Bab 46

23 0 0
                                        



***

Suasana sekolah tampak seperti biasa. Koridor dipenuhi langkah-langkah ringan, tawa kecil, dan obrolan ringan para siswa. Namun bagi Lovelyn, segalanya tidak lagi biasa.

Langkahnya pelan saat melewati lorong utama gedung timur. Rambutnya diikat rendah, tak seperti biasanya yang selalu dibiarkan tergerai. Wajahnya tetap cantik, tapi tatapannya... sedikit lebih kosong.

Tak ada seorang pun yang menyapa. Tapi Lovelyn sudah benar-benar terbiasa. Sendirian bukan masalah.

Langkahnya terhenti di depan gedung kolam renang.

Ah...
Lagi...

Aster enggan hilang dalam pikirannya.

Lovelyn masuk kemudian berdiri diam di depan kaca besar yang memantulkan pantulan kolam berair tenang di baliknya. Biru pucat yang kontras dengan warna hatinya sekarang. Dulu, dia pernah duduk di balok start itu... bangku panjang itu... dan tak sengaja tercebur juga pernah.

Senyum yang... sekarang hanya hidup dalam kenangan.

"Ngapain bengong di situ?"

Suara itu datang tiba-tiba.

Lovelyn menoleh. Yuri.

Cewek itu berdiri sambil menyampirkan tas selempangnya ke satu sisi, wajahnya datar, tapi sorot matanya... menyebalkan! Selalu seperti itu. Dan yang terparah, di tangannya kini terselip rokok yang masih mengepul. 

Lovelyn buru-buru mengalihkan pandangan. "Cuma lewat," jawabnya cepat, hampir seperti berbohong.

Yuri mengangguk pelan, lalu berjalan mendekat, menyandarkan tubuh ke dinding yang sama. Mereka diam. Hening. Yang terdengar hanya suara air dari pompa kolam dan langkah-langkah jauh siswa lain. Lovelyn tentu saja heran. Bisa-bisanya dia setenang ini. Biasanya rusuh, bahkan membullynya bersama kumpulan yang lain.

"Dia belum balik?" tanya Yuri.

Lovelyn semakin heran. "Lu tau?"

Yuri melipat tangan sebelum akhirnya kembali menyesap rokok di tangannya. "Siapa di Utopia yang gak tau Aster tiba-tiba ke luar negri?!"

Jleb! Ternyata mereka gak ada yang tau. Kemungkinan ini ulah Bayu dan Gio. Mereka menyembunyikan keadaan Aster pada semua orang. 

"Kalian beneran deket gak sih? Kok lu gak di ajak?" Yuri terlihat penasaran.

"Heh! Yuri?! Sejak kapan sih kita bisa ngombrol santai kayak begini? Heran gue..." Lovelyn enggan menanggapi. Ia kembali melanjutkan langkahnya, berniat meninggalkan Yuri di sana.

"Heh! Siapa di sana!"

Tiba-tiba suara teriakkan menggema di gedung kolam. Pantulannya terdengar lebih mengerikan lagi.

"Bjir! Guru baru!" Yuri terlihat panik. "Pegang dulu pegang..." Yuri menyodorkan rokok itu kemudian kabur secepat kilat. Dan bodohnya, Lovelyn malah menerima uluran Yuri hingga akhirnya tertangkap. Paling tidak, gak basah.

"Ngerokok?!" Tuduh Guru baru itu dengan tegas menunjuk rokok yang masih menyala di tangan Lovelyn.

"Engga Pak — tadi...." Ah... Jelaskan apa memangnya? Akan kah guru itu percaya?

Lovelyn menunduk cepat, mencoba membuang rokok itu ke lantai dan menginjaknya diam-diam. Tapi semuanya sudah terlambat. Asap yang masih mengepul jadi bukti paling kuat.

Guru itu berjalan cepat mendekat, jas panjangnya berkibar dan wajahnya... asing. Wajah yang belum pernah Lovelyn lihat sebelumnya. Tapi dari sikap dan caranya menatap, bisa ditebak ini bukan guru biasa.

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang