Bab 48

32 1 0
                                        


***


Langit mulai memerah ketika mereka tiba di padepokan. Udara pegunungan menusuk kulit, membawa aroma dedaunan basah dan dupa yang terbakar samar di altar tua. Derit kayu dari pintu utama menyambut langkah mereka. Padepokan itu sepi, hanya ada suara serangga malam dan desir angin yang melewati lorong-lorong batu.

Bayu mengantar mereka ke ruang tengah, di mana satu-satunya cahaya berasal dari pelita tua dan api kecil di perapian. Di atas meja kayu berdebu, sebuah catatan lusuh tergeletak. Kulitnya mengelupas, tintanya pudar. Tapi terasa jelas bahwa benda itu bukan sekadar buku biasa.

"Akhirnya nemu ini setelah dua hari ngebongkar laci dan lemari Mbah Gun," ujar Bayu sambil meletakkan catatan itu ke hadapan Lovelyn.

Lovelyn menatapnya lekat-lekat. Tangan Aster tak lepas dari punggungnya, memberi kekuatan diam-diam.

"Baca pelan-pelan ya... Ini satu-satunya petunjuk kita soal darah emas," ujar Gio dari belakang.

Lovelyn menyentuh buku itu, membuka halaman pertama dengan perlahan. Tulisan tangan Mbah Gun tampak gemetar, tapi masih terbaca.

"Jika kau menemukan ini, maka anak darah emas telah bangkit. Ia bukan hanya penyembuh... Tapi kunci untuk mengembalikan kekuatan cacat yang tak seharusnya. Tapi ingat, bila si darah emas berusaha mengembalikan semuanya sekaligus... maka kehancuran bisa lebih cepat datang."

Lovelyn mengerutkan kening, menelusuri tiap kata. Halaman selanjutnya dipenuhi simbol dan coretan tak beraturan. Tapi saat jari-jarinya menyentuh halaman ketiga—catatan itu mulai bergetar.

"Ada yang aneh," ucapnya pelan.

"Ada aura panas," Aster langsung sigap, memegang tangan Lovelyn. Tapi ia buru-buru menariknya kembali karena panasnya mulai menjalar.

"Astag—LOVELYN LEPASIN!" teriak Bayu panik.

Terlambat.

Catatan itu terbakar dengan cepat dalam genggaman Lovelyn. Api muncul seolah dari udara, menjilat lembaran lusuh itu tanpa menyisakan abu. Lovelyn terlonjak mundur, menjatuhkan kursinya.

"Kenapa... kenapa terbakar?" bisiknya, tangannya masih menghangat, sedikit merah di ujung jari.

"Bukan lu yang bakar. Kayaknya catatan itu yang bereaksi," ujar Gio cepat, suaranya menegang. "Gue udah baca sebelum lu pegang. Pengetahuan soal darah emas gak boleh diakses langsung sama pemiliknya. Mungkin itu... semacam mekanisme pertahanan."

Aster menatap tangan Lovelyn, lalu mata gadis itu yang terlihat berkaca-kaca.

"Terus kita harus apa sekarang?" suara Lovelyn pecah.

"Sisanya ada di Lu Lyn..." ucap Bayu pelan. "Buat hapus kekuatan Aster, coba perbanyak durasi kalian sama-sama..."

Lovelyn diam. Ruangan itu membisu bersama suara api perapian yang masih menyala kecil. Entah mengapa, meski catatan itu telah musnah, ia merasa seperti sesuatu dalam dirinya mulai bangun. Sesuatu yang selama ini tertidur.

Dan itu membuatnya takut.

"Gue gak akan nyakitin dia lagi kan?" Tanya Lovelyn khawatir.

"Gak papa Lyn..." Aster berusaha menenangkan.

"Gak bisa gak papa! Harus pasti dulu!" Lovelyn malah makin ngotot. "Aku gak mau kamu sakit yah!" Tunjuk Lovelyn.

"Yang bangunin aku di ruang ICU siapa Lyn..." Aster kembali berusaha membuatnya tenang. Dengan cara apapun. "Setelah kamu datang aku baik-baik aja. Artinya kamu benar-benar penyembuh— dan seingatku, Mbah Gun gak pernah melarang aku sama kamu. Yang ada, berkali-kali dia minta aku buat ngejar kamu. Sampai dapat."

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang