****
Pagi itu terlalu indah untuk jadi nyata.
Udara dingin dari danau menyelinap perlahan lewat celah jendela, membelai lembut wajah Lovelyn yang baru terbangun. Tirai kamar melambai perlahan, membawa aroma embun dan daun basah. Sinar mentari memantul di kaca, menari-nari seperti bisikan cahaya yang menyapa dunia.
Lovelyn mengusap matanya. Ia tersenyum kecil. Rasanya... damai. Nyaman. Seperti pelukan tanpa tangan. Ia masih duduk di balik selimut hangat ketika suara itu menghantam keheningan.
"ASTER! ASTERRR!!!"
Gio.
Lovelyn terlonjak. Tubuhnya melesat bangkit tanpa pikir panjang. Detik berikutnya, pintu kamar Aster sudah terbuka lebar. Gio berdiri kaku di samping tempat tidur, wajahnya pucat, matanya membelalak panik. Bayu masih berusaha menepuk-nepuk pipi Aster. Beralih mengguncangnya, bahkan berteriak memanggil nama yang sama.
Aster terbaring diam. Terlalu diam.
Lovelyn segera merangkak ke sisi tempat tidur. "Aster?" bisiknya. Tapi tak ada respons. Nafasnya—pelan dan nyaris tak terasa. Wajahnya seperti tertidur, tenang. Terlalu tenang.
"Bangun Ter... nggak lucu..." Jemarinya mengguncang pelan bahu Aster, namun tak ada reaksi. Ia menatap ke sekeliling, kalut. Mencoba mengingat semua yang pernah ia baca—tentang darah emas, tentang penyembuhan, tentang cinta dan bahaya yang datang bersamanya.
"Yu! Panggil ambulans!" teriak Gio, sudah berlari keluar.
Tapi Lovelyn tetap di situ. Tangannya memegang tangan Aster yang perlahan mulai dingin.
"Kalian bilang tiga bulan... Tapi kenapa..." bisiknya, nyaris putus suara.
Air matanya jatuh, satu-satu. Tapi ia tahu... menangis bukan solusi. Tidak sekarang. Tidak untuk Aster.
Ia mendekat. Menunduk pelan.
Dengan gemetar, Lovelyn menyentuhkan bibirnya ke bibir Aster. Bukan untuk cinta yang manis. Tapi untuk harapan. Untuk kesempatan terakhir. Untuk menyelamatkan jiwa yang telah membuatnya merasa hidup.
Dan saat itu—cahaya emas itu muncul.
Lembut, hangat, perlahan menjalar dari bibir mereka, turun ke dada Aster, melingkari jantungnya dalam kilau yang tak membakar. Tak meledak. Hanya... menyala. Pelan. Bertahan. Bertumbuh.
"Bangun..." bisik Lovelyn. Dia masih melihat cahayanya. Memancar indah dari dalam dada Aster. "Tolong balik Ter..."
Beberapa detik terasa seperti seabad.
Lalu, kelopak mata itu bergerak.
Samar. Lemah.
Aster membuka matanya.
"...Lyn?"
Lovelyn terisak, nyaris tak percaya. "Iya... aku di sini." Ia memeluk Aster erat, tak peduli pada air matanya yang membasahi leher cowok itu. Tak peduli pada suara langkah yang ramai masuk beberapa menit kemudian. Bayu. Gio. Semua menyaksikan momen itu.
Tapi bagi Lovelyn, hanya ada Aster.
Dia kembali.
EPILOG – Satu Tahun Kemudian
Di halaman rumah bercat putih yang penuh dengan bunga liar, suara tawa anak-anak kecil terdengar. Sebuah acara kecil sedang berlangsung. Aster duduk di kursi taman, mengenakan kemeja putih dan senyum lembut.
Lovelyn duduk di sampingnya, menulis sesuatu di jurnal kecilnya.
"Apa yang kamu tulis?" tanya Aster sambil mengintip.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
