18. Cemburu

58 1 0
                                        


Nara dan Tania sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Keduanya sudah mengenakan seragam, mereka hanya tinggal memakai sepatu.

Hari ini adalah hari pembagian raport kenaikan kelas. Pembagian raport tidak didampingi orang tua. Setelah pembagian raport sekolah akan libur selama tiga pekan lamanya.

"Nggak kerasa ya kita mau kelas 11 aja!" Tutur Tania sembari mengikat tali sepatunya.

Nara mengangguk antusias, "kita duduk sebangku lagi ya nanti!"

Tania melipat kedua tangannya depan dada, "nggak mungkin!"

"Maksud gue, nggak mungkin gue nggak duduk sama lo!"

Nara menyenggol bahu temannya sebelum beranjak keluar rumah. Tania mengikuti sambil tertawa kencang.

Tepat saat mereka di pintu rumah ada seorang laki-laki berdiri disana dengan senyum hangat.

"Pagi Nara, pagi Tania!" Tutur laki-laki itu.

"Pagi juga kak Eza!" Jawab Nara sambil berjalan mendekat.

"Kalian mau berangkat sekolah bareng ya? Naik ang–"

Ucapan Reza terpotong saat mobil Honda Civic hitam, parkir didepan rumah Nara. Pemilik mobil itu keluar dari mobilnya lalu berjalan ke depan gerbang rumah Nara.

"Pagi-pagi udah apel aja lo Za!" Tutur Ian sambil tos dengan Reza.

"Nara berangkat bareng gue, dia baru aja sembuh." Tutur Ian sembari memberi isyarat agar Nara dan Tania segera mengikutinya menuju mobil.

"Kak Eza hati-hati naik motornya ya, sampai ketemu di sekolah!" Ucap Nara sembari melambaikan tangannya sebelum mengikuti Ian dan Tania yang sudah berjalan lebih dulu.

"Kamu juga hati-hati ya!" Jawab Reza sambil tersenyum hangat.

Nara dan Tania duduk kursi belakang. Mobil Ianpun mulai melesat keluar dari kompleks perumahan.

"Gila kak aku baru pertama kali naik Civic, keren juga ya!" Tutur Nara sambil melihat-lihat isi dalam mobil Ian.

"Kok nggak pernah bilang-bilang sih, kan gue bisa nyobain lebih awal kalau tau!" Oceh Nara memajukan sedikit badannya agar Ian menanggapi celotehannya.

Tania yang melihat kelakuan temannya langsung menarik Nara dan memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. "Biar nggak gangguin orang nyetir. bahaya Nara!" Tutur Tania, seperti menasehati anak kecil.

Ian tertawa kecil melihat interaksi dua gadis dibelakangnya. Namun Nara tetap tidak mau diam, ia masih terus berceloteh sepanjang perjalanan.

Tania baru sadar bahwa sebenarnya Nara anak yang hiperaktif. Semenjak mengenalnya, Tania merasa punya adik yang harus selalu ia jaga, tapi kadang ia juga sedikit gemas melihat kelakuan temannya itu.

"Kak sebenernya kakak anak siapa sih? Mobil kan harganya lumayan loh kak!" Tutur Nara yang membuat Tania gemas dan menjitak kepalanya.

"Aww! Sakit!"

"Anak orang lah! Kak udah kita buang aja yuh ditengah jalan, ini anak kalau sembuh kewarasannya ilang." Tutur Tania sambil bercanda menarik-narik tangan Nara.

Ian lagi-lagi hanya tertawa kecil melihat interaksi keduanya. "Langgeng-langgeng ya kalian temenan."

Mobil Ian masuk ke area parkir sekolah. Saat ketiganya turun orang-orang melirik ke arah mereka.

"Kok mereka dateng bertiga sih?"

"Pasti itu cewek-cewek merengek minta ikut nebeng!"

"Ian sama Nara lagi tuh!"

Repeating TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang