.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara riuh rendah suara gelas, tawa, dan derit meja kayu bercampur bau masakan pedas dari warung di seberang kantin terasa begitu sengit siang itu.
Seorang pria malang tengah duduk dikerubungi teman-temannya yang makin ribut menyuruhnya membuka ikan sarden dalam kaleng yang ia pegangi. Kantin siang itu ricuh riuh tak terkendali.
Aster juga ada di dalam kumpulan itu dan hanya duduk tenang selagi melipat kedua tangannya di dada. Pandangannya menyeringai ke arah pria berwajah polos itu yang masih berat hati membuka kaleng sarden yang sejak tadi ia genggam.
"Anj*** Ter! Bantuin gue kali!" Sergah pria itu tiba-tiba.
Oh? Malang? Polos? Ralat! Pria bernama Evan itu sama sekali tidak mencerminkan semua itu. Justru dia paling bar-bar diantara semuanya.
"Dih.. Lu yang tadi nantang Aster main Shadow fight Van! Elu juga yang bawa kaleng sarden ke sekolah. Jan malu-maluin deh Van, lu kalah! Makan! Cepetan!" Seorang pria tambun menimpali dan memojokkan Evan hingga teman-teman lain ikut-ikutan juga pada akhirnya.
"Makan Van.. Makan..!"
"Cemen lu!" Celetuk beberapa diantara mereka.
Melihat Evan yang masih juga berlama-lama, Aster tiba-tiba bangkit hingga membuat semua orang terkesiap. Tiba-tiba sepi senyap bahkan tak ada yang berani bergerak. Mungkin bernapas pun tak berani.
"Gak usah Van. Kasih kucing aja." Ujar Aster pelan kemudian memasukkan kedua tangannya di saku celana sebelum benar-benar melangkah pergi dari sana.
"Wooaaah Gue kira bakal di gaplok.." Ujar Evan yang malah langsung pergi mengikuti Aster meninggalkan mereka yang hanya bisa menelan kecewa karena tak jadi melihat Evan menderita karena memakan ikan sarden dingin itu.
"Ter!" Evan berlari menyusul Aster yang ternyata sudah menyusuri koridor kelas. "Beneran gue gak usah makan ini?" Evan kembali memastikan dengan kekehan kecil.
Mendengar pertanyaan Evan yang terkesan ngeselin, Aster menghentikan langkahnya lalu merebut kaleng sarden itu dari tangan Evan.
Crkk..
Masih dengan wajah berbinar dan senyuman yang mengembang, Aster tiba-tiba membuka kaleng sarden itu.
"Ah.. Gak! Enggak Ter.. Gue becanda.." Evan tau jika Aster sebenarnya tidak sebaik itu. Ini sebabnya ketika Aster bergerak di kantin tadi, semua orang senyap seolah benar-benar takut dengan apa yang akan Aster lakukan.
Padahal wajahnya selalu ramah bahkan senyuman sempurnanya akan membuat semua yang memandanginya pertama kali akan langsung jatuh cinta. Tapi hati-hati. Ada banyak wajah yang Aster sembunyikan dibalik senyuman itu.
"Kemana lu?" Tanya Aster ketika melihat Evan mulai menjauh. "Sini!" Telunjuknya mulai bergerak meminta Evan kembali mendekat ke arahnya.
"ASTER!!" Evan bahkan menjerit karena benar-benar enggan memakannya. Namun si empunya nama mana peduli. Dia hanya memandangi Evan seolah kembali memberi perintah supaya kembali mendekatinya. "Gob**lok lu!" Sergah Evan yang nyatanya sama sekali tidak berpengaruh apapun untuk Aster.
Evan terpaksa mendekat meski masih ragu untuk meraih kaleng sarden yang sudah Aster buka tadi.
Memangnya apa yang salah? Bukankah ikan sarden itu enak?
Ueeekk..
Tidak dengan Evan. Dia benar-benar phobia dengan ikan dalam kaleng itu. Menghirup baunya saja hampir membuatnya muntah. Apalagi memakannya. Evan benar-benar sial hari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasy(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
