***
Langit sore tampak kelabu, seolah ikut menyimpan kesedihan yang tak mampu diucapkan. Suara lonceng terakhir dari menara kampus Utopia baru saja reda ketika Aster melangkah keluar dari kelas. Ranselnya tergantung longgar di satu bahu, langkahnya pelan, lesu.
Tomi sudah menunggu di parkiran sekolah. Begitu melihat Aster, ia bergegas membukakan pintu mobil.
Tak ada yang bisa ia perbuat meski rasanya ingin kabur sejauh mungkin. Tapi semua orang terasa mengawasinya lebih ketat. Termasuk Bayu dan Gio. Mereka bahkan memastikan Aster naik ke dalam mobil terlebih dahulu, baru berani pulang.
Mobil Aster mulai meninggalkan gerbang Utopia. Membelah jalanan komplek sepi itu, seolah aspal itu khusus untuknya.
Namun...
Sepertinya tidak.
Aster tiba-tiba melihatnya.
Di seberang taman kecil yang membelah dua bangunan gedung pengacara di sekitar Utopia, Lovelyn berdiri di bawah pohon pinus. Rambutnya dikuncir rendah. Masih memakai seragam namun sepertinya hanya luntang-lantung seperti itu sejak pagi.
Ternyata disana. Setelah Aster tidak menemukannya di Utopia meski sudah mencari sampai sudut-sudut.
"Bentar Tom..." Aster meminta Tomi menghentikan laju mobilnya. Ia pun melihat ke arah pandangan itu.
Ah...
Lovelyn... Gumam Tomi pelan.
"Gak samperin aja Mas?" Tanya Tomi.
Namun tak ada jawaban. Jika Lovelyn sampai bolos sekolah begini, artinya memang enggan bertemu dengannya. Aster pun belum siap untuk kembali berdebat.
Tak lama, sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. Lovelyn terlihat memberinya senyuman samar.
Ayaz.
Aster tertegun. Napasnya tercekat.
Ayaz menyodorkan sesuatu—sebungkus cokelat batangan favorit Lovelyn. Gadis itu menerima dengan tawa ringan. Lalu Lovelyn naik tanpa ragu ke atas motor Ayaz kemudian pergi bersama. Tak bersentuhan. Tak ada gerakan mencurigakan. Tapi terlalu dekat untuk tak menyakitkan.
Jantung Aster terasa digenggam kasar.
Tangan kirinya mencengkeram tali tas kuat-kuat. Kepalanya tertunduk. Tapi dadanya... bergetar. Ada rasa tertikam yang tak bisa diredam. Luka yang belum sempat sembuh malah dicungkil lagi.
Dan saat itu juga— seolah kekuatan dalam dirinya memberontak.
Seiring dengan menjauhnya mereka, pandangan Aster makin mengabur. Beriringan dengan sakit menyiksa yang tiba-tiba menghantam tanpa jeda.
"Perlu di kejar Mas?" Tomi masih menawarkan.
Namun begitu menoleh, Aster sudah terlihat meringis. Napasnya putus-putus. Rautnya sudah tak tertolong. Rasa sakit itu tak bisa disembunyikan.
"Akh..." erangnya lirih.
Jantungnya berdenyut aneh. Perih. Bukan hanya sakit emosional— tapi fisiknya ikut rusak. Dadanya mulai bak diperas bahkan dihantam benda tajam. Menyakitkan.
uhuk
uhuk
uhuk...
Semburan darah segar kembali membuat Tomi panik bukan main.
"Mas..." Dengan tangan bergetar, Tomi mengambil beberapa lembar tisu. Meski muntahan darah Aster malah makin tak tertahan. Kali ini pandangan mulai hilang timbul. Kesadaran mulai menipis.
Tuhan... mati aja...
Aster~
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
