03

82 11 3
                                        

Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika Jeffrey memutuskan untuk pergi dari masalahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika Jeffrey memutuskan untuk pergi dari masalahnya. Setelah mengemudi selama 2-3 jam, dia akhirnya sampai di jalan yang menuju ke rumah tersebut. Dia berbelok ke jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon-pohon pinus, dan beberapa saat kemudian, pondok vila yang nyaman sudah tampak di depan matanya. Jeffrey tersenyum. "Aku merindukanmu," pikirnya.

Kebahagiaan itu tak berlangsung lama ketika dia melihat sebuah Peugeot berhenti di belakang gerbang. Tubuhnya gemetar, pikiran tentang pembunuh atau pencuri melintas di kepalanya. Dia berdiri di dekat Volkswagen-nya dan menatap mobil itu. Ketika pengemudi keluar, jantungnya hampir berhenti berdetak. Itu adalah Taeyong.

"Mengapa kau ada di sini dan bagaimana kau sampai di sini?" dua pertanyaan pertama yang muncul di kepala Jeffrey.

"Aku melihatmu keluar dari sekolah ketika aku keluar dari kelas," kata Taeyong sambil berjalan ke arahnya. "Dan aku ingin memastikan kau baik-baik saja, jadi aku mengikutimu."

"Ya, tentu saja," Jeffrey tertawa sambil melihatnya, menyembunyikan ketidaknyamanan di balik senyuman itu. Dia menutup pintu mobilnya dan mulai berjalan menuju rumah. Dia membuka kunci pintu dan melangkah masuk. "Jadi, apakah kau akan berdiri saja di sana atau masuk ke dalam?" tanyanya pada Taeyong.

Taeyong segera berlari dan melangkah masuk. "Aku minta maaf, Jeffrey, atas apa yang terjadi hari ini di sekolah," kata Taeyong sambil melepas jaket kulit dan sepatunya.

"Terserah," jawab Jeffrey singkat.

Jeffrey berjalan ke dapur dan membuka kulkas.

Kosong.

"Aku harus pergi ke toko," gumamnya pelan. Dia memutuskan untuk tinggal di sini selama beberapa hari, hanya untuk mencari tahu kehidupan, pikiran, dan emosinya. Dia berjalan ke pintu, mengenakan jaketnya, dan memakai sepatu bot. Taeyong berdiri di dekat pintu sepanjang waktu.

"Umm, bolehkah aku ikut denganmu dan nanti tinggal di sini bersamamu?" tanya Taeyong pelan.

"Aku tidak tahu. Kau boleh ikut denganku, tetapi aku tidak tahu apakah kau boleh tinggal di sini," jawab Jeffrey sambil melangkah keluar dari pintu. Dia menguncinya dan berjalan menuju mobil. Taeyong memundurkan mobilnya dan pergi. Jeffrey duduk di atas Volkswagen-nya dan mengencangkan sabuk pengamannya. Dia menyalakan mobil dan melaju keluar dari gerbang dan hutan.

Ketika berbelok ke jalan utama, dia melihat Taeyong berdiri di pinggir jalan. Jeffrey melewatinya dan Taeyong melaju tepat di belakangnya.

Saat sampai di toko, Jeffrey keluar dan berjalan ke dalam diikuti oleh Taeyong. Jeffrey mengambil banyak junk food tetapi juga banyak makanan sehat. Dia juga membeli teh, banyak teh. Jeffrey suka teh, meskipun dia tidak tahu kenapa. Saat berjalan ke kasir, dia melihat Taeyong datang di belakangnya dengan membawa tas keripik dan sebotol soda. Taeyong mulai mencari dompetnya, tapi Jeffrey mengambil barang-barangnya dan menaruhnya di samping barang-barang Taeyong. "Jangan khawatir, aku akan membayarnya," kata Jeffrey. Kasir itu tersenyum padanya, dan Jeffrey balas tersenyum. Tagihannya lebih dari $200, membuat Taeyong kaget. Jeffrey mengemas semuanya ke dalam tas dan berjalan ke mobilnya.

"Bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Taeyong.

"Lakukan sesukamu. Jika kau ingin ikut, ikutlah, tetapi jika kau tidak mau, tidak usah ikut," jawab Jeffrey sambil meletakkan tasnya ke jok belakang. Dia menutup pintu dan menyalakan mobil. Jeffrey memerlukan beberapa pakaian, laptop, kamera, selimut, bantal, dan boneka Batmannya. Jadi pada dasarnya dia membutuhkan barang-barang dari rumahnya. Dia pergi dan melihat Taeyong mengikuti lagi.

Ini sungguh mengganggu dan sedikit banyak membuat ketidaknyamanan pada Jeffrey.

Sesampai di rumahnya, Jeffrey keluar dan berjalan ke pintu dan membuka pintu lantas berlari ke kamarnya. Mengeluarkan tas travel besarnya, memasukkan barang-barang yang sebelumnya dia inginkan ke dalamnya. Jeffrey mengambil laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas laptop yang diberikan ibunya untuk Natal. Dia mengambil tasnya dan berjalan ke bawah.

Lagi dan lagi, Jeffrey melihat Taeyong berdiri di ruang tamu, melihat foto-foto yang terpajang. Dia meletakkan tasnya di sofa dan berjalan ke rak film. Mengambil semua DVD Batman, dia memasukkannya ke dalam tas. Jeffrey mengambil selimut Batmannya yang lain dan memasukkannya ke dalam tas juga.

"Apakah ini ayahmu?" tanya Taeyong sambil berjalan ke arah Jeffrey dengan foto di tangannya.

Jeffrey mengangguk dan mengambil foto itu dari tangan Taeyong, memasukkannya ke dalam tas laptopnya. Saat dia hendak mengambil tasnya, Taeyong mengambilnya dan membantu membawakannya. Jeffrey mengambil laptopnya, merasa yakin tak ada yang dilupakan, lalu bergegas menutup kembali pintu dan menguncinya. Dia berjalan menuju mobil, sementara Taeyong meletakkan tasnya di kursi belakang di samping tas lainnya. Setelah melihat sekeliling, Taeyong melangkah mendekati Jeffrey dan mencium pipinya.

"Benar-benar penguntit sialan!" pikir Jeffrey, merasa terganggu oleh tindakan Taeyong yang tiba-tiba dan tak diinginkan itu.

TBC

Breakeven [JaeYong]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang