Bab 49

25 1 1
                                        

.
.
.
.
.

Aster mengantar Lovelyn pulang. Bayu dan Gio masih menunggu di dalam mobil.

"Yang tadi..." Lovelyn kembali membahas meski tau perasaannya akan kembali kacau. Padahal sejak Bayu bertanya, keduanya sepakat untuk bungkam.

"Mau coba lagi?" Tanya Aster sedikit menggoda.

"Hih!" Lovelyn malah kesal. Bukan karena godaan manis itu. Tapi dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia kembali mencobanya. Dia harus berhati-hati. Setidaknya harus ia pastikan dulu cahaya apa yang terlihat di dada Aster.

"Cahaya tadi berwarna kuning keemasan... Persis kayak cahaya yang aku lihat muncul dari dalam tubuh kamu Lyn..." Ungkap Aster.

Lovelyn terdiam. Ia mengingat jelas—saat pertama kali cahaya itu tak lagi bersembunyi. Terang, jelas, membuat takjub.

"Kamu liat cahaya emas?," Terkejut. Ia ingat Aster pernah mengatakannya dulu. Namun ia pikir itu hanya sebuah gombalan receh. Benar-benar memalukan.

Aster mengangguk. "Iya." Matanya beralih memandangi tangannya sendiri, seolah masih bisa merasakan sisa kehangatan itu menyelinap dari sela pori-porinya. "Kamu beda dari yang lain Lyn. Terang, menenangkan..." Aster terlihat memberikan senyuman terhangat.

Lovelyn masih membutuhkan penjelasan lebih. Masih banyak hal yang tak ia mengerti.

"Jadi, maksud kamu, cahaya emas aku pindah ke kamu?

Aster menatapnya, serius kali ini. Memikirkan kemungkinan yang memang terjadi persis seperti apa yang kini Lovelyn bicarakan. "Bukan pindah... Kalau kekuatan emas kamu adalah kekuatan penyembuh, artinya kamu sedang menyembuhkan..." 

Lovelyn menatap mata Aster lekat-lekat. "Caranya kayak tadi?" Cara tak masuk akal itu yang ternyata jadi kunci?

Aster terdiam. Entah kesimpulan mereka benar atau tidak.

"Kita coba sama orang lain dulu gimana? Kalau berhasil artinya gak masalah buat kamu..." Lovelyn terlihat bersemangat.

"Gila kamu!" Aster merenggut. Cemburu? Jelas. Mana boleh membiarkan Lovelyn mencium orang lain sembarangan.

"... Cari cewek aja..."

"Gak!" Tegas. Aster melarang. 

Lovelyn menahan tawa yang nyaris meledak. Ia memandang Aster dengan tatapan geli. "Loh, bukannya cuma demi penelitian?" godanya, dengan nada dibuat-buat serius.

"Enggak lucu," gumam Aster, masih dengan wajah cemberut. "Lagian, kamu pikir kekuatan kamu kayak tester makanan? Bisa dicoba-coba ke siapa aja?"

Lovelyn menyilangkan tangan di dada, masih menahan senyum. "Aku cuma gak mau kita asal tebak. Kalau ternyata kekuatanku aktif cuma pas aku emosional atau cinta, berarti... ya, kamu harus siap disembur cahaya tiap kali aku sayang."

Aster tak langsung menjawab. Ia memandang ke arah rumah Lovelyn, lalu kembali menatap gadis itu.

"Kalau harus disembur tiap hari, aku rela," bisiknya, nyaris tak terdengar.

Lovelyn terdiam. Ucapan itu membuat dadanya bergetar—antara haru dan takut. Ia tahu, kekuatan ini bukan cuma tentang penyembuhan. Tapi juga tentang tanggung jawab.

"Jadi gimana? Kita harus gimana?" tanyanya hati-hati.

Aster mengangguk. "Aku pikirin lagi nanti. Tapi inget!"

Lovelyn mengangkat alis. "Apa?"

"Jangan cium orang lain."

Lovelyn langsung tertawa pelan. "Cemburuan banget sih..."

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang