"I'm still alive but I'm barely breathing."
Semuanya berawal dari kepura-puraan, perasaan yang berusaha disembunyikan, dan kebohongan terhadap diri sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Taeyong membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai menyentuh wajahnya dengan lembut, seperti sapuan tangan yang menenangkan. Perasaannya pagi ini lebih tenang, lebih ringan, seolah sebagian beban yang selama ini menyesakkan dadanya telah menguap bersama udara malam. Dia tahu alasannya. Bukan hanya karena waktu yang membantu menyembuhkan luka, tetapi juga karena Jeffrey, sosok yang kini berbaring di sebelahnya, menjadi jangkar di tengah badai emosinya.
Taeyong menatap wajah Jeffrey yang sedang tertidur lelap. Ada ketenangan di sana, senyuman kecil yang muncul seolah dia tengah bermimpi indah. Tanpa sadar, Taeyong tersenyum. Perlahan, dia menunduk, memberikan ciuman lembut di kepala Jeffrey, seperti tanda terima kasih yang tak terucap. Ketika Jeffrey bergerak sedikit, Taeyong berbisik pelan, “Tidur saja. Aku akan membuatkan sesuatu untukmu.”
Dengan hati-hati, Taeyong bangkit dari tempat tidur, memastikan tidak membangunkan Jeffrey. Dia melangkah ke dapur, tubuhnya masih diliputi rasa hangat dari pelukan Jeffrey sebelumnya. Di dapur, dia mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat pancake. Pancake ini istimewa; resepnya adalah warisan dari neneknya, yang selalu membuatnya setiap hari. Dia melapisi pancake dengan selai cokelat, menambahkan irisan stroberi segar, dan menyempurnakannya dengan sedikit taburan gula bubuk.
Saat Taeyong sedang memanaskan teh untuk Jeffrey, Juliet, ibu Jeffrey, muncul di dapur. Wajahnya dihiasi senyum lembut. “Terimakasih, sudah sangat perhatian pada Jeffrey, Taeyong,” kata Juliet sambil memandang Taeyong yang sibuk. “Dia sangat beruntung memilikimu.”
Taeyong tersipu. “Aku hanya ingin berterima kasih, bibi. Dia sudah begitu banyak membantuku selama ini.” Juliet mendekat, menepuk lembut bahu Taeyong. “Panggil saja aku ibu, jika kau merasa lebih nyaman,” katanya, suaranya hangat seperti sinar matahari pagi. Taeyong mengangguk, hatinya terasa lebih diterima dalam keluarga ini.
Dengan hati-hati, Taeyong membawa nampan berisi pancake dan teh ke kamar. Jeffrey masih tertidur, dan Taeyong tidak bisa menahan senyumnya melihat wajah damai itu. Dia duduk di tepi tempat tidur, menyentuh bahu Jeffrey perlahan. “Bangun, Jeff. Aku punya sesuatu untukmu,” katanya lembut. Jeffrey membuka matanya, dan saat melihat Taeyong, dia langsung tersenyum.
“Apa ini? Sarapan di tempat tidur?” Jeffrey menggoda, suaranya masih serak karena baru bangun tidur.
“Ini cara untuk bilang terima kasih,” jawab Taeyong, menyelipkan senyum kecil. “Terima kasih karena kau selalu ada untukku.”
Jeffrey menggeleng sambil tersenyum. “Aku tidak butuh ucapan terima kasih. Kau bersamaku saja sudah cukup.”
Setelah sarapan selesai, mereka turun bersama ke ruang makan. Di sana, Juliet memuji pancake buatan Taeyong. “ini sangat enak, Taeyong. Apa kau pernah berpikir untuk membuka kafe?” katanya dengan mata berbinar. Taeyong tertawa kecil. “Resepnya dari nenek. Dia selalu bilang, makanan yang dibuat sepenuh hati bisa menghasilkan jiwa pada makanan.”
Waktu berlalu, dan Juliet mengumumkan bahwa mereka akan pergi keluar rumah pukul 1 siang. Taeyong kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Saat dia berjalan ke kamar mandi, Jeffrey memanggilnya dari tempat tidur. “Hei, peluk aku dulu sebelum kau mandi,” katanya sambil membuka tangannya lebar-lebar. Taeyong tertawa kecil, mendekat, dan memberikan pelukan singkat. “Dasar manja,” katanya, sebelum menghilang ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Taeyong memilih pakaian dari lemari Jeffrey. Dia menemukan kaos hitam dengan tulisan “Love is Love” di bagian depan. Pakaian itu sederhana, tetapi baginya, penuh makna. Dia memadukannya dengan kemeja flanel biru dan sneakers putih, tampilannya kasual namun rapi. Saat melihat dirinya di cermin, dia tersenyum kecil, merasa percaya diri dengan pilihannya. Sebelum turun, dia mengambil kalung milik neneknya dari meja nakas. Kalung itu adalah pengingat akan cinta dan kekuatan, sesuatu yang selalu ingin dia bawa ke mana pun.
Jeffrey sudah menunggu di bawah, tampak segar dan tampan dalam pakaian favoritnya. “Kau siap?” tanya Jeffrey sambil mengulurkan tangan. Taeyong mengangguk, menyambut uluran tangan itu dengan senyum. Mereka berpegangan tangan saat keluar bersama Juliet dan nenek Jeffrey.
Ketika mereka masuk ke dalam mobil, Taeyong menoleh ke arah Jeffrey, dan mata mereka bertemu. Dalam keheningan itu, mereka tidak perlu berkata-kata. Rasa sayang mereka cukup jelas, terlukis dalam tatapan yang diberikan oleh keduanya.