.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sore itu, Aster terdiam di hadapan gundukkan tanah merah dengan taburan bunga yang hampir menutupi seluruh tanah seukuran satu kali dua meter itu. Tertulis disana alm Gunawan Aritmaja beserta tanggal lahir dan tanggal dia wafat kemarin.
Cukup lama Aster memandangi kuburan baru itu tanpa bergerak sama sekali. Entah pikirannya ada dimana, namun sepertinya dia sedang mempertimbangkan banyak hal kala itu.
Gio, Bayu dan Tomi benar-benar menyerah dan memilih untuk memberi Aster ruang untuk sekedar berduaan dengan jasad yang sudah terkubur itu. Entah mereka mungkin percaya jika Aster mungkin saja bisa berkomunikasi dengan arwah yang biasanya belum naik ke atas dalam waktu tertentu. Bisa saja kan? Dan lagi, Aster pun sepertinya tak bisa dicegah atau sekedar diajak pulang ketika sudah seperti itu.
"Bisa bujuk lagi Mas biar pulang? Kayaknya sebentar lagi hujan," Kali ini Tomi yang khawatir. Dari kejauhan dia terus memperhatikan Aster yang sejak tadi tidak bergerak dari tempatnya sama sekali.
"Gue udah bolak-balik dua kali Tom! Lu aja sana!" Gio malah balik marah sebab kedua percobaannya tadi pun sama sekali tidak membuahkan hasil. Aster bahkan tidak menjawab ajakannya. "Lu coba Yu!" Gio kembali melemparkannya pada Bayu. Namun mereka berdua malah terdiam tak ada yang berani.
"Mbah Gun kayaknya lagi diskusi dulu sama dia." Ungkap Bayu yang hanya berakhir menjadi angin lalu seolah mereka semua setuju.
"Penasaran gue." Gio meneruskan.
"Bentar lagi hujan.." Tomi lebih mengkhawatirkan cuaca. Tambah lagi, tak ada tanda-tanda Aster akan bangkit. Apa turun saja? Tomi pun mempertimbangkan.
Ah..
Akhirnya..
Angin segar seketika berhembus ketika Aster mulai bangkit, lalu tanpa berlama-lama kembali berjalan ke arah mereka. Tomi tentu saja lega. Mereka bahkan bergegas masuk ke dalam mobil seolah memang sudah menunggu saat-saat itu.
Aster masih diam dengan wajah dingin seperti biasa. Tak ada sepatah katapun bahkan ketika mereka semua sudah masuk ke dalam mobil.
Sempat canggung, namun kedipan mata Bayu di samping Tomi yang seolah mengisyaratkan untuk segera melaju di terima dengan baik. Gio pun tak berani bertanya atau bahkan bergerak di samping Aster. Semua terdiam bahkan setelah mobil bergerak beberapa meter dari sana.
"Ke rumah gue!" Ungkap Aster tiba-tiba memecah keheningan. Semua melihat kearahnya dan sedikit merasa aneh. Meski begitu, tak ada diantara mereka yang berani menjawab. Dan lagi, itu bukan tawaran. Mereka hanya harus setuju.
"Yah.. Dimana?" Ditengah keheningan, Aster ternyata menelepon sang Ayah. Dia terlihat serius kali ini. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tak ada yang tau.
"Tunggu.. Aku di jalan." Pangkasnya yang kemudian memutus sambungan telepon itu dan kembali terdiam memandangi jalanan di sampingnya.
Gio dan Bayu yang saling pandang sekilas hanya bisa menggeleng tanpa bisa menebak apa yang kira-kira sedang Aster pikirkan.
~
Sampai di rumahnya, Erlangga ternyata sedang menunggu di meja makan dengan makanan lengkap yang sepertinya sengaja dia siapkan untuk menyambut kepulangan mereka.
"Makan dulu nak.. Yo! Duduk!" Erlangga langsung menyambut. Hanya Tomi yang langsung kembali ke luar setelah memastikan Aster duduk di meja makan. Gio dan Bayu tentu tak bisa menolak ajakan Erlangga dan hanya bisa menurut saja.
"Yah.." Aster sepertinya hendak mengungkapkan sesuatu namun Erlangga segera memotong.
"Makan dulu.." Pintanya kali ini dengan lembut.
"Gak Yah!" Namun seketika suasana menegang ketika Aster ternyata menolak dengan suara yang mengeras.
"Kenapa?" Tanya Erlangga yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk segera makan. "Ayah tau.. Maaf.."
Jantung Aster seketika berdegup mendengar permintaan maaf yang tiba-tiba dari sang ayah. Tak seperti biasanya memang.
"Harusnya Ayah ngasih tau kamu kemarin. Tapi ada banyak orang di sana. Jadi ayah kasih tau kamu sehari setelah Mbah meninggal.."
Ah..
Ternyata permintaan maafnya karena ini. Padahal Aster memikirkan hal yang lebih parah dari ini. Entah apa, namun dia lebih penasaran pada kata-kata terakhir Mbah Gun yang memintanya harus maafkan semua orang. Sampai sekarang Aster tak menemukan jawaban apapun.
"Aku ketemu Mbah Gun.." Ungkap Aster yang kemudian membuat ketiga orang itu mengerjap.
"Dia bilang apa?" Erlangga langsung percaya dan penasaran. Apalagi ketika dia melihat mata Aster berubah biru ketika datang tadi. Artinya Aster baru saja memakai kekuatan gaib itu.
Sebelum menjawab, Aster memperhatikan satu persatu sorot mata mereka memastikan semua orang percaya.
"Soal kekuatan biru, bukan darah emas yang membuatnya hilang.." Ungkap Aster.
"Terus apa?" Gio juga penasaran.
"Mbah Gun bilang, kekuatan itu akan terkikis habis sebab terlalu sering di gunakan. Dia bilang, kekuatan itu bahkan perlahan mengikis habis nyawaku perlahan.." Lanjutnya yang kemudian membuat Erlangga terlihat syok. Ketiganya terdiam kebingungan. Aster bisa pastikan mereka percaya sepenuhnya.
Padahal, ini hanya bualan Aster supaya bisa mendapatkan alasan untuk bersama Lovelyn tanpa hambatan apapun. Seperti Mbah Gun dulu ketika mempersatukan pasangan suami istri yang selingkuh.
"Lu yakin bukan karena Lovelyn?" Bayu kali ini tak mau gegabah dengan langsung percaya.
".. Lu inget pas kita pulang dari padepokan Mbah Gun waktu itu?" Aster mengingatkan kembali. "Di sana ada Lovelyn?" Tanya Aster.
"Gak ada.." Bayu menjawab dan sepertinya kembali berpikir lebih dalam.
"Kalau bener gara-gara Lovelyn, rasa sakit gue harusnya ketika ada dia." Aster berusaha kembali meyakinkan semua orang agar percaya.
"Terus penjelasan soal lu yang gak bisa pake kekuatan lu buat dia itu apa?" Tanya Bayu lagi.
Aster terdiam. Dia tak memperkirakan Bayu akan bertanya lebih kritis dari biasanya. Bukankah seharusnya dia percaya saja?
"Mungkin karena gue suka Lovelyn?" Ungkap Aster mengira-ngira. "Yang pasti Mbah Gun gak jelasin soal itu. Dia cuma bilang, kekuatan ini yang ternyata nyiksa gue." Aster memilih jawaban aman. Setidaknya mereka tak akan bertanya lagi jika begini kan?
"Kalau yang bilang Mbah Gun, artinya itu benar." Ungkap Erlangga yang terlihat benar-benar percaya. Bagus. Aster bisa lega meski hanya Ayahnya saja yang percaya. Dia tak membutuhkan orang lain.
"Yu! Yo! Kalian jaga Aster mulai dari sekarang! Jangan biarin dia pake kekuatan itu lagi." Titah Erlangga. "Ayah coba cari cara buat hilangkan kekuatan itu. Kamu tenang aja." Kali ini Erlangga menepuk bahu Aster dengan yakin.
"Tapi klien kita gimana Yah?" Tanya Aster.
"Gak usah di pikirin. Sudah saatnya kamu berhenti berhubungan dengan dunia mistis. Ayah sudah punya bisnis yang cukup untuk menjamin kehidupan kamu. Kita lupakan bisnis gelap kita." Erlangga sepertinya sudah memutuskan. Semua orang terlihat setuju. Lagipula, sudah sejak lama Aster ingin keluar dari bisnis ini. Setidaknya kebohongan Aster kali ini berdampak baik.
Dan lagi, Lovelyn..
Kalaupun aku harus mati hanya karena memilih bersamamu, bisakah kamu hitung itu sebagai pengorbanan cinta yang tak akan ada siapapun yang bisa menandingi? Aku ingin diingat sebagai orang yang istimewa. Entah itu selama bersamamu, atau pun setelah kita tak lagi bisa bersama..
Aster~
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aster (End)
Fantasi(FOLLOW DULU ATUH, BIAR SAMA-SAMA ENAK YE_KAN..) CERITA INI MENGANDUNG KETIDAKJELASAN, KEGABUTAN, KEHOREAMAN, KEGILAAN, KESIN**TINGAN, KEJENUHAN, KEBISINGAN, KEHENINGAN SEMUANYA POKONAMAH.. JADI JANGAN TERLALU BEREKSPEKTASI TINGGI.. BISI KECOA.. ~ ...
