Senin adalah hari yang paling tidak disukai Nara, marena ia harus mengeluarkan pikiran dan tenaga ekstra untuk mata pelajaran fisika dan kimia yang paling tidak disukainya.
Kadang gadis bersurai hitam itupun heran akan dirinya sendiri, ia segitu tak menyukai mata pelajaran kimia dan fisika, mengapa ia memilih IPA sebagai program studinya.
Untungnya kelas terakhir jamkos, para guru sedang ada rapat membahas ujian akhir semester. Jadi Nara bisa merebahkan kepalanya dimeja dan memulihkan tenaganya.
"Nar yaealah, lemes amat Lo." Tutur Tania disebelahnya. "Dari pada gabut dikelas nonton anak eskul basket aja yuk!" Sabungnya.
Nara tidak bergeming. Eskul basket memang sering kali unjuk gigi tiap ada kesempatan, bahkan jamkospun mereka manfaatkan untuk latihan. Tapi—ia malas untuk menonton saat matahari tengah terik-teriknya.
"Nar ayolah Nar... Ikut yuk nonton!" Bujuk Tania sembari mengguncang pelan tubuh Nara.
"Aduh panas Tan, ogah gue." Jawabnya.
Tania masih berusaha membujuk temannya itu sampai sebuah notifikasi pesan di ponsel Nara menghentikan Tania. Gadis itu bersorak gembira saat Nara mengatakan akan ikut menonton.
Kelas mereka tak begitu jauh dari lapangan outdoor, Nara dan Tania langsung duduk di tribun penonton sesampainya di sana. Lapangan sudah ramai penonton yang didominasi kaum hawa, padahal eskul basket akan bermain sepuluh menit lagi.
Nara menanti-nanti kedatangan orang yang mengirimkan pesan padanya. Katanya laki-laki itu akan ikut bermain.
Akhirnya orang yang ia tunggu-tunggu datang bersamaan dengan seluruh anggota tim basket yang akan bermain. Rupanya yang membuat mereka lama karena mereka ganti pakaian menggenakan Jersey.
Sebelum ke lapangan tadi Nara sempat ke kantin terlebih dahulu, karena Reza minta dibawakan minuman isotonik. Nara menggenggam erat-erat dua minuman isotonik permintaan Reza.
Saat Reza melirik ke arah tribun dan mata mereka bertemu laki-laki itu tersenyum lebar. Nara semakin semangat menonton, meskipun panas terik tidak akan membuat semangatnya hilang.
Tania disebelahnya keheranan, "kenapa Lo? Nggak kesambet kan?"
Nara menggeleng sambil tetap senyum-senyum sendiri.
Tania tidak ambil pusing dengan tingkah aneh temannya, ia hanya ingin menonton senior favoritnya bermain basket.
"Kok kak Ian belum Dateng ya Nar?"
Nara ikut mencari keberadaan laki-laki itu. Benar batang hidung kapten tim basket belum kelihatan. "Iya nggak ada."
Tak lama kemudian saat permainan hendak dimulai tiba-tiba para gadis yang menonton di tribun menjerit-jerit histeris bahkan Tania pun ikut-ikutan. Nara yang kepo ikut mencari apa yang membuat gadis-gadis itu heboh. Ternyata—Ian lah penyebabnya.
Matanya dan Ian bertemu, Nara langsung buang muka saat Ian tersenyum. Ian memang populer, laki-laki itu tersenyum begitu pasti agar teriakan gadis-gadis semakin keras.
Akhirnya permainan yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Nara termangu ternyata Reza jago bermain basket, dulu laki-laki itu tidak pernah menunjukkan kelihaiannya berolahraga. Nara jadi makin-makin semangat menonton karena melihat hal baru dari Reza.
Kalau dipikir-pikir menonton eskul basket bermainpun hal baru untuk Nara. Dulu ia tak pernah mau ikut, sebab apapun yang dilakukannya akan menjadi sorotan orang-orang dan menjadi bahan gosip. Sekarangpun masih begitu, tapi Nara merasa sudah kebal karena ia sudah pernah melewatinya sekali.
Tidak terasa begitu serunya menonton Nara sampai terhanyut, bahkan ia tak mengeluh kepanasan hingga permainan selesai.
Nara terkejut saat Reza dan Ian tiba-tiba menghampirinya. Ia bingung bagaimana cara memberikan minuman itu ditengah kerumunan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Repeating Time
Teen FictionKematian orang yang ia cintai, membuat Nara terpuruk. Apalagi gadis itu menganggap bahwa sifat buruknya lah yang menyebabkan kematian orang yang cintainya. Setelah mengistirahatkan diri selama sepekan, Nara akhirnya masuk sekolah kembali. Itupun ber...
