"I'm still alive but I'm barely breathing."
Semuanya berawal dari kepura-puraan, perasaan yang berusaha disembunyikan, dan kebohongan terhadap diri sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat Jeffrey memeluk Taeyong yang menangis di dadanya, dia melihat Thomas, kakak Taeyong, turun dari tangga. Thomas hanya tersenyum kecil sebelum berjalan menuju dapur. Jeffrey tetap memeluk Taeyong erat dan mengusap lembut rambutnya, berharap itu bisa membuatnya lebih tenang.
Setelah beberapa saat, tangisan Taeyong mulai mereda. Dia tetap memeluk Jeffrey erat, seolah tidak ingin melepaskan. Jeffrey mengalihkan pandangannya ke Thomas yang kini duduk di kursi ruang tamu. "Hei, aku Thomas, dan kau pasti Jeffrey, kan?" tanya Thomas sambil tersenyum ramah.
Jeffrey mengangguk pelan. "Senang akhirnya bisa bertemu dengan orang yang telah mencuri hati adikku," kata Thomas dengan nada bercanda.
"Senang bertemu denganmu juga," balas Jeffrey sambil menjabat tangan Thomas.
Tiba-tiba, Taeyong, yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Jeffrey, berkata dengan suara serak, "Thom, aku akan tinggal bersama Jeffrey. Apa itu tidak apa-apa?" Suaranya terdengar ragu dan pelan.
Thomas menatap Taeyong sebentar sebelum tersenyum lembut. "Tentu saja. Kalau itu membuatmu bahagia, pintuku selalu terbuka untuk kalian berdua," katanya tanpa ragu.
Setelah mendengar itu, Taeyong melepaskan pelukan dari pinggang Jeffrey dan berdiri. Jeffrey juga bangkit, tetapi Taeyong langsung merangkul pinggangnya lagi dengan erat. "Ayo kita menonton film," kata Taeyong dengan suara pelan. "Terserah film apa, asal bukan horor," tambahnya dengan nada datar.
Thomas tersenyum kecil sebelum berdiri dan memasang film di televisi. Jeffrey tersenyum saat melihat film yang dipilih. Dia berharap film itu bisa membuat Taeyong tersenyum, atau bahkan tertawa.
Di tengah-tengah film, ponsel Jeffrey berbunyi. Ada notifikasi dari Instagram. Thomas rupanya memotret momen saat Taeyong menangis di pelukan Jeffrey, meski di foto itu mereka tampak hanya sedang berpelukan erat. Caption-nya berbunyi, "Senang melihat adikku bersama seseorang yang mencintainya dan yang membuatnya bahagia. #ProudBigBrother."
Jeffrey tersenyum kecil, menyukai foto itu, dan menyimpannya sebagai layar kunci ponselnya.
"Foto yang bagus, Thom," kata Taeyong pelan sambil tersenyum kecil.
"Aku tidak bisa menahan diri. Kalian terlihat sangat manis," kata Thomas sambil tertawa kecil.
Setelah film selesai, Jeffrey dan Taeyong kembali ke rumah Jeffrey. Ibu Jeffrey menyambut mereka dengan hangat. "Hello boys, makan malam sudah siap," katanya sambil tersenyum. Taeyong langsung memberi tahu bahwa mereka tadi berada di rumah Thomas. Ibu Jeffrey hanya mengangguk dan mempersilakan mereka ke dapur untuk makan malam.
Saat Jeffrey mengambil sepotong pizza untuk dirinya sendiri, Taeyong tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang. "Aku mau satu potong lagi," katanya pelan, hampir berbisik. Jeffrey mengangguk, mengambilkan sepotong pizza, dan menyerahkannya ke piring Taeyong. Setelah selesai makan, mereka mencuci piring bersama. Taeyong menggandeng tangan Jeffrey saat mereka berjalan menuju kamar.
Di kamar, Taeyong duduk di tempat tidur, lalu menarik Jeffrey duduk di pangkuannya seperti sebelumnya. Dia melingkarkan kakinya di pinggang Jeffrey dan menyandarkan kepalanya di bahunya. "Aku menyayangimu, Jeffrey," bisik Taeyong pelan.
"Aku juga, Taeyong," balas Jeffrey, memeluk Taeyong lebih erat.
Jeffrey merasakan bahunya basah. Taeyong kembali menangis. Dia hanya memeluknya erat, mencium kepalanya, dan berkata, "Tidak apa-apa, menangislah. Kehilangan seseorang yang kita sayang itu menyakitkan. Aku tetap akan disini apa pun yang terjadi."
Taeyong tersenyum kecil setelah menghapus air matanya. Dia berjalan ke laptop Jeffrey, memutar musik lembut, lalu menarik tangan Jeffrey. "Ayo bantu aku melepaskannya. Anggap ini penutup hari buruk kita dengan sesuatu yang manis," katanya. Jeffrey tersenyum dan membiarkan dirinya dituntun. Mereka menari pelan dalam keheningan, hanya ditemani suara musik. Setiap kali bibir mereka bertemu, Jeffrey merasa ada kupu-kupu beterbangan di perutnya.
Ketika lagu berakhir, Taeyong menatap Jeffrey dengan serius. "Aku ingin kita terus seperti ini, Jeff. Apa kau mau menjadi pacarku?" tanyanya dengan suara penuh harap. Jeffrey tersenyum lembut, memeluk Taeyong erat, dan berkata, "Tentu saja. Aku mau. Aku benar-benar mau."
Malam itu, mereka berbaring di tempat tidur dengan Taeyong memeluk Jeffrey erat. "Sekarang giliranku yang memelukmu," kata Taeyong dengan senyum kecil. Jeffrey hanya tersenyum, membalas pelukan itu, dan mereka tertidur bersama dengan senyum di wajah masing-masing.