"Mbak Tara gak hadir lagi?"
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Beno ketika memasuki ruang rapat yang disambut oleh tim internal Adiputra, khususnya Manajer Divisi Perencana, Tio, yang menjabat satu per satu tangan tim Citratama.
"Mbak Tara diwakili timnya, Pak. Hari ini beliau ada rapat di luar ya, Mbak?" Tio beralih kepada Desi dan Ayu yang memang sudah duduk tenang.
Desi sontak menjawab, "Iya, Pak. Di Hotel Mercure Sabang dengan Mas Aldo."
Tio mempersilakan tim Citratama duduk sambil merespon jawaban Desi, "Berdua terus ya, mereka. Rapat di hotel pula. Sama-sama single, apa gak bahaya?"
Ayu memicingkan mata. "Tara gak gitu, Pak. Udahlah. Fokus ke rapat aja."
Tio terkekeh, lalu menatap sekeliling seraya mencari dukungan. "Bercanda, loh, mbak Ayu. Lagi pula, semisal mereka ada hubungan juga gak apa-apa, loh. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka. Berjodoh dengan rekan kantor, kan, bukan hal buruk. Bahkan baik karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama." Tatapan Tio berhenti pada Putra yang terlihat fokus pada ponselnya. "Mas Putra sudah beristri?"
Putra yang semula fokus menatap layar ponselnya, beralih menatap Tio dengan wajah tanpa ekspresinya. "Belum, Pak."
"Semoga disegerakan ya, Mas Putra. Kalau mau dikenalkan dengan cewek-cewek di kantor ini juga boleh. Sayang sekali jika usia Mas Putra yang masih muda dan sudah cukup mapan, tapi belum punya istri yang menyambut di rumah."
Mata Putra memicing. "Kehidupan pribadi saya sama sekali bukan urusan Bapak atau siapa pun."
Jawaban dingin Putra, bahkan mengeluarkan hawa dingin yang membuat seisi ruangan mendadak diam dan hening. Menyadari perubahan perasaan sang atasan, Beno buru-buru mencairkan suasana dengan berkata, "Ah, kita mulai saja ya, Pak, rapatnya? Biar gak kesorean dan bisa pulang on time semuanya."
Tio mengerjap sebelum mengangguk. "Benar, benar. Mari kita mulai rapatnya. Bismillahirahmanirrahim."
Setelahnya, rapat berlangsung dengan penuh fokus dan keseriusan.
🍀
Udah kelar?
Tara memicingkan mata membaca pesan yang masuk dari Putra. Rapat yang Tara hadiri baru saja berakhir dan Tara berniat untuk langsung pulang ke kosan, beristirahat sambil mendengarkan keras-keras album baru Taylor Swift, The Tortured Poets Department.
"Gue anterin lo ke kosan atau balik ke kantor?"
Perhatian Tara beralih ke Aldo yang baru saja kembali dari toilet. "Balik ke kosan lebih baik sih, Do. Gak apa-apa, kan, kalau lo balikin mobil kantor sendiri?"
Aldo mengangguk kecil. "Ya, gak apa-apa. Gue juga kalau mau langsung balik ujung-ujungnya lewatin kantor."
"Baik banget sih, Do."
Aldo memutar bola matanya sebelum melangkah terlebih dahulu, kemudian disusul Tara, menuju ke tempat di mana mobil operasional kantor mereka terparkir. Di perjalanan menuju ke kosan, barulah Tara sempat membalas pesan dari Putra.
Ini OTW balik kosan.
Tanpa diduga, Putra membalas cepat pesan Tara.
Mau ke Kafe Nawasena? Makan malam?
Tara merenung sesaat membaca pesan itu sebelum mengetik balasan.

KAMU SEDANG MEMBACA
His G
Любовные романыBagaimana rasanya memimpikan seseorang yang bahkan tidak pernah kau kenali sebelumnya, lalu seperti ke luar dari mimpi, orang itu hadir dalam hidupmu dengan banyaknya kebetulan-kebetulan tidak masuk akal?