23

45 1 0
                                        

Jeffrey duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya yang tak kunjung memberikan kabar dari Taeyong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeffrey duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya yang tak kunjung memberikan kabar dari Taeyong. Hatinya terasa hampa sejak pria itu pergi tanpa penjelasan. Seminggu yang lalu, mereka menghabiskan hari yang begitu sempurna di Disneyland bersama ibu dan nenek Jeffrey. Suara tawa, kehangatan, dan kebahagiaan masih terngiang di pikirannya, tetapi semua itu sirna begitu Taeyong memutuskan untuk pergi. Ia membawa dirinya, dan rasa hampa pada Jeffrey.

Satu Minggu Sebelumnya

Setelah pulang dari taman hiburan, rumah Jeffrey dipenuhi dengan keceriaan. Ibu dan nenek Jeffrey berbincang di ruang tamu, berbagi cerita tentang wahana-wahana yang mereka coba. Jeffrey tersenyum, merasa bahwa hari itu adalah salah satu momen terindah dalam hidupnya. Namun, senyuman itu memudar ketika ia masuk ke kamar dan menemukan Taeyong sedang mengemas barang-barangnya.

"Tae, kau sedang apaA?" tanya Jeffrey, kebingungan.

Taeyong mengangkat wajahnya sejenak, matanya terlihat dingin dan sedikit berbeda. "Aku akan pergi ke rumah kakakku untuk beberapa hari."

Jeffrey terdiam, merasa ada sesuatu yang salah. "Kenapa? Kita baru saja melalui hari yang luar biasa. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"

Taeyong menghela napas panjang. "Ini bukan tentang kau, Jeff. Aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri. Tolong, jangan paksa aku menjelaskan."

Lagi?

Jeffrey mendekatinya, mencoba menyentuh lengannya, tetapi Taeyong menghindar. "Kau tidak perlu melakukan ini sendirian. Jika ada yang salah, kau bisa bercerita padaku," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Namun, Taeyong tetap diam. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar tanpa menoleh ke belakang. Pintu tertutup dengan suara lembut, tetapi bagi Jeffrey, itu terdengar seperti dentuman keras yang menghancurkan hatinya.

***

Hari Ini

Sejak kepergian Taeyong, Jeffrey mencoba mengalihkan pikirannya dengan merencanakan ulang tahunnya yang ke-18. Ia tidak ingin pesta besar, hanya makan malam kecil dengan teman-teman dekat, diikuti malam yang tenang bersama ibu dan neneknya. Ia berharap kesederhanaan itu dapat mengisi kekosongan yang ia rasakan.

Namun, saat ia sedang memilih pakaian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Thomas muncul di layar.

"Taeyong ada di rumah sakit. Datanglah secepat mungkin. Kamar 321 di lantai 3."

Pesan itu seperti petir di siang bolong. Jeffrey merasa dunianya berhenti. Dengan tangan gemetar, ia menelepon Thomas.

"Apa yang terjadi, Thomas? Kenapa dia di rumah sakit?" suaranya terdengar putus asa.

Thomas terdengar tenang, meski ada nada prihatin di suaranya. "Aku tidak tahu banyak, Jeff. Yang aku tahu, dia terlihat sangat lemah. Kau harus datang sekarang."

Jeffrey langsung berlari ke bawah. "Bu, aku butuh mobil. Taeyong ada di rumah sakit!" katanya panik, matanya berkaca-kaca.

Ibunya terkejut dan khawatir. "Apa dia baik-baik saja?"

"Aku tidak tahu. Aku harus pergi sekarang!"

Tanpa ragu, ibunya menyerahkan kunci mobil. Jeffrey melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Jalanan malam terasa sepi, tetapi hati Jeffrey penuh dengan kegelisahan yang menggema di setiap sudut pikirannya.

Setibanya di rumah sakit, ia berlari menuju lift, menekan tombol lantai tiga dengan gemetar. Pikirannya penuh dengan berbagai skenario buruk, tetapi ia berusaha mengusir semuanya. "Dia akan baik-baik saja," bisiknya pada diri sendiri.

Ketika ia tiba di kamar 321, ia membuka pintu perlahan. Pemandangan yang ia lihat menghancurkan hatinya. Taeyong terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat, tubuhnya tampak rapuh. Namun, saat mata mereka bertemu, Taeyong tersenyum kecil, sebuah senyuman yang penuh kehangatan meski lemah.

"Taeyong..." Jeffrey berbisik, matanya mulai memerah. Ia berjalan mendekat, berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Taeyong dengan erat.

"Kau datang," suara Taeyong terdengar serak, tetapi masih ada kelembutan di sana.

"Tentu saja aku datang. Kau menghilang begitu saja, dan sekarang aku menemukanmu di sini. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak bilang apa-apa padaku?" Jeffrey bertanya dengan nada lirih, hampir seperti memohon.

Taeyong menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari kata-kata. "Aku tidak ingin kau khawatir. Aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri... tapi ternyata tidak."

Jeffrey menggenggam tangan Taeyong lebih erat, seolah takut kehilangannya lagi. "Kau tidak perlu menghadapinya sendirian. Aku ada di sini untukmu, Taeyong. Kau tidak pernah sendiri."

Thomas, yang berdiri di sudut ruangan, melangkah mendekat. "Jeffrey, dokter bilang Taeyong membutuhkan perawatan intensif. Kita semua di sini untuk mendukungnya."

Jeffrey mengangguk, matanya tidak pernah lepas dari wajah Taeyong. "Aku akan melakukan apa saja untukmu. Aku tidak peduli betapa sulitnya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu disini."

Air mata mengalir di sudut mata Taeyong. "Terimakasi.. Terimakasih, Jeffrey."

Ruangan itu terasa dipenuhi dengan keheningan yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Jeffrey bersumpah dalam hatinya bahwa ia akan tetap berada di sisi Taeyong, melalui suka maupun duka. Cinta mereka mungkin diuji, tetapi ia tahu bahwa bersama, mereka bisa menghadapi apa pun.

Malam itu, di tengah keheningan rumah sakit, mereka menemukan kembali apa yang benar-benar penting: cinta, ketulusan, dan kehadiran satu sama lain.

To Be Continued

Breakeven [JaeYong]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang