Bab 45

24 1 0
                                        

Kembali ke dunia nyata...

Suara mesin ICU berdering pelan.
Berlawanan dengan detik jam di dinding yang berdetak lambat.

Dalam ruang yang dipenuhi aroma antiseptik itu, tubuh Aster terbaring lemah. Wajahnya pucat, bibirnya membiru. Monitor jantung menampilkan gelombang naik-turun yang tak stabil.

Namun—di balik kelopak matanya yang tertutup—ingatan barusan masih bergetar jelas.
Pesan Mbah Gun terpatri kuat.

"Hilangkan saja! Nikmati rasa sakitnya. Kebahagiaan kamu sudah menunggu..."

Di luar ICU, Lovelyn berlari menerobos lorong. Nafasnya tersengal, matanya basah.
Bayu dan Gio melihatnya. Gadis itu mendekat.

"Bisa-bisanya lu jalan sama Ayaz!" suara Gio menggelegar. Ini pertama kalinya Lovelyn mendapat tatapan seperti itu dari Gio. Dia mematung. Tak bisa menjawab. Beralasan pun rasanya akan percuma.

Mereka bahkan langsung menghakimi tanpa memberinya ruang untuk sekedar bernapas.

Bayu akhirnya menghela napas berat, lalu memberi kode pada Gio supaya dia bisa mengendalikan diri. "Lu tau dia istimewa Lyn. Lu juga pernah liat, betapa kesakitannya dia waktu lu jalan sama Ayaz dulu... Kenapa di ulang lagi? Lu gak bego kan Lyn?"

Lovelyn membeku. Sejak datang tadi tak mengeluarkan sepatah katapun sebab merasa tak pantas.

Dia menatap ke dalam— dengan tatapan kosong Aster perlahan bergetar. Jemari tangan kanannya sedikit menegang, seolah merespons kehadiran seseorang.

Lovelyn mendekat ke arah kaca itu. Lututnya gemetar. Ia ingin meraih tangan Aster. Namun tak ada yang bisa ia lakukan.

Monitor jantung masih lemah.
Namun detak itu—perlahan, perlahan, seolah menangkap sesuatu.

Di dalam kesadarannya yang tipis, suara Lovelyn menggema, berbaur dengan bisikan Mbah Gun.

"Kejar dia. Jangan sampai hilang..."

Dan di saat itu juga—dalam kondisi setengah sadar—Aster seolah membuat pilihan.

Jantungnya berdenyut keras.
Gelombang di monitor melonjak tiba-tiba.

Lovelyn tersentak. "Aster?! Aster!!" Ia memanggil lagi, berteriak heboh pada yang lain seolah meminta mereka segera membatu.

Perawat segera masuk, sigap memeriksa. "Tekanannya naik! Dia... merespons!"

Bayu dan Gio yang masih di luar membeku. Tomi menahan napas.

Dan dalam momen itu—meski mata Aster masih terpejam—sudut bibirnya bergerak lirih. Hanya satu kata yang lolos dari antara bibir birunya.

"Lovelyn..."

Lovelyn menahan tangis. Kakinya tak kuat menopang. Ia nyaris terduduk di lantai kalau saja Bayu tak sigap menopang bahunya dari belakang.

"Dia... dia manggil gue..." bisiknya pelan, gemetar. Ada rasa syukur di sana.

Bayu hanya menggertakkan rahang, menahan emosi yang makin rumit. Gio di sebelahnya masih tampak kesal, namun sorot matanya melunak melihat reaksi Lovelyn yang tulus.

Sementara di dalam, perawat terus berkoordinasi. Salah satu dokter ICU keluar sebentar, melepas masker medis.

"Pasien mulai merespons. Kami akan stabilkan dulu tekanannya. Tapi—kami gak bisa jamin kondisi ini bertahan lama. Dia butuh kekuatan penuh buat bertahan."

Lovelyn nyaris melompat mendengar itu. "Saya boleh masuk dok?"

Dokter ragu, tapi Bayu mendekat. "Mungkin dia yang Aster tunggu Dok..."

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang