"I'm still alive but I'm barely breathing."
Semuanya berawal dari kepura-puraan, perasaan yang berusaha disembunyikan, dan kebohongan terhadap diri sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebelumnya
Saat Taeyong terbangun, ia merasakan tangan Jeffrey melingkari pinggangnya. Merasa sangat mati rasa, Taeyong melepaskan genggaman tersebut dan berdiri. Ia melangkah ke kamar mandi dan menatap dirinya di cermin. Matanya merah dan berkilau; semua perasaan malam sebelumnya kembali menghantui pikirannya—betapa ia hampir menyakiti Jeffrey.
"Aku harus pergi," bisiknya pada diri sendiri. Secara diam-diam, Taeyong kembali ke kamar Jeffrey, segera berpakaian, dan menulis catatan untuk Jeffrey. Setelah meninggalkan catatan itu, ia pun keluar rumah dan berjalan kaki menuju rumah kakaknya yang tidak terlalu jauh.
***
Sesampainya di sana, Taeyong mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh 'teman kencan' kakaknya yang tampak kesal.
— "Umm, ada yang bisa kubantu?" tanya gadis itu dengan nada yang jelas tidak ramah.
— "Kau tidak bisa, tapi kakakku bisa," jawab Taeyong sambil melewatinya.
Gadis itu berteriak, "Kaupikir mau pergi ke mana?"
"Aku akan menemui kakakku karena aku butuh dia setelah sahabatku meninggal beberapa hari yang lalu," teriak Taeyong lebih keras.
Tak lama kemudian, kakaknya, Thomas, turun tangga dan bertanya, "Apa yang terjadi di sini?"
Gadis itu menyela, "Ini jelas-jelas pecandu narkoba yang baru saja masuk dan memberitahuku bahwa kai adalah saudaranya." Dengan nada sinis, Thomas menatap Taeyong, lalu gadis itu, dan berkata, "Keluar, sialan. Tidak seorang pun, tidak ada seorang pun yang menyebut adikku pecandu narkoba. Pergi sekarang dan kembalikan bajuku."
"Terserah," jawab gadis itu sambil berlalu keluar.
Thomas kembali bertanya, "Jadi, apa yang salah? Maaf, tapi kamu tampak mengerikan."
Taeyong pun menjawab, "Ini tentang Jack. Dia meninggal karena overdosis obat beberapa hari yang lalu. Kemarin adalah pemakamannya. Aku sudah menangis selama dua hari. Jeffrey, terus menghiburku, tapi tadi malam..." Ia terdiam sejenak, menatap Thomas yang hanya mengangguk. "Tapi tadi malam, aku tiba-tiba merasakan kemarahan dalam diriku. Bahkan sebelum aku sempat bereaksi, aku sudah menciumnya dengan sangat kasar. Aku merobek bajunya—ya, merobek. Aku merasa perlu menumpahkan amarahku pada seseorang yang kucintai. Ketika aku mulai melepas celananya, dia menyuruhku berhenti, namun aku tidak berhenti. Dia mencoba mendorongku menjauh, tetapi aku tetap memaksakan diriku padanya.. Aku berhenti hanya setelah pikiranku kembali sadar. Aku merasa sangat bersalah. Aku baru saja berangkat satu jam yang lalu dan meninggalkan pesan untuknya. Aku berharap dia tidak datang ke sini. Aku merasa terlalu bersalah," ujar Taeyong sambil menunduk.
Thomas mendekat dan memeluknya. "Kemarahanmu telah menguasaimu. Tapi apakah kau merasa telah bertengkar karenanya?"
Taeyong menggeleng. "Aku minta maaf, tapi dia malah mengatakan bahwa dia yang harus meminta maaf karena tidak siap. Namun, itu salah. Aku yang memaksanya."
"Mungkin cobalah bicara jujur, karena tidak baik menyimpan hal seperti itu," saran Thomas sambil memeluk Taeyong.
"Baiklah, aku akan menemuinya sekarang," kata Taeyong sambil berdiri.
Tak lama berselang dari obrolan kedua saudara itu, terdengar suara ketukan di pintu. Thomas berlari ke atas sambil berkata, "Bicarakan semuanya dengan baik-baik," sebelum menutup pintu kamarnya.
Taeyong membuka pintu dan mendapati Jeffrey berdiri di sana, melingkari lehernya. "Jeffrey," bisik Taeyong, merasa sangat senang bisa kembali berada dalam pelukan Jeffrey.
Jeffrey kemudian melingkarkan kakinya di pinggang Taeyong, sedangkan Taeyong menutup pintu sebelum menuju ke ruang tamu. Di sofa, Taeyong duduk dengan Jeffrey yang masih memeluknya.
"Jeffrey, kita perlu bicara," ujar Taeyong. Jeffrey melepaskan pelukannya dan menatap Taeyong dengan tatapan takut.
"K-kau tidak akan meninggalkanku, kan?" tanya Jeffrey dengan suara gemetar.
"Jangan pernah khawatir, Jeffrey. Aku milikmu," jawab Taeyong, seraya merasakan Jeffrey semakin rileks dalam pelukannya.
"Aku ingin membicarakan tentang tadi malam. Aku ingin mengakui bahwa aku sangat menyesal telah melakukannya. Kau berhak marah padaku. Tiba-tiba saja aku merasakan kemarahan dan ingin melampiaskannya, sehingga aku minta maaf karena telah memaksamu," jelas Taeyong sambil menatap mata kecoklatan Jeffrey.
"Aku sudah bilang tidak apa-apa. Aku berjanji," jawab Jeffrey, kemudian mencium bibir Taeyong. Taeyong pun tampak menikmati setiap detiknya.
Saat Taeyong menarik diri, Jeffrey meletakkan tangannya di lehernya dan menyandarkan kepalanya di bahu Taeyong. Taeyong mendengar bisikan Jeffrey, namun tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa katamu?" tanya Taeyong lembut.
"Aku bilang aku sangat beruntung memilikimu dan aku sangat mencintaimu, Taeyong," jawab Jeffrey. Taeyong pun memeluknya lebih erat.
"Aku juga dan bahkan merasa lebih beruntung memilikimu," ujar Taeyong, seraya merasakan senyum Jeffrey yang tersirat di lehernya.
Namun, Taeyong sangat bingung ketika tiba-tiba gelombang kesedihan kembali menghampirinya. Mata itu mulai berair, dan ia membenamkan wajahnya di bahu Jeffrey, membiarkan air mata mengalir. Jeffrey mengangkat kepalanya, mencium kening Taeyong, lalu memeluknya kembali sambil mengelus rambutnya.