Pagi di hari Sabtu yang cerah. Nara sudah bangun sejak pukul tiga pagi. Gadis itu sibuk berdandan dan memilih baju sejak dini hari. Pilihannya jatuh pada dress di bawah lutut berwarna pastel, tas berwarna senada dan dipadukan dengan sepatu sneakers berwarna putih. Tak lupa Ia mengenakan jepit rambut kupu-kupu kesayangan dari almarhum papahnya.
Dimasa lalu, sebelum Nara mengulang waktu. Ia tidak pernah pergi jalan-jalan ke Taman Ria, Nara dan Reza hanya sering pergi sekedar mencari makan dekat kompleks rumahnya atau pergi nongkrong di caffe sepulang sekolah. Kedekatan antara Nara, Reza dan Ian pun terjalin bukan karena Ian ikut belajar bersama mereka, awal mula ketiganya dekat dulu karena Ian kerja kelompok dirumah Reza.
Pukul delapan, Reza menjemputnya di rumah. Laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna putih, celana panjang berwarna cream dan sepatu yang senada dengan warna bajunya.
Kalau dipikir-pikir tema baju keduanya senada. Melihat itu Nara makin sumringah, mereka terlihat benar-benar ingin kencan.
"Tante saya sama Nara pergi main dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam iya hati-hati ya."
Reza dan Nara bergantian menyalami Dela. Kemudian keduanya menaiki kuda besi Reza. Perjalanan dari rumah ke Taman Ria lumayan jauh maka dari itu Reza dan Nara berangkat pukul delapan pagi.
Selama diperjalanan Nara dan Reza berbincang ringan tentang pentas drama kemarin. Reza bercerita dengan antusias bagaimana dirinya dipilih ikut drama dan diterima baik oleh teman-temannya yang lain. Nama ikut senang mendengar laki-laki itu bercerita.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, mereka akhirnya tiba di Taman Ria yang berlokasi di Jakarta Utara.
Selesai memarkirkan motor, Reza lalu membeli tiket. Keduanya kemudian membuat kesepakatan untuk bergantian menunjuk Wahana yang ingin di naiki. Wahana pertama Nara yang memilih, dia memilih yang paling basic dulu. Keduanya menaiki wahana kuda-kudaan yang didominasi anak-anak dan ibu-ibu.
Reza sebetulnya berat hati menaiki wahana itu, tapi karena sudah kesepakatan, ia rela saja ditarik-tarik Nara untuk ikut naik.
"Kak Eza, ayo foto dulu!" Nara mengeluarkan kamera mini dari tasnya, mereka pun berfoto beberapa jepretan.
Wahana berikutnya giliran Reza yang memilih ia mengajak Nara menaiki roller coaster. Nara tidak suka wahana yang begitu ekstrem, tapi ia tidak mau mempermalukan diri dan tetap menuruti ajakan Reza dengan hati ragu.
Nara duduk bersebelahan dengan Reza, wajahnya mulai pucat pasi. Sejak kecil keluarganya sering pergi ke Taman Ria, tapi Nara tak pernah sekalipun menaiki wahana ekstrim. Ia memang penakut sejak kecil.
Roller coaster pun mulai berjalan perlahan, Nara mulai mengatur nafas perlahan-lahan. Ia hanya menutup matanya dan memegangi Belt pengaman kencang-kencang.
Tiga kali putaran roller coaster itu pun mulai berjalan perlahan. Para penumpang bersorak histeris saat roller coaster itu bertenti.
Sekujur tubuh Nara kaku. Ia merasa seluruh darahnya telah disedot habis.
"Nara, mamu kenapa? Kok pucet banget." Reza baru menyadari kesalahannya. Ia tidak bertanya terlebih dahulu apakah gadis itu sanggup menaiki wahana ekstrim atau tidak.
Reza membantu Nara berjalan dengan perlahan-lahan. Ia membawa gadis itu untuk duduk di kursi taman dekat roller coaster.
"Aku benar-benar minta maaf, harusnya aku nggak maksa kamu naik ini. Aku minta maaf Nara." Tutur Reza dengan ekspresi wajah khawatir.
Nara tidak menjawab, ia masih memulihkan kesadaran. Setelah dua puluh menit duduk diam, akhirnya Nara mulai bisa menggerakkan lidahnya.
"Nggak apa-apa kak, aku juga salah aku nggak bilang. Tapi kayaknya kalau harus naik wahana lagi aku nggak sanggup."
KAMU SEDANG MEMBACA
Repeating Time
Teen FictionKematian orang yang ia cintai, membuat Nara terpuruk. Apalagi gadis itu menganggap bahwa sifat buruknya lah yang menyebabkan kematian orang yang cintainya. Setelah mengistirahatkan diri selama sepekan, Nara akhirnya masuk sekolah kembali. Itupun ber...
