.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah kejadian terakhir itu, Lovelyn bisa istirahat dengan baik di rumahnya?
Oh..
Tentu tidak semudah itu. Sisa malam yang hanya tinggal sekitar empat jam saja, ia habiskan dengan melamun dan berselimut di atas kasur. Berusaha berbaring dengan nyaman pun tak ada hasil. Scroll tiktod juga malah makin segar.
Gak! Bukan rasa bahagia yang kini ia rasakan. Entah mengapa Lovelyn malah merasa makin khawatir. Bisakah dia tidak menyakiti Aster kedepannya? Dia begitu istimewa, pantaskah dia bersamanya? Apakah ini sudah benar? Apa tidak apa-apa?
Hanya keraguan yang kini muncul dalam benak Lovelyn. Semua tentang Aster. Tentang bagaimana dia menjalaninya bersama.
Lovelyn bahkan sama sekali tidak mempertimbangkan perasaan Ayaz yang tadi ditinggal begitu saja. Ah.. Lagi pula, dia bahkan tidak percaya sepenuhnya pada cerita Ayaz soal dirinya yang menghilang selama hampir dua bulan itu.
Ayolah.. Ini jaman apa? Turki dan tempatnya sekarang memang jauh. Tapi komunikasi itu kini semudah menjentikkan jari. Jika alasannya hanya karena ponsel hilang, bukankah semua orang punya ponsel sekarang? Alasan tentang ini pun sudah sangat meragukan.
Ah... Lovelyn enggan memikirkannya terlalu dalam. Gak penting juga.
Yang lebih penting itu..
Kenapa setelah kejadian tadi, Aster sama sekali tidak menghubunginya? Beberapa kali cek ponsel tak ada satu chat pun yang muncul. Harusnya basa basi atau tanya apa gitu?
Lovelyn masih menggeser-geser layar ponsel padahal matahari sudah mulai terbit. Last seen Aster juga terlihat tetap pada jam-jam siang kemarin. Dia bisa tidur dengan nyaman kah? Bisa-bisanya. Pikir Lovelyn.
Langit di luar jendela kamarnya sudah mulai memutih. Meski belum ada cahaya sinar matahari sebab sedikit mendung, namun bisa dipastikan hari menjelang siang. Lovelyn tuntas sama sekali tidak tidur.
Sadar jika matanya tak mungkin diajak istirahat, Lovelyn akhirnya menyerah. Kalau sudah begini, lebih baik siap-siap ke sekolah saja kan? Iya kan?
Sesuai jadwal memang begitu. Bukan biar bisa ketemu Aster ya. Lovelyn hanya tak ada pilihan lain?
Ah..
Ya! Benar!
Lebih bagus jika bertemu lagi. Bahkan ketika memikirkan dirinya berangkat ke sekolah yang sama dengan Aster pun membuatnya berdebar dan sedikit bersemangat. Ingat, sedikit ya... Meski penampilan Aster yang selalu istimewa itu tak sabar ia lihat kembali secara langsung.
Ya! Kangen! Puas?
.
.
.
Hari menjelang siang. Lovelyn sudah bersiap dengan seragam Utopia dan penampilan segarnya. Bahkan untuk menata rambut saja, dia membutuhkan waktu satu jam lebih. Harusnya ini penampilan paling sempurna kan?
"Gak tidur?" Tanya Anthony ketika tengah duduk di meja makan dengan laptopnya sedangkan Lovelyn langsung duduk dan mengolesi selembar roti dengan selai kacang.
"Keliatan banget Pah?" Lovelyn terkejut kemudian sibuk mencari-cari cermin dalam tas sekolahnya. Bukankah tadi sudah berdandan maksimal? Kenapa masih terlihat? Pikirnya.
"Enggak. Kamu tetep cantik kok.." Ujar Anthony sambil tersenyum melihat Lovelyn yang malah buru-buru bercermin. Anthony mengambil roti yang belum selesai Lovelyn olesi dengan rata itu, kemudian ia bantu untuk meneruskannya.
"Papah udah transfer uang bulanan ya.." Tambahnya.
"Di tambahin gak Pah?" Pertanyaan Lovelyn malah terdengar ngeselin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
