.
.
.
.
.
.
.
.
"Harus di rawat dulu biar cek up-nya lebih menyeluruh.." Lovelyn masih membujuk Aster yang langsung ingin pulang setelah melalui berbagai pemeriksaan darah, rongsen, cek irama jantung, CT scan jantung dan masih banyak lagi yang belum sempat Aster lakukan karena memang sebagian besar hasil normal-normal saja.
"Lyn.. Bilang sama Tomi, ini udah malem. Gak usah manggil semua petugas lab bahkan dokter USG, dokter spesialis jantung, semua dia panggil cuma buat cek up gue doang? Dia ngada-ngada aja. Ini udah malem dan mereka semua harusnya udah pulang kan? Jangan gitu lah ngerepotin orang.." Aster enggan membuat heboh semua orang hanya untuk memastikan hal yang sudah ia yakini.
"Tapi gue juga setuju sama Tomi." Ujar Lovelyn.
"Gue gak papa Lyn.. Tadi lu denger sendiri kan? Bahkan dokter pun bilang tensi gue normal, detak jantung gue bagus, hasil rongsen paru-paru juga baik-baik aja kan?" Aster masih berusaha untuk tidak merepotkan lebih banyak orang di sana.
"Tomi lagi manggil tim kardiologi.." Lovelyn terlihat lebih setuju dengan Tomi untuk memeriksa Aster lebih detil supaya menyeluruh dan makin yakin dengan diagnosis-nya.
"Gue balik sendiri aja." Aster sedikit kesal karena mereka masih juga menahannya padahal hasil dari pemeriksaan sebelumnya pun sudah jelas.
"Jangan gini dong Ter.." Lovelyn menahan dan masih mencoba membujuk. Namun Aster terlihat kehilangan kata-kata. Dia hanya terdiam sambil menatap Lovelyn. Bahkan tangannya yang digenggam pun dia biarkan seperti itu saja. Aster benar-benar ingin istirahat dengan benar malam itu. Padahal hanya tersisa setengah malam saja. Matahari hampir meninggi. Aster butuh tidur sekarang.
"Oke. Kita pulang." Putus Lovelyn pada akhirnya menyerah. Melihat Aster diam tentu lebih menakutkan dibanding dia merengek-rengek. "Tapi besok lu balik lagi sini dan periksa lagi." Lovelyn mengejar Aster yang langsung berjalan ketika Lovelyn bilang pulang tadi.
"Lu tau kenapa gue sakit sampai berdarah-darah kayak gitu?" Tanya Aster.
"Ya makannya harus periksa menyeluruh biar tau." Lovelyn kembali mengomel.
"Bukan! Gue udah tau jawabannya." Sambar Aster.
"Apa? Kenapa?" Lovelyn kesal sendiri.
"Gara-gara lu."
"Gimana?" Lovelyn ingin mendengarnya lebih jelas. Dalam hati tentu saja tak terima. Kenapa bisa karena dia memangnya?
"Pemilik kekuatan biru kayak gue, sekalinya jatuh cinta, bisa bikin mati. Tiap kali lu berhubungan sama cowok lain, jantung gue sakit." Jawab Aster sambil terus berjalan berdampingan dengan Lovelyn.
"hey! Jan ngarang lu!"
"terserah kalau lu gak percaya. Yang jelas, gue bener-bener sakit."
"Seriusan?" Aster hanya bisa menggedikkan bahu seola menyerahkan semua padanya. "Kenapa bisa gitu?"
"Karena gue istimewa mungkin? Gue bahkan bisa liat baju couple itu sebelum ketemu sama Lo." Aster menatap sinis baju yang masih Lovelyn kenakan saat itu.
"Ter.."
"Hm?"
"Tapi jangan tersinggung ya.." Pinta Lovelyn tak enak hati.
"Apaan?"
"Kalau periksa dulu ke psikiater mau gak? Gue temenin deh. Kalau gak salah bokap gue punya kenalan deh." Lovelyn terlihat menerawang.
Aster terkekeh miris mendengarnya. Sejauh ini ternyata. Sayangnya, dia sudah terlanjur menautkan hatinya pada orang ini. Aster merasa terlalu berbeda dengan Lovelyn. Dia bahkan tak lagi percaya dengan apa yang Aster katakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasy(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
