.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Darahnya B.." Gio menunjukkan ponsel yang berisi foto dokumen tentang Lovelyn yang ia terima dari Leyli.
"Dia bilang O.." Aster merebut ponsel Gio dan memastikannya dengan matanya sendiri.
Benar. Di sana tertulis jelas jika golongan darahnya B. Bukan O seperti pengakuan Lovelyn tadi.
"Seenggaknya bukan darah Emas.." Celetuk Gio. Sejauh ini, sesuai penelitan Erlangga, satu kesimpulan yang bisa mereka ambil untuk sementara.
Gen emas hanya bisa hidup dalam darah Rh null. Karena ini mereka menghindari golongan darah ini.
Aster mempertanyakan dalam hati. Memangnya untuk apa Lovelyn berbohong tadi?
"Ter.. Bubar langsung ketemu Habib Manaj?" Gio lagi-lagi bertanya soal pekerjaan gelap itu.
"Lu lagi butuh duit?" Tanya Aster tau betul watak temannya itu. Jika selalu mempertanyakan pekerjaan, artinya memang sedang butuh.
"Leyli pengen tas LV.." Ungkap Gio cengar-cengir malu-malu.
"Yakin sama Bu Leyli?" Tanya Aster kali ini serius.
"Cinta mati gue." Gio langsung menjawab tanpa ragu.
"Kayaknya dia enggak." Aster seketika mematahkan cinta temannya sendiri.
"Dia selingkuh?" Gio tau jika Aster sudah berkata seperti itu, artinya memang ada yang salah.
"Besok lu juga tau." Aster hendak bangkit namun Gio menahan. Sudah terlanjur dikatakan memangnya boleh berhenti tanpa kejelasan?
Gio benar-benar penasaran. Tak biasanya Aster mau menjelaskan apa yang ia lihat tentang masa depannya. Biasanya meski di tanya sampai berbusa, Aster tidak akan bicara apapun.
"Lu mau bikin gue mati penasaran?" Gio mulai panik sendiri.
"Besok lu masih hidup, tenang aja." Aster malah melepaskan tangan Gio darinya dan kembali hendak pergi lagi.
"Kalau lu keluar dari sini, persahabatan kita putus!" Tunjuk Gio.
Namun Aster benar-benar tak berhenti sedetik pun. Dia malah tersenyum kecut lalu membuka pintu keluar.
"Kalau lu berani keluar, gue gak mau ketemu sama Lo lagi!" Gio masih dengan ancaman recehnya. Namun mana mungkin berpengaruh dengan mudah? Aster dengan entengnya keluar tanpa hambatan apapun.
"Asterrr!!" Akhirnya mau tak mau, Gio menyusul untuk membujuknya lagi. Dia ingin tau kelanjutannya. Aster pasti jelas melihat masa depannya dengan Leyli.
"Jan deket-deket!" Aster bahkan mengusir Gio yang berjalan begitu dekat dengannya.
"Gitu amat lu!" Protes Gio. "Jelasin gak? Kenapa lu bilang Leyli gak cinta sama gue?" Tanya Gio.
"Ssst.." Aster melihat sekitar. Dia tak lagi ada di ruangan yang aman itu. Bukankah akan jadi masalah besar jika anak-anak lain tau seorang murid berpacaran dengan gurunya sendiri? "Lu mau nyebarin sama orang-orang?" Cegah Aster.
"Ahz.." Gio sempat menepuk bibirnya. "Ya terus gimana? Gue sama dia gimana?" Tanya Gio lagi makin penasaran.
"Besok kalian putus."
"Gila lu!" Gio tentu tak terima. Matanya terbelalak bak tersambar petir di siang bolong. Dadanya naik-turun cepat, wajahnya merah padam.
"Ya udah kalau gak percaya." Aster kembali melanjutkan langkahnya lagi.
"Ya.. Maksudnya.. Masalahnya apa?" Gio menyusul lagi. Dia tak tahan untuk segera tau tentang ini. Padahal dia sudah dibuat buta oleh cinta Leyli. Bisakah diselamatkan jika tau apa sebenarnya alasan yang membuat mereka putus?
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
