Bab 41

22 0 0
                                        

.
.
.
.
.

"Igggh ..!!" Sempat berdebar sepersekian detik, namun Lovelyn menolak terlena. Dia akhirnya melerai pelukan itu dan kembali fokus pada tujuan awalnya menemui Aster.

"Jelasin gak!" Ucap Lovelyn setengah mengancam. Oke kalau mengingat tentang hubungannya dengan Aster yang sejak awal memang tak ada kejelasan.

Tapi bukankah Lovelyn juga berhak untuk tau apa yang membuatnya seolah dikeluarkan dari sekolah dengan cara yang tak pantas begini? Hanya karena dia punya golongan darah istimewa? Ah yang benar saja.

Mendapat tatapan seperti itu, Aster malah terlihat kebingungan. Matanya mulai memerah saking merasa tertekan. Memangnya apa yang harus dijelaskan? Dia harus bilang jika keberadaan Lovelyn di sini akan membunuhnya?

"Gue kayaknya najis banget yah? Gue sampai dikeluarin dari sekolah gara-gara golongan darah? Dan bahkan mereka kayak ngelindungin lu banget dari gue. Apa sih? Darah gue bahaya buat lu?" Tentu saja Lovelyn sudah sampai pada kesimpulan ini.

"Kalau gue bilang, salah satu dari kita bakal mati kalau terus menerus bersama kayak gini, lu percaya?" Ungkap Aster.

Lovelyn tertegun. Ternyata benar. Dia mulai mundur. Namun Aster malah terlihat enggan bahkan menyesal karena mengatakan hal itu.

"Ah.. Kalau kalian jelasin gue gak bakal senekad ini.." Mata Lovelyn mulai memanas. Ingatannya mulai merayap kemana-mana. Ternyata dirinya yang pernah merasa terus menyakiti Aster benar-benar nyata. Tau gini, dia tak akan mungkin mau mengenalnya lebih dalam. Bahkan tak seharusnya mereka bertemu. "Gue pergi.." Sudah seharusnya.

Gep..

Lagi. Aster memeluk Lovelyn lagi dari belakang. Kali ini benar-benar dilema. Entah seharusnya bagaimana, Aster pun tak tau. Hanya saja, tubuhnya tak bisa berbohong seolah bergerak dengan sendirinya.

"Tapi gue gak bisa Lyn.." Pelukan itu makin erat. Aster bahkan berkata lirih sambil menenggelamkan wajahnya lebih dalam di ceruk leher Lovelyn. Dan itu basah. Lovelyn bisa merasakannya. Hangat. Bisa dipastikan Aster menangis saat itu.

"Ter.." Lovelyn kembali berusaha melerai pelukan itu meski sedikit kesulitan. "Kita belum lama ini kenal.. Harusnya gak sulit buat fokus aja sama kehidupan masing-masing." Lovelyn memberi jarak seolah sudah menetapkannya.

"Lu takut mati Lyn?" Tanya Aster yang kini jelas terlihat mata merah juga linangan air mata yang membuat wajahnya basah.

".. Gue takut Lu mati..." Jawab Lovelyn yakin. Hatinya teriris. Entah mengapa begitu perih.

Dan tentu saja jawaban itu makin membuat Aster hancur lebih parah. Bahkan Lovelyn tidak memikirkan dirinya dalam keadaan ini. Lalu apa sikap Aster sekarang pantas mengingat ternyata Lovelyn lebih menghawatirkan dirinya.

"Lyn.." Aster kembali mendekat kemudian meraih tangan Lovelyn lembut.

"Ter.." Lovelyn menolak halus meski lagi-lagi digenggamnya tanpa bisa menghindar.

"Gue gak papa.." Meski mengatakan itu, mata Aster entah mengapa kian membanjir. Dalam hati sedang protes besar. Kenapa harus Lovelyn?

"Tapi gue enggak!" Kali ini Lovelyn sedikit berteriak. "Lu pikir gue bakal nyaman ketika tau keberadaan gue nyakitin lu bahkan bisa bikin lu mati? Gila aja lu!" Lovelyn mulai memahaminya sekarang.

Semua hal yang tidak masuk akal ini begitu ia percaya karena memang semenjak bertemu Aster, ada banyak hal tak masuk akal yang mau tak mau harus ia yakini.

"Tapi gue gak bisa jauh dari lu.." Aster kian lirih.

"Kemarin bisa! Jangan lebay deh lu! Kalau gue tau lebih awal gue juga gak bakalan ke sini. Udah deh.. Jangan nangis! Kayak cewek lu!" Lovelyn makin berteriak meski dirinya pun nyatanya masih tak kuasa menahan tangis bahkan ketika mengatakan semua itu. Ucapan itu seolah berlawanan dengan nuraninya sendiri. Lovelyn pun sama tersiksanya.

Drrrt
Drrrt
Drrrt

"Angkat!" Getaran ponsel di saku Aster terdengar oleh Lovelyn. Tak bisa apa-apa, Aster pun melihatnya berniat menjawab. Ternyata itu Gio.

"Hmm?" Jawab Aster.

"Kenapa di kunci sih? Ngapain lu di dalem?!" Tanya Gio dan keduanya baru sadar ternyata sejak tadi pintu itu terlihat ada yang berusaha membuka. Mereka tidak mendengar apapun saking fokusnya pada perasaan masing-masing.

"Gio?" Lovelyn berbisik dan berubah panik. Mereka pasti akan menggusur Lovelyn menjauh dari Aster jika ketahuan.

"Lagi butuh privasi! Jangan ganggu! Sana lu!" Ungkap Aster karena memang masih merasa belum cukup membahas ini bersama Lovelyn.

"Mbah Gun meninggal Ter.." Gio tak lagi bisa menunda-nunda. Kalau bertele-tele mungkin Aster malah memutus sambungan telepon itu.

"Hah?" Tak percaya dengan apa yang dia dengar, Aster mencoba kembali memastikan.

"Mbah Gun Ter.." Ulang Gio yang terdengar sedikit berdebat bersama orang lain di seberang sana. Mungkin itu Bayu yang memintanya untuk menyampaikan kabar ini perlahan.

"Katanya dia meninggal di kamarnya semalam.. " Sambungnya lagi meski kini terdengar ragu. Gio pun khawatir pada Aster sekarang. Entah bagaimana reaksinya mendengar ini. Apalagi dia sedang mengurung diri begini.

Aster masih mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Lovelyn yang melihatnya perlahan mendekat. Ucapan Gio di ponsel itu samar-samar terdengar. Dan tentu kabar itu jelas membuat Aster terguncang.

Tut..

Beberapa saat saling pandang dengan Lovelyn, Aster akhirnya memutuskan sambungan telepon itu dengan raut yang tak bisa dijelaskan.

"Gue pergi dulu.." Aster masih terlihat syok sebenarnya. Namun dia ingin memastikan kabar dari Gio dengan pergi ke padepokan untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri. "Lo tunggu di sini. Setelah gue pergi, lu pulang. Gue cari lu lagi nanti.." Aster sepertinya sudah memikirkannya dengan pasti.

Tau begini, sebelum Mbah Gun meninggal, bukankah seharusnya Aster mempertanyakan apa-apa yang dia tau tentang kekuatan yang dia miliki? Selama ini dia bersikap seolah tau segalanya. Namun Aster tak terlalu banyak mempertanyakan. Dan sekarang dia malah pergi begitu saja tanpa kejelasan? Lalu pada siapa Aster bisa bertanya lagi?

"Ter.." Lovelyn menahan ketika Aster hendak kembali melangkah menuju pintu.

"Hm?"

"Kita gak usah ketemu lagi.." Ungkap Lovelyn.

"Gak gitu Lyn!" Aster kembali kesal meski dalam otaknya sangat kacau sekarang. Ucapan Lovelyn malah memperparah saja.

"Orang yang meninggal itu siapa? Dia yang ngasih tau lu kalau kita gak bisa sama-sama?" Tanya Lovelyn.

"..? Dia gak pernah bilang begitu.." Ah.. Benar juga. Mbah Gun hanya terkekeh ketika membahas soal Aster yang sedang jatuh cinta waktu itu. Aster pun baru ingat hal ini. "Dia gak pernah bilang kalau gue bakal mati gara-gara ini.." Aster kembali berceloteh sambil berpikir lebih dalam. "Dia cuma minta gue bertahan.. Dia bilang gue kuat.. Dan minta gue buat maafin semua orang.." Lagi-lagi ingatan itu makin membuat Aster seolah mendapat angin segar. Apa mungkin prasangkanya selama ini tentang darah emas tak seburuk itu?

"Lyn.. Gue cari Mbah Gun dulu. Gue janji, pulang dari sana gue cari lu lagi. Lu jangan kemana-mana. Tunggu gue Lyn. Ya?" Aster setengah memohon. Ia merengkuh kedua bahu Lovelyn seolah benar-benar mendapat jawaban baru yang tinggal dipastikan kebenarannya saja.

Gep..

"Gue bakal cari cara Lyn... Tunggu gue..." Ungkap Aster sambil mendekap erat tubuh kecil Lovelyn.

"Ya?" Aster kembali mempertanyakan dengan tatapan penuh harap. "Denger gue gak!" Dia bahkan berteriak ketika Lovelyn sejak tadi tidak juga menjawab.

"Mm.." Lovelyn hanya bisa mengangguk mengiyakan. Ragu. Dalam hati mempertanyakan. Bisakah?

.
.
.
.
.

Aster (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang