"I'm still alive but I'm barely breathing."
Semuanya berawal dari kepura-puraan, perasaan yang berusaha disembunyikan, dan kebohongan terhadap diri sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeffrey dan Taeyong tiba di tempat perhentian berikutnya, sebuah lokasi yang sangat bermakna bagi Jeffrey. Mobil berhenti di area terbuka dengan pemandangan yang tenang. Jeffrey turun terlebih dahulu, lalu menunggu Taeyong keluar dari mobil. Ia meraih tangan Taeyong dan mengaitkan jari mereka. "Ayo jalan," katanya lembut.
Taeyong tersenyum kecil dan mengikuti langkah Jeffrey, menikmati keheningan di antara mereka.
Saat mereka berjalan, Taeyong mulai bertanya dengan suara pelan, tetapi jelas: "Jeffrey, di mana ayahmu? Aku melihat fotonya di rumahmu, tapi tidak ada cerita lain tentang dia."
Langkah Jeffrey terhenti. Ia menghela napas panjang dan duduk di atas rumput. Taeyong, memahami perubahan suasana hati Jeffrey, ikut duduk di sebelahnya, menunggu tanpa mendesak.
"Baiklah," Jeffrey memulai dengan suara gemetar. "Ayahku sudah tiada. Dia meninggal dua tahun lalu, hanya seminggu sebelum kami pindah ke sini bersama ibu. Kami berencana untuk memulai hidup baru bersama, tapi ayah tidak pernah sempat melihat rumah kami."
Air mata mulai mengalir di pipi Jeffrey. Taeyong, tanpa ragu, memeluknya erat. "Aku turut berduka, Jeffrey. Tapi... apa yang terjadi?" tanyanya hati-hati.
Jeffrey menunduk, menghapus air matanya. "Kecelakaan mobil. Sebuah truk menabraknya. Dia koma selama tiga minggu, lalu... jantungnya berhenti berdetak." Suaranya pecah. "Dan aku merasa ini salahku."
Taeyong terkejut. "Bagaimana bisa kau menyalahkan dirimu sendiri untuk sesuatu yang seperti itu?"
Jeffrey terisak. "Karena aku yang memintanya datang. Malam itu, aku pergi ke pesta yang berakhir buruk. Aku dipukuli, dan aku menelepon ayah untuk menjemputku. Dia begitu khawatir sampai tidak memperhatikan lampu merah. Dia melanggar dan ditabrak."
Taeyong memeluk Jeffrey lebih erat. "Jeffrey, dengarkan aku. Itu bukan salahmu. Itu kecelakaan, tidak lebih. Jangan pernah menyalahkan dirimu untuk sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan."
Kata-kata Taeyong diiringi dengan ciuman lembut yang membuat Jeffrey sedikit tenang. Saat mereka saling memandang, Taeyong berkata, "Kau luar biasa, Jeffrey. Aku harap kau tahu itu."
Jeffrey tersenyum kecil. "Aku biasa datang ke sini untuk menangis, untuk berteriak, agar rasa sakitnya hilang."
Taeyong menatapnya dengan lembut. "Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Aku ingin tempat ini menjadi milik kita juga," jawab Jeffrey. "Tempat kecil kita yang spesial."
Taeyong mengangguk penuh pengertian, lalu berdiri sambil menarik tangan Jeffrey. "Ayo pulang. Aku ingin menonton film bersamamu."
Jeffrey tersenyum, lalu bangkit berdiri. Mereka berjalan kembali ke mobil, tangan mereka tetap bertaut.
Sesampainya di rumah, Jeffrey berteriak ringan, "Kami pulang!"
Ibu dan nenek Jeffrey muncul di ruang tamu, menyambut mereka dengan senyum hangat. "Bagaimana kencan kalian?" tanya neneknya.
Taeyong menjawab dengan senyum lebar. "Sungguh luar biasa. Cucu Anda adalah orang yang luar biasa."
Nenek Jeffrey tertawa kecil. "Aku tahu itu."
Jeffrey dan Taeyong naik ke kamar untuk bersantai. Mereka mengganti pakaian menjadi lebih nyaman, lalu berbaring bersama di tempat tidur. "Bagaimana kalau kita menonton hiburan sebentar?" tawar Jeffrey.
Taeyong mengangguk setuju, dan mereka tertawa bersama selama film berlangsung. Namun, tawa itu terhenti ketika ponsel Taeyong berdering. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat saat ia mendengarkan suara di ujung telepon. Setelah panggilan berakhir, Taeyong meletakkan ponsel dengan tangan gemetar.
"Taeyong, apa yang terjadi?" tanya Jeffrey khawatir.
"Itu sahabatku..." jawab Taeyong dengan air mata menggenang. "Dia meninggal karena overdosis obat."
Jeffrey segera meraih Taeyong dalam pelukannya. "Aku sangat menyesal mendengar itu. Aku di sini untukmu," katanya lembut.
"Pemakamannya besok. Maukah kau ikut denganku? Aku butuh dukunganmu," pinta Taeyong dengan suara pelan.
"Tentu saja aku akan datang. Aku akan selalu ada untukmu," jawab Jeffrey tanpa ragu.
Mereka duduk dalam keheningan, dengan Taeyong menangis di dada Jeffrey. Hingga jam 3 pagi, Taeyong akhirnya tertidur karena kelelahan. Jeffrey menyelimutinya dengan lembut, mencium kepalanya, lalu ikut tertidur.
Keesokan paginya, isak tangis Taeyong membangunkan Jeffrey. "Aku tidak bermaksud membangunkanmu. Maaf," kata Taeyong.
Jeffrey menggeleng dan mengusap pipi Taeyong. "Tidak apa-apa. Kita harus bersiap-siap, ya?" katanya lembut.
Taeyong mengangguk, dan mereka mulai bersiap. Jeffrey mengenakan jas hitamnya, sementara Taeyong, yang tidak memiliki jas, diberi pinjaman jas Jeffrey yang lain.
"Aku menunggumu di bawah," kata Jeffrey sebelum meninggalkan kamar.
Taeyong mengangguk, mengambil napas dalam-dalam, dan menyelesaikan persiapannya.