.
.
.
.
.
"Ter.. Jangan sembarangan.." Erlangga sedikit berbisik tak enak hati.
"Bener Yah." Aster memastikannya kembali. "Ada cincin tembaga melekat di jari manisnya." Tambah Aster lagi sambil sesekali melirik namun enggan berlama-lama karena makhluk itu mulai memperhatikan Aster.
Deg!
Lovelyn dan Anthony saling beradu pandang saking tak percayanya. Aster ternyata bisa melihat sedetil itu.
"Tapi kenapa istriku berubah jadi makhluk seperti itu?" Tanya Anthony.
"Om? Dukun mana yang Om datangi dulu?" Tanya Aster lagi kini lebih berani berbicara.
"Om gak pernah pergi ke dukun." Anthony benar-benar lupa. Tapi diingat-ingat bagaimanapun, Anthony tetap merasa tidak pernah mendatangi dukun manapun. Meski percaya dengan adanya hal mistis, Anthony tidak se-kuno itu kalau harus menggantungkan hidupnya pada hal gaib.
"Pernah ketemu sama teman atau siapapun yang mengklaim dirinya bisa melihat hantu?" Aster masih mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.
"Dulu, ada seorang teman yang bilang kalau dia bisa melihat hantu. Tapi Om sama sekali tidak meminta apapun." Jawab Anthony.
"Siapa Pah?" Lovelyn penasaran.
"Temennya Om Adrian. Om Sera. Tau kan?" Anthony balik bertanya memastikan.
"Oh.. Dia udah lama banget Pah.." Lovelyn berusaha untuk tidak menghubung-hubungkannya.
"Iya. Dan saya pun tidak pernah meminta apapun dari orang-orang seperti itu." Lanjut Anthony yakin seyakin yakinnya.
"Eh tapi, Aku dulu pernah ngobrol sama dia" Lovelyn tiba-tiba mengingatnya. "Permintaan kayak apa memangnya Ter?" Lovelyn ikut penasaran. Kini tak lagi menentang. Tak lagi berkata sinis. Lovelyn mulai membuka semua kemungkinan. Siapa tau obrolannya dengan Om Sera itu berkaitan dengan ini.
"Lu minta nyokap lu selalu ada di sini kan?" Tuduh Aster yang memang pasti ke arah sana. Sudah jelas sebab sosok makhluk itu yang akhirnya menggantikan.
"Nyokap gue beneran ada?" Tanya Lovelyn ragu. Ini artinya Lovelyn memang meminta hal yang sama.
"Gak lah! Mana bisa!" Aster semakin menyalak. "Gara-gara lu minta yang aneh-aneh kayak begini, akhirnya apa? Bokap lu sakit-sakitan karena energi makhluk aneh itu Lyn! Dan lu juga! Tadi dia sempat nepuk kepala Lo sampai berdarah-darah kaya gitu. Lu harus liat!" Aster tiba-tiba berdiri mendekati Lovelyn berusaha memberi sugesti dengan mata birunya lagi.
"Apa si? Tunggu!" Lovelyn menahan. "Gue gak luka apa-apa! Gak ada yang sakit juga." Lovelyn meneliti tubuhnya sendiri bahkan kepala yang tadi Aster sebut-sebut perasaan baik-baik saja kan? Pikir Lovelyn.
"Lu gak bisa liat kalau gue gak buka mata halus lu!" Ungkap Aster serius namun Lovelyn kebalikannya. Dia malah tertawa saking tak percaya. Bukan hanya tak percaya. Lovelyn hanya tak suka pada orang itu.
Omong kosong! Dia dengan yakinnya berkata seperti itu, dengan wajah seperti itu, gerak-gerik seperti itu, gak! Gak! Enyahkan semua pikiran tentang rasa ingin memahami atau sekedar paham tentang apa yang sedang dia khawatirkan sekarang. Sejak awal Aster itu gila. Hanya itu.
Bisa jadi dia sekarang sedang berakting untuk lepas dari perjodohan. Kan?
"Lyn.. Percaya sama gue." Aster benar-benar berharap Lovelyn bisa percaya. Raut songong yang biasanya Lovelyn lihat entah mengapa malam itu beberapa kali berubah. Ada banyak pertanyaan untuk Aster sebenarnya. Lovelyn makin penasaran.
Perlahan Aster kembali mendekat. Kilat mata buru mulai menyala. Aster bersiap menghipnotis Lovelyn. Tangannya mulai merayap mengusap lembut tengkuk kepala Lovelyn sambil menatap intens mata hazel cantik milik Lovelyn.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
