Bab 47

32 2 0
                                        

****


Aster masih menggenggam tangan Lovelyn menuju parkiran. Dalam otak Aster, tak ada tempat yang aman di Utopia sekarang. Dia harus segera membawa Lovelyn pergi dari sana.

"Masuk," ujar Aster begitu mereka tiba di mobil tua milik Gio yang diparkir tepat di depan gerbang. Bayu sudah ada di kursi kemudi, dan Gio tengah membuka pintu belakang dari dalam. Wajah mereka kusut, tak banyak bicara. Kemungkinan sudah ada informasi tentang Agam sebelumnya.

Lovelyn masuk lebih dulu, duduk di tengah, diapit Aster dan Gio. Tangannya masih digenggam erat, meski ia mulai merasa sedikit lega.

"Yu, padepokan." ucap Aster cepat sambil menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang mengikuti mereka.

"Siap..." Bayu mengangguk, langsung menyalakan mesin dan melaju pelan keluar dari area parkir.

Mobil meluncur meninggalkan kompleks Utopia.

Setelah beberapa menit keheningan, Gio akhirnya bertanya dengan nada rendah, "Dia masih di cegal kan?"

Aster mengangguk. "Disana, gak ada yang berani nerima dia lagi. Meskipun Mbah Gun udah gak ada. Tapi sayangnya, Dia tahu tentang darah emas Lovelyn. Entah darimana..." Sekilas ada rasa ingin mempertanyakan, namun Aster kembali menelannya. Ia masih percaya pada kedua orang ini.

"Bentar..." Lovelyn mulai bersuara. "Gak ada yang mau jelasin gitu? Gue gak ngerti sumpah!... Kenapa juga kalian tiba-tiba dateng? Kamu tau dari mana aku di sekolah ketemu sama orang aneh? Dia siapa? Cuma guru barukan?" 

Meski bertanya pada semuanya, Lovelyn tetap hanya ingin mendengarkan penjelasan Aster yang sudah beberapa hari ini bahkan tak memberinya kabar sama sekali. Kali ini lebih halus, lebih lembut. Hingga membuat Aster pun ingin melakukan hal yang sama.

Padahal, seharusnya marah dulu karena memintanya pulang waktu itu. Meski Lovelyn tau Aster hanya melindunginya dari Erlangga, tapi tetap saja. Di suruh pulang sendirian malam-malam itu bikin dongkol.

"Kalau ketemu lagi sama dia pergi aja."

"Kenapa?"

"Pokoknya pergi. Dia bahaya... Aku bisa ngerasain kamu dalam bahaya..." Aster menggenggam lebih erat tangan Lovelyn bahkan menempelkanya di dada. Netra mereka bertaut semakin dalam dan dalam lagi.

Ekhm..
Uhuk
Uhuk...

Bayu dan Gio saling bersahutan. Mereka merasa jadi nyamuk sekarang.

"Jawab yang bener!" Alih-alih merona malu atau salting, Lovelyn malah melotot. Menuntut jawaban yang lebih pasti.

"—Bayu dapet kabar kalau Agam jadi guru di Utopia... Pasti ad yang dia incar. Dia pernah punya masalah sama Ayah... Dan aku..." Aster buru-buru menjawab. Padahal ia berharap Lovelyn sendikit romantis. "Tapi aku benaran bisa ngerasain Lyn..." Tak terima, Aster masih bersikeras.

"Terus maksud guru baru itu kalau darahku bisa dia manfaatkan gimana caranya?" Masih juga soal pertanyaan. Aster mulai merenggut sebab pertemuannya tak sesuai harapan.

"Setelah dia keluar dari rumah sakit, kita ke padepokan. Berhari-hari cari petunjuk soal gen istimewa kalian— setelah tiga hari, akhirnya murid Mbah Gun nemuin catatan kecil yang bahkan hampir gak kebaca..." Kali ini Bayu yang menjawab. Aster makin merenggut tak suka. Namun tak ada yang bisa ia lakukan. Kali ini ia membiarkan Lovelyn tau dulu.

"—tertulis disana, gen emas adalah gen penyembuh. Penyerap semua kekuatan. Termasuk kekuatan biru yang Aster punya. Agam mungkin manfaatin lo buat penyembuhan." Bayu melanjutkan.

"Itu sebabnya kamu kesakitan? Aku hapus kekuatan kamu?" Lovelyn kembali menoleh ke arah Aster. Mempertanyakan dengan sedih dan sesal.

"Sekarang gak papa... Aku gak sakit..." Jawab Aster dengan senyuman yang merekah sempurna.

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang