.
.
.
.
.
Brukkkk..
Bayu langsung berlari menangkap Gio yang malah melayang tak sadarkan diri setelah menatap mata biru milik Aster.
"Ngapain lu?!" Tanyanya karena Aster tiba-tiba membuat Gio pingsan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Bayu, Aster lebih memilih menggotong Gio dan membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Ada apa si?" Bayu makin khawatir.
Aster meraih ponsel yang tadi terlepas dari genggaman tangan Gio. Dan benar. Aster sekilas melihatnya tadi. Jika Gio pergi, dia hanya akan habis memukuli calon suami Leyli dan berakhir di penjara. Karena itu dia terpaksa menghapus sedikit memori Gio.
Meski sebenarnya menghapus atau menghipnotis orang seperti ini butuh energi banyak, tapi tak masalah jika itu untuk teman-temannya. Bukankah selama ini Aster memang selalu hidup untuk orang lain?
Aster memperlihatkan chat Leyli pada Bayu yang memang meminta Gio datang ke sebuah tempat.
"Dia mau nikah. Sekarang lagi sama pacarnya." Jelas Aster singkat.
"Wah.. Gob***lok.." Bayu tak percaya. "Terus kenapa biarin dia pingsan? Kita turun aja!" Ajak Bayu.
"Lu tau sendiri Gio sekuat apa.." Aster kembali duduk sambil menoleh ke arah Gio yang dengan damainya tertidur pulas. Rasanya benar-benar lelah. Energi Aster terkuras habis. Dia butuh makanan manis sekarang.
"Ah.. Bener juga." Bayu tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia bergegas pergi ke dapur.
Meski selalu sweet terhadap wanita, Gio sebenarnya pemarah. Dia mantan atlet tinju. Kalau saja telinganya tidak cidera, mungkin sekarang sudah menjadi atlet dunia karena sejak kecil dia memang dipersiapkan untuk tinju.
Sampai di depan kitchen set sederhana miliknya, Bayu terlihat berpikir sejenak kemudian mencoba mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, Bayu kembali untuk menyodorkan sebungkus cokelat karamel pada Aster. Dia tau betul Aster membutuhkan itu ketika selesai menggunakan kekuatannya.
Sempat melihat wajah Bayu sesaat, Aster tersenyum sebelum benar-benart menerima. Meski begitu, Aster bahkan tidak bisa membuka kemasan cokelat itu dengan benar hingga memerlukan bantuan Bayu lagi untuk membukanya.
"Ter.. Lain kali, sebelum bantu orang lain, pikirin dulu diri Lo sendiri..." Bayu terlihat khawatir selagi membukakan cokelat itu lalu memberikannya kembali.
"Sekarang di Utopia semua orang pasti anggap Lo penjahat, trouble maker, orang yang gak peduli sama orang lain, padahal Lo yang paling depan karena selalu bisa liat apa yang kita gak bisa lihat." Bayu sempat menjeda sejenak kemudian kembali melanjutkan.
"Gak bisa gitu Lo pura-pura gak tau aja? Atau minimal kalau bikin Lo sakit, gak usah urusin lah... Ujung-ujungnya cuma orang-orang sinting yang datang buat manfaatin Lo. Jangan peduli juga kali sama orang-orang di sekitar Lo. Gak usah siksa diri terus-terusan Ter..."
Mendengar ucapan Bayu yang ternyata lebih memperhatikan selama ini, membuat Aster hanya bisa terkekeh pelan. "Gue di kasih kelebihan memangnya buat apa kalau bukan buat bantu orang?" Ungkapnya.
Bayu kembali menatapnya iba.
"Harus begitu memangnya?" Bayu duduk lalu bersandar selagi memikirkan lebih dalam akan hal ini. "Gue kenal lu dari kecil. Dulu Lo asik Ter. Pikiran lu cuma tentang kita. Main apa, main kemana, makan apa,.." Bayu terlihat sedang mengenang masa-masanya bersama Aster.
"Sekarang yang lu pikirin, gimana kalau keluarga gue bangkrut, Lo sibuk bantu klien-klien gila bokap lu, sibuk ngurusin temen-temen lu yang hidupnya rawan, sibuk ngurus perintilan orang lain tanpa peduli diri sendiri. Memangnya kenapa kalau hotel gue bangkrut si Ter? Lu juga bakal baik-baik aja." Tambah Bayu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasia(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
