertunangan kita. Dia cuma punya gue, Hes, setelah kakek-neneknya meninggal. Tapi sikap gue ke dia bejat banget," erangku, frustrasi.
Mahes menepuk bahuku beberapa kali guna menenangkanku. Dia tentu tahu seberapa cintanya aku ke Fara. Semua yang aku lakukan ke Fara itu untuk kebaikan dirinya nanti. Walaupun caraku salah tapi aku tak punya pilihan lain. Fara harus baik-baik saja.
"Untung aja Pak Rudi mau bantuin lo ngasih tau dimana Fara tinggal sekarang. Kalo ga ada Pak Rudi, pasti lo bakalan nyewa orang buat nyari doi."
Pak Rudi adalah orang kepercayaan keluarga Adiwilaga sekaligus orang yang mengelola bisnis Adiwilaga. Pak Rudi sudah mengabdi pada keluarga Adiwilaga sejak beliau kecil yang saat itu ayahnya yang menjadi orang kepercayaan Prayoga, ayah Fara.
Selama ini Pak Rudi yang membantu Fara untuk tinggal di Jogja setelah dia menyelesaikan SMA-nya di Jakarta. Dalam keadaan terpuruk, Pak Rudi membantu Fara dan merawatnya agar bisa melalui masa sulit itu. Atas permintaan Fara juga, Pak Rudi menyembunyikan keberadaan Fara dari keluargaku. Ayah dan ibuku sibuk mencari Fara yang menghilang setelah aku memutuskan pertunangan kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
HATRED (TERBIT)
Ficción GeneralFaradilla seorang yatim piatu yang tak mempunyai tempat bergantung berhasil keluar dari masa lalu kelamnya yang menorehkan luka teramat dalam di hatinya. Begitu dia bisa menikmati masa kuliahnya di kota Jogja, ujian kembali datang dengan membawa ses...
